Displaying 1 - 10 of 42 entries.

INI GAYA SKRIPSIKU, SKRIPSIMU?

  • Posted on April 4, 2014 at 12:40 am

Jika diibaratkan dengan perjalanan, mungkin bisa dibilang perjalananku bersama kekasihku ini baru sebatas menggunakan sampan, yg perlu didayung…dayung demi dayung..kompas mengandalkan bintang, layar belum terkembang, blm tersentuh teknologi sama sekali. Bulan ini coba langkah baru, minimal pakai kompas.

#IniGayaSkripsiku,Skripsimu

Selamat malam dunia.

Mencoba mengawali tulisan ini dengan harapan baik, bahwa saya ingin menumpahkan segala yang terjadi pada diri saya selama beberapa bulan ini. Hingga mengakibatkan seolah-olah blog ini mati suri. Ini hanya majas saja, jangan dipikir berlebihan ya. Please, Help me to get a better Life.

Ada apa sebenarnya dengan diri saya?

Mungkin tulisan di awal artikel ini sudah mewakili beberapa yang terjadi.

Saya mulai darimana ya baiknya? Mencoba merecover lagi…About fitofarmaka first, okay?

Alasan pertama saya berhenti menulis adalah ketakutan saya terhadap dunia yang saya masuki ini, farmasi bahan alam. Kenapa? Farmasi Bahan Alam yang dikenal sebagai ilmunya pengobatan menggunakan ramuan bahan alam, tanaman-tanaman obat tradisional, dan bahkan dikenal dengan keyakinan yang ‘mistis’ di masyarakat. Maksudnya apa? Ini dari persepsi saya ya, ramuan-ramuan bahan alam ini sangat dekat dengan jampi-jampian, mbah dukun , dan terapi alternatif yang lainnya. Mungkin ini alasan yang agak lucu bagi sebagian orang, #akurapopo. Mungkin pilihan apakah saya akan tetap mendalami dunia ini atau tidak, kita pikirkan nanti saja lah, setelah lulus kuliah atau setidaknya setelah sidang terbuka. Aamiin ya Rabb, semoga masih diberi umur sampai sidang terbuka yang rencananya masih menggantung.

Alasan kedua saya berhenti menulis adalah ketakutan saya akan dampak dari apa yang saya tulis. Dan saya pun ingin lebih hati-hati dalam menulis. Sering terngiang-ngiang dalam benak saya tentang satu kata ini, AIB AIB AIB. Tentang apa yang sebaiknya kita ceritakan, dan apa yang sebaiknya tidak kita ceritakan. Saya pun tersadar bahwa tulisan-tulisan saya sebelumnya memang adalah kepalsuan, #tipu daya malam (entah siapa orang yang sengaja meng-hack blog saya ini.). Saya sadar sepertinya saya menjadi orang yang munafik, dimana saya menuliskan sesuatu yang tidak saya lakukan. Bukankah fungsi blog adalah untuk menceritakan pengalaman kita sehari-hari?

Namun, ada juga yang menuliskan harapan dan mimpi nya di blog,

tetapi kayaknya itu mimpi mereka yang sudah terwujud, setidaknya itu sesuatu yang membanggakan, kan?

Saya tidak mau jadi orang munafik, yang berkata berdusta, berjanji mengingkari, dan diberi amanah malah berkhianat. (Ampuni dosa-dosa hamba Ya Rabb)

Keadilan dalam menulis dan kebiijakan dalam menulis, itu mungkin bisa jadi salah satu parameter kedewasaan kita. Omma, Am I growth up? Memilah-milah tulisan yang sebaiknya kita tulis dan kita bagikan ke orang lain dan sebaiknya tidak, melihat manfaat dan mudharat nya. Terlebih ketika blog ini dikunjungi, seberapa banyak waktu orang yang terbuang untuk membacanya. Bukankah itu menjadi tabungan dosa untuk saya,di dunia maupun akhirat? Oh, maaf. Saya ingin mengisi tabungan pahala, bukan tabungan dosa. Tidak ingin rasanya di hari pembalasan nanti, tangan ini bersaksi bahwa selama di dunia dia digunakan untuk menuliskan dan menceritakan kebohongan, bukan malah sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, misalkan untuk mengikat ilmu ataupun untuk berbagi informasi. Begitu pula dengan mata. Tidak ingin nantinya mata ini bersaksi bahwa selama di dunia, dia hanya menatap layar notebook selama berjam-jam. Ah, sudah adilkah kita dengan tubuh ini? Ya, mungkin memang benar jika prinsip hidup saya bahwa HIDUP ADALAH PILIHAN. Pilihan untuk menulis juga termasuk di dalamnya.

Nah, terkait dengan tema malam ini,

Saya ingin berbagi sedikit tentang dunia yang saya geluti di tahun keempat ini, tahunnya skripsi. Yaaa, skripsi. Perlu didoktrin berapa kali agar kata ini masuk di kepala? SKRIPSI SKRIPSI SKRIPSI….

Hampir 6 bulan bergelut dengan proposal skripsi dan segala keribetan di dalamnya, saya menemukan satu kelemahan, yaitu daya serap membaca, menghafal, dan mengingat saya mulai melemah. Kenapa kah gerangan? Tidak tahu juga, akhir-akhir ini atau hampir selama beberapa bulan ini, kemampuan memahami bacaan atau mengingat apa yang saya baca mulai berkurang. Terlebih untuk penulisan skripsi. Bisa dibayangkan betapa fatalnya jika kemampuan ini menurun? Terlebih ini untuk hal yang sepele tapi penting yaitu mengingat-ingat aturan penulisan skripsi yang begitu banyaknya. Sebenarnya pihak akademik sudah dengan amat baik hatinya (Alhamdulillah), memberikan buku panduan warna hijau itu. Tetapi, kalau dipikir-pikir, apakah setiap menulis harus mengingat-ingat dan membuka tutup buku itu? Ah, terasa membuang waktu kan? (Hello, nulis blog ini aja udah buang waktu ga sih? #plak)

Sehingga, menuruti nasehat dosen pembimbing saya yang amat teliti dan baik hatinya (saya salut dengan beliau), saya membaca buku ini sampai tuntas, saya warnai dengan tinta stabilo yang mempertajam dan membuat buku itu lebih berwarna. Begitu mencoba menulis, Lupa-lupa ingat lagi. Buka bukunya lagi. Sangat tidak efisien. Nah, bercermin dari pengalaman itulah, saya pun mencoba membuat satu cara untuk memudahkan daya ingat saya, yaitu sebuah CHECK LIST. Fungsinya untuk mengecek apakah tulisannya sudah sesuai pedoman skripsi atau tidak. Mungkin beberapa redaksi katanya ada yang saya ubah, mengingat ukuran kertas dan mempercepat pengkoreksian. Semoga cara ini bisa membuat ‘perjalanan skripsi’ saya tidak lagi menggunakan sampan dayung, akan tetapi naik sedikitlah, minimal sampan berlayar. Sekian tulisan malam ini. Semoga membantu saya lebih baik. Ah, lega rasanya bisa meluapkan tulisan lagi. Ini bukan aib kan?

Oh iya, bagi siapapun yang berminat ikutan cara ini, boleh lho. Tapi perlu dipastikan dulu apakah sama aturan penulisan skripsinya dengan fakultas saya, karena saya kuliah di farmasi UGM. Siapa tahu ada beberapa hal yang berbeda? Ayo berlatih lebih teliti dan cermat. \(^v^)/

Berikut format CHECK LIST SAYA. #INI_GAYA_SKRIPSIKU,SKRIPSIMU?

If It’s not RIGHT, Fix IT and MAKE IT!!!!

BAB                                        :

Tanggal Pengecekan       :

Tanggal Penyerahan       :

 

No

Important Things

Check List

 PENULISAN

 
1. Huruf yang dipakai TNR 12 spasi 2 untuk teks.  
2. Batas kertas standar untuk A4 (TLBR = 4,4,3,3)  
3. Pengetikan dari batas kiri hingga kanan (TIDAK BOLEH space yang terbuang)  
4. Alenia baru ditulis pada ketikan ke-6  
5. Say NO untuk angka di awal kalimat.  
6. Judul (BAB I, II,……) di bagian CENTERED simetris dan dicetak TEBAL (TNR 12,spasi 2, KAPITAL)  
7. sub judul (A. …., B….., dst) di bagian CENTERED simetris, cetak TEBAL (TNR 12, spasi 2, kapital @ awal kata)  
8. Kalimat pertama dari sub judul dimulai di alenia baru  
9. Anak  sub judul (1. …, 2. ….., dst) dari batas tepi kiri dan dicetak TEBAL (TNR 12, spasi 2, kapital di awal huruf)  
10. Tulislah kalimat pertama di alenia baru.  
11. Penulisan sub anak sub judul (a. ……, b. ….., dst) dimulai dari ketikan ke-6,dan diakhiri titik & ­U.  
n12. Kalimat pertama diketik ke belakang (posisi kalimat segaris sub anak sub judul)  
13. Urutan penomoran skripsi ( I, A, 1., a., 1)., a)., (1)., (a).  
14. Ikuti aturan penulisan nama latin ilmiah tanaman dan hewan. (cetak miring /garis bawah)  
15. Penggunaan istilah asing harus menggunakan huruf italic (I)  
16. Penomoran awal BAB di tengah bawah, halaman selanjutnya kanan atas  
17. Ceklah proporsional kalimat dari masing-masing sub judul . Sudah adil kah dalam menulis?  
18. Sudahkah Tulisan dalam teks skripsi menggunakan kalimat pasif?  
19. Sudahkah dihindari pemakaian kata sehingga, sedang, di, ke, drpd di awal?  

GAMBAR DAN TABEL

 
1. Posisi tabel dan gambar berada di centered position pengetikan.  
2. Penamaan tabel di atas tabel (Angka Romawi), TNR 10, spasi 1 dan dicetak tebal.  
3. Penamaan gambar di bawah gambar (Angka Arab), TNR 10, spasi 1 dan dicetak tebal.  
4. Tulislah keterangan gambar di bawah judulnya (TNR 10, spasi 1).  
5. Pastikan setiap gambar dan tabel ada keterangan dalam teks.  

DAFTAR PUSTAKA

 
1. Sudahkah dipastikan setiap akhir teks terdapat daftar pustakanya?  
2. Sudah benarkah penulisan dapus nya BUKU (Nama, Tahun, Judul, jilid, nmr hlmn, penerbit, kota terbit).  
3. Sudah benarkah penulisan dapus nya MAJALAH (Nama, Tahun, Judul, Nama majalah singkat dan italic, jilid,nmr terbitan, hlmn).  
4. Dapus untuk anonim diurutkan tahunnya. Untuk skripsi dan tesis ( Nama, Tahun, Judul, Skripsi/Tesis, Universitas, Kota Terbit)  
5. Sudahkah Daftar Pustaka ditulis dengan TNR 12, spasi 1?  

FINAL QUESTION

 
1. Sudah layakkah BAB ini diajukan untuk dikoreksi dosen pembimbing?  

 

Mungkin, untuk episode tulisan berikutnya, saya ingin bercerita tentang sesuatu yang amat dekat di kehidupan yang serba digital, mau tahu apa? Ditunggu saja ya.

Selamat malam semua. May Allah bless Us, Always and Forevermore. 🙂

 

Akhir Pekan

  • Posted on December 7, 2013 at 11:00 am

Ketika Calon Apoteker Berbicara tentang Akhir Pekan

Hmmmm…Sudah memasuki akhir tahun ternyata, sudah lama juga tidak menulis di blogku ini, hihihi
Mungkin ada baiknya untuk akhir pekan, kita gunakan untuk bersantai, bercengkrama bersama keluarga, sahabat, ataupun menikmati selayar tancap film korea yang menjadikan banyak orang bermimpi untuk keluar negeri. Bagaimana denganku? dibilang ingin ya ia, siapa yang tidak ingin berjelajah atau berjunjung keluar negeri.
namun, hari ini, saya bukan berarti ingin berbicara tentang ke luar negeri, tapi saya ingin berbicara tentang perenungan yang selama ini saya rasakan.
Mungkin banyak orang yang menganggap saya bermulut besar dalam blog ini, bercerita tentang mimpi-mimpi yang begitu tinggi, bersikap sok tahu hingga akhirnya, ibarat pepatah mengatakan, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Ah, suara keyboard ku ini seolah mengingatkanku pada mesin tik jaman dulu yang banyak digunakan orang, entah untuk menulis berita, puisi, karya tulis, surat, tugas akhir, betapa jadulnya diri ini.
Teringat juga diriku pada obrolanku dengan seseorang yang baik, insyaAllah, tentang betapa literatur yang lama masih diperlukan. kini kusadar, aku rasa tidak semua yang lama masih dipakai, setidaknya perlu ada pembatasan gitu.
Ingin menangis (lagi).
Sudahlah, pagi-pagi kok sudah menangis, gara-gara film korea nih.huhuhuhu
Berbagai isu yang terjadi belakangan ini kok terasa semakin rumit dan runyam ya? Apa karena gelagat perpolitikan kampus, pemerintahan, yang berdekatan dengan UAS ya..lhooo, apa hubungannya? hehehehe
Lho, niatnya mau berbicara tentang pola hidup sehat, malah jadi ngelantur kemana-mana. apa ini bukti bahwa saya masih labil ya?
Teruntuk kakak-kakak tingkatku yang belum selesai, monggo diselesaikan skripsinya, wisuda menanti, 🙂
Sekian artikel pertama saya di bulan desember ini, Desember Ending, jangan Ending, tapi Desember Wishing….:-)
Mungkin benar juga apa yang dikatakan banyak orang, bahwa ketika dewasa, akan semakin banyak hal-hal yang satu persatu terlupakan, karena itulah kita butuh teman untuk sekedar bercengkrama, berbincang banyak hal, karena itulah gunanya teman, saling mengingatkan.

Serial Kakek dan Cucu -Ketika Kakek Pergi-

  • Posted on December 4, 2013 at 12:23 pm

tuuuut—–tuuuuuut—-tuuut

di ruangan rumah sakit ini, sudah hampir 3 bulan kakek terbaring tak berdaya, mungkin memang sudah waktunya.

Kakek, akankah kau meninggalkanku? Cucumu ini masih saja menangis, tapi dia tidak sendiri kakek.
Kakek, jika memang sudah kehendak Tuhan untuk-Mu pergi, aku ingin ikhlaskan.

Cukupkan asja ya semua ini,
Kakek, aku ingin berhenti.

Semoga tenang di alam sana kakek. We will miss you and make proud for you.

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Bisnis Jamu

  • Posted on October 1, 2013 at 5:53 am

Bismillah,
Assalamu’alaykum, saudara-saudaraku sebangsa setanah air,
salam oktober sakti.hohoho
Kenapa disebut sakti?
Karena bulan Oktober ini ada banyak momen yang bersejarah, sebut saja 1 Oktober yang disebut sebagai Hari Kesaktian. Hayooo, siapa yang lupa? Jangan sekali-kali melupakan sejarah, jasnya jangan ditinggal ya..:)
Tapi, pagi ini saya tidak ingin membicarakan hari kesaktian pancasila, karena kasihan juga pagi-pagi disuruh menyimak pelajaran Pancasila (Hayooo yang kuliah Pagi ini, yang rajin ya, ingat poin kedisiplinan yang ditanamkan pada P2SMB kemarin, itu tidak hanya berlaku selama 4 hari, tapi selama 4 tahun, selama kita kuliah, hingga kita kembali.
Jadi, pagi ini saya akan membicarakan, jengjengjengjeng….
Bisnis Jamu.
Bisnis jamu? Yang terbayang di benak rekan-rekan sekalian pasti adalah bakul jamu gendong yang berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain, atau yang pakai sepeda/motor (lebih modern sedikit), atau depot jamu. Itu sudah biasa terjadi kan dalam bisnis jamu?
Dan hari ini saya ingin berbagi sedikit, karena jujur saya bingung dengan bisnis jamu yang harus dikembangkan, apalagi menghadapi Harmonisasi Asean 2015, jamu harus tetap eksis, kecuali jamu dimaknai lain kemudian. Kita tunggu di kuliah fitoterapi dan etnomedisin saja yaaa….
Bisnis jamu yang lebih modern?
Mungkin kita harus melihat dulu materi Fitoterapi dan Etnomedisin minggu lalu,
dimana kita akan mengenal adanya komprehensif/multidrug theraphy dari jamu, dia efeknya tidak seperti obat sintetik, makanya kalo mau ngembangin fitofarmaka, ini yang jadi permasalahan.
Jadi ingat kuliah Farmakoterapi,
masa lalu tidak usah diputar kembali,
sepertinya kedua unit ini harus didamaikan ya? hihihihi
Berbicara tentang farmakoterapi dan fitoterapi, kita akan mengenal 4T 1W dan 5T. Apa saja gerangan?
5T (Tepat Bahan, Tepat Dosis, Tepat Penggunaan, Tepat Cara Penggunaan, dan Tepat Penggunaan dengan Tujuan Pengobatan) bila kita lihat dan kaji lebih dalam, kita akan menemukan berbagai macam peluang pasar dan bisnis di sana yang bisa dihandle oleh apoteker? Kenapa harus apoteker? karena Apoteker lah yang bisa me-manage hal ini, tapi kita tetap butuh bidang ilmu lain, kan ini bahan Alam, Indonesia pula.hehehe
Dan saya ingin menekankan pada T yang pertama,
Tepat Bahan. Jika dikembangkan menjadi bisnis yang menarik, saya rasa hal ini akan menjadi tren baru bagi anak-anak FBA yang kebetulan banyak yang mengerjakan skripsi tentang bahan Alam, siapa tahu bisa jadi kenang-kenangan untuk dosen pembimbing dan dosen penguji gitu, yang tidak akan lekang oleh waktu. Karena bisa dipajang dan menunjukkan apresiasi dan penghargaan kita kepada beliau-beliau yang telah membimbing kita slama ini.
Mari kita hindari ucapan komdis kita tercinta, “Apresiasi Kalian Rendah !!!!”, okay????

Selamat beraktivitas pagi ini. salam semangat dan salam unyu unyu unyu…

Wassalam. 🙂

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Bintang #1

  • Posted on September 26, 2013 at 9:35 pm

Menjelang dies kampusku, entah kenapa malah diri ini yang ingin berbahagia.
Mungkin karena sudah 3 tahun dan memasuki tahun keempat aku menapaki pembelajaran di kampus ini. Bahagia? Sedih? Suka duka?
Lembar episode demi episode ku bersama kakek (Jika kalian tahu siapa kakek dalam serial kakek dan aku, selamat. Anda ternyata memahami saya.hahahaha..Terima kasih semua)
Teruntuk kampusku,
kau mengenalkanku pada semua orang/ orang-orang ataupun makhluk-makhluk yang mengajakku untuk menjadi seorang pembejalar. Seperti kata kakek, bahwa aku harus memiliki sembilan bintang yang memang akan diberikan di pundakku (semoga),
Dan ada satu bintang yang aku rasa aku dapatkan kali ini, atau setidaknya selama ini,
Bintang pertama dalam farmasi,

Long Life Learner

Tentang menjadi seorang pembelajar,
Mungkin teman-teman sudah sering atau bahkan teramat sering mendengar nasehat ini (mungkin juga diriku),
tentang belajar itu sendiri. Bunyinya seperti ini,
“Hidup untuk Belajar” atau “Belajar untuk Hidup”. Which one do you choose?
Terlebih posisi kita dan saya sendiri sebagai seorang (calon) Apoteker dan (calon) mantan mahasiswa, memaknai belajar itu sendiri rasanya tidak pernah habis di sepanjang hidup kita. Karena itulah belajar, bahwa kehidupan itu sendiri merupakan suatu pembelajaran.
Pembelajaran, disini kita melihat adanya imbuhan pe- dan akhiran -an yang menunjukkan suatu proses. Jadi dalam kehidupan itulah kita belajar (jika aku boleh menyebutnya demikian). Kita tidak dikatakan hidup jika kita tidak belajar.
Bagaimana dengan Hidup untuk Belajar?
Menurutku, itu sah-sah saja karena itu tadi, belajar adalah suatu proses kehidupan. Proses membentuk kehidupan itu sendiri. Hanya terkadang, ada satu hal yang kita lupakan, bahwa
untuk apa kita belajar?
Maksud pertanyaan di atas adalah
Lalu, belajar itu sendiri untuk apa? Aku ingin menekankannya pada tujuannya dari belajar, tapi kenapa susah untuk diungkapkan dalam tulisan ini ya?
Jika kita memilih belajar terus-menerus, lalu belajarmu itu untuk apa? Ini maksudku.
Untuk mencari ilmu? Setelah ilmu didapat lalu apa, toh ilmu tidak perlu dicari pun dia akan tetap ada dan berdiri tegap bak cahaya mentari pagi. Coba kita ingat lagi dalam serial kakek dan aku tentang episode Ilmu yang Terkunci, bahwa ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Yayayayaya, itu benar. Di sini kita akan melihat siapa yang butuh dan siapa yang dibutuhkan. Mungkin anda sudah tahu jawabannya.

Kembali ke pertanyaan kedua,
Setelah ilmu didapat lalu apa? Ingin mengembangkan ilmu? Dibandingkan dengan yang pertama, mungkin jawaban ini lebih baik, setidaknya dalam pencarian (ceileee bahasanya pencarian, nyari apa? Asalkan tidak menjari jarum di semak jerami aja ya..susah, apalagi jarumnya jarum emas. susah bedain warnanya.)

Karena saya orang yang suka bertanya, saya ingin menanyakan satu pertanyaan lagi deh.
Lalu, ilmu dah dikembangkan. Lalu buat apa? Apa tujuan kita mengembangkan ilmu itu? Hmmmm..berat tidak sih pertanyaan ini? I think everyone can answer this simple dificult question.
Mungkin tidak semua orang mendapatkan materi kuliah ini, karena sekali lagi, tidak semua orang suka untuk mempelajarinya. Siapakah gerangan?
Saya ingin mengajak anda semua menelusuri kampus UGM tercinta dan kali ini kita akan bersinggah di kampus yang banyak mengajarkanku tentang nasionalism dan keberagamaan. Sudah tahu kan?
Banyak yang bilang saya orangnya sangat filosofis dan akhir-akhir ini semakin terasa. Mungkin yaaa… Makanya betah di kampus itu untuk belajar tentang filosofi, menelusuri makna dari satu fenomena. Dan satu tetangganya juga aku senangi, tapi tidak akan aku bicarakan sekarang. Someday, maybe? (Jangan sampai karena sering bilang ini, gelar kamu M.M ya? Magister Maybe atau Magister Mungkin.:) )
Dan di sana kita belajar satu tema yang amat menarik, filsafat ilmu. Dan ini kita dapatkan di semester 5. Dan perlu kalian tahu,
ketika saya iseng-iseng datang ke sidang terbuka mbak-mbak S2 tempo lalu, saya mengambil brosur program studi S2 Farmasi UGM. Dan anda tahu apa yang saya dapat?
It’s shocking me like crazy when I realize that topic “Philosophy of Science atau bahasa Indonesia nya Filsafat Ilmu” diberikan untuk anak-anak S2 bro/sist. Nyadar nggak sih lu bro/sist kalo lu-lu pada dianggap anak S2 oleh dosen kita? Atau kita memang dianggap sangat pintar oleh beliau hingga kita bisa melewati masa-masa itu? Dan kita berhasil.hahahahaha…
Maaf ya Pak saya sebut nama Anda di blog saya lagi. Anda sangat menginspirasi saya.
Kembali lagi ke tema tentang filsafat ilmu, bahwa dalam paradigma pengembangan ilmu itu sendiri, ada 3 pokoknya.  Aduh aku lupa dan saya lagi sibuk untuk mencarinya di catatan saya. Mungkin bisa Anda googling atau yahoo-ing.hehehehe
Setidaknya, dalam pengembangan ilmu kita harus ingat ya, adik-adikku,
untuk tahu kepada siapa pengembangan ilmu itu ditujukan, karena disini kita akan melihat seberapa jauh kebermanfaatan dari pengembangan ilmu yang kita lakukan itu. Jangan sampai yang terjadi adalah kesia-siaan, walau kita tahu
Tidak ada yang sia-sia di dunia, tergantung apakah kita melihat dari langit atau bumi. Atau mungkin kita melihatnya dari kacamata kita? eh, kacamata…hihihihi

As my closing statement in this article, I wanna say,
“Happy birthday for my lovely campus, Long life farmasi UGM. Berbagai macam isu menanti untuk diselesaikan cucu-cucu penerusmu, Kek. Semoga aku bisa menjadi cucu yang baik untuk kakek ya. semoga.”

“Hidup untuk Belajar untuk Hidup”

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang ETNIK

  • Posted on September 20, 2013 at 6:54 am

Kemandirian memang suatu tujuan.
Tapi,
Kita juga tidak boleh lupa bahwa dalam kemandirian itu kita membutuhkan perjalanan berupa tahapan-tahapan yang diperlukan untuk mencapai kemandirian itu.

=============================================================================================

Kuliah kamis sore mengingatkanku pada masa-masa beberapa bulan lalu, yang mengantarkanku pada keinginan itu, FITOFARMAKA.

Hmmmmm…Darimana harus memulainya?

Bahwa kebudayaan lokal yang kita miliki bisa jadi adalah modal utama kita guna membangun tujuan tadi, Kemandirian.

Untuk menjadi mandiri, kita harus mau mandiri dahulu kan?
Jika melihat sejarah dulu (maklum, mata kuliahnya akan banyak berbicara tentang sejarah pengobatan di Indonesia. Hayoooo tebak, mata kuliah apakah ini?hehehe..:P ), kita pasti akan menyadari bahwa kita memang sudah mandiri. Sudah buat obat sendiri, diramu sendiri, dikonsumsi sendiri, dan dinikmati sendiri (kalo ini jangan ding, nanti dibilang egois.:) ).

JAMU,

Dalam aplikasi keseharian kita, kita mengenal kata ini. sesuatu yang bisa kita konsumsi, baik untuk mengobati penyakit (kuratif), mencegah penyakit (preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), mempercepat kesembuhan (rehabilitatif), dan mengurangi rasa sakit (paliatif).

Banyaknya aksi yang dimiliki oleh jamu inilah yang bisa menjadi modal bagi JAMU untuk menjadi kebanggaan kau dan aku, yaitu kita semua.
Sehingga muncullah trend yang selama ini berkembang, “TRADMED COMPLEMENTER” yang menempatkan jamu sebagai komplementer pada terapi suatu penyakit.

Yang jadi permasalahan sekarang adalah tren dunia global yang menuntut adanya bukti ilmiah (scientific evidence) dari JAMU.

Bagaimana bisa dia menurunkan tekanan darah,
Bagaimana bisa dia membunuh sel kanker?
Dan yang tidak kalah penting bagi beberapa orang,
Berapa banyak yang berperan? Siapa yang berperan dalam terapi ini?

Lalu,

Muncullah berbagai macam riset-riset ilmiah yang berlomba-lomba membuktikan bahwa senyawa X, Y, Z dan sebanyak A gram lah yang berperan dalam terapi itu. Dimana semua itu demi satu tujuan, bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa JAMU memang berkhasiat.Hingga akhirnya akan melalui serangkaian uji, mulai dari uji praklinik, uji klinik tahap I, uji klinik tahap II, uji klinik tahap III, dan post market surveilance. Baru setelah itulah JAMU diakui berkhasiat, yang akan kita kenal dengan istilah FITOFARMAKA.

Namun, di satu pihak,

Kita juga tahu bahwa jamu telah lama digunakan masyarakat secara turun temurun dari nenek moyang, yang bisa jadi lebih cerdas dan bijak dibandingkan kita saat ini. Apakah kita meragukan kebijaksanaan dan kecerdasan nenek moyang kita dulu?

Tidak begitu,bukan berarti kita harus kembali ke masa lalu. Masa lalu ada untuk menjadi pelajaran dan sarana belajar kita, bukan?

JAMU,

Dirasakan riset-riset untuk mencapai FITOFARMAKA itu memang akan membutuhkan biaya yang sangat besar dan sarana pendukung yang canggih, mulai dari riset praklinik hingga uji kliniknya yang membutuhkan rumah sakit-rumah sakit teruji dan berkualitas serta memenuhi standar pengujian calon FITOFARMAKA ini. Belum lagi jika ditengah perjalanannya, FITO mengalami kepleset, kesandung, jatuh, tergelincir yang mengakibatkan riset harus diulang lagi dari awal. Who knows about what will happen, right?

Allah, of course..:)

Lalu, riset-riset seperti apa yang seharusnya dilakukan? Mungkin ada baiknya jika kalian mengikuti kuliah ini, dan aku pun tidak ingin gegabah lagi dalam mengungkapkan apa yang kupikirkan atau kudengar. Ketika diperdengarkan bahwa riset-riset yang dilakukan sebenarnya sederhana dan murah ketika kita benar-benar mau terjun langsung ke masyarakat (Etno –> We will talk about ETHNIC (bener nggak ya nulisnya.hehehe-red), dan kemudian bisa kita lakukan uji praklinik (dengan hewan) atau uji klinik (pada manusia).

Pertanyaan ini kemudian mengusikku.

Bagaimana dengan kemungkinan adanya senyawa atau efek tak diinginkan dari tanaman itu atau sari tanaman itu?
Bagaimana dengan prosedur penelitian/metodologi penelitiannya jika begitu?
Apakah lebih baik jika memang benar kita ingin mempertahankan JAMU sebagai identitas obat INDONESIA,
Tanaman apa yang memang benar-benar akan dikembangkan pemerintah untuk menjadi JAMU?
Apakah kita perlu membuat prosedural/metodologi penelitian tersendiri,

untuk JAMU,

untuk kekayaan kita sendiri?

Bagaimana dengan konsep standardisasi itu sendiri? Aku bingung menuliskannya.

Lalu mana yang lebih penting saat ini,

STANDARDISASI atau SAINTIFIKASI?

JAMU,

sebuah harapan masa depan bagi kemandirian kesehatan, dimana dalam harapan itu ada satu harapan kita tidak lagi bergantung pada obat sintetik dan jamu lah yang menjadi andalan pengobatan. Atau jamu dalam bentuk lain, fitofarmaka?

Who knows what will happen?

Selamat Jum’at Pagi, Barakallah ya akhi ya ukhti..:)

Sebuah PAPERPLANE : Belajar

  • Posted on September 18, 2013 at 8:31 pm

Sebuah PAPERPLANE : Belajar

18 September 2013

Hari ini
Aku belajar
Belajar memahami sebuah asumsi
Sebuah pelajaran
Yang mungkin tak kutemukan
Yang mungkin baru kusadari
Kini.
Bahwa
Tidak semua yang kurasa
Tidak semua yang kuyakini
Tidak semua yang kupikirkan
Adalah benar
Tidak,
Dalam cermin itu aku melihat,
Sebuah pola-pola jalanan kebenaran
Yang selama ini banyak orang percayai
Benar jika itu memenuhi kepala banyak orang
Benar itu jika sesuai kesepakatan forum
Benar itu realtif
Bahkan kita pun tahu
Adanya hukum relativitas cahaya, relativitas bunyi, relativitas jarak, dan relativitas waktu.
Lalu, bagaimana aku belajar memahami semua itu?
Tidak semua yang kurasa benar
Tidak semua yang kupikir benar
Begitu jugakah kau?

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Polarity

  • Posted on September 2, 2013 at 7:49 pm

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Polarity

Bismillah…Assalamu’alaykum.

Alhamdulillah, KCAB Edisi September CERIA ini bisa kembali hadir di hadapan para pembaca setia blogku yang entah ada berapa jumlahnya, bisa jadi malah tidak ada sama sekali. Maklum, Aplikasi untuk melihat jumlah pengunjung blog belum saya pasang.hehehe

Dan untuk mengawali tulisan ini, sebelumnya saya ingin mengucapkan

SELAMAT DATANG, INTELEKTUAL MUDA UGM..GAMADA 2013..

Dimana-mana yang ada adalah quote-quote inspiratif yang menginspirasiku untuk tetap bertahan dalam kepanitiaan ini. Curhat sedikit deh, sebenarnya untuk apa ikut kepanitiaan ini lagi? Bukankah angkatan 2010 yang notabene menjadi angkatan tertua tahun ini harus memikirkan hal lain yang lebih pantas untuk dipikirkan? Hmmmm… Tak tahulah, I just wanna doing something that I like. Just like doing this, writing my opinion, my imagination, my world on the paper, just like making oneby one paperplane that will be ready to be flight. Someday.

GAMADA 2013, Berjuang Bersama Mencapai Kedaulatan Bangsa. Semoga agenda 1 minggu selama awal September ini akan menjadi bekal bagi kalian dalam menghadapi dunia perkuliahan ya. Selamat Datang di miniature Universitas Kehidupan, jika saya boleh mengatakannya demikian. (Emang ada yang nglarang ya nis? Maybe..:) )

Berbicara tentang polarity atau polaritas. Kenapa hari ini tiba-tiba kepikiran hal ini ya? Mungkin karena inspirasi yang kudapat dari kakak tingkatku tentang kicauan mereka berdua di twitter, hanya saja yang mereka bicarakan adalah kutub magnet, tentang bagaimana magnet bisa tarik-menarik atau tolak-menolak. Terima kasih ya kakak untuk inspirasinya pagi tadi. Dan kata ini juga terpikirkan kala saya mengingat-ingat obrolanku dengan rekanku dalam tim NARA1000. Terlalu melebar, kembali ke topik awal.

Polarity.

Was ist das?

Das ist ein Wort.

Ja, Richtig. Aber, Was ist das auf Deutsch?

Hmmmmm…kliklokliklok…(Open the Dictionary..Entcshuldigung, My weakness is still vocabularies. J )

Okay, cukup bicara bahasa planet itu. Besok aja jika sudah menginjakkan kaki di sana. Aamiinnn…Inginku, siapapun yang ke Jerman, pengen aku titipin sebuah coretan/pesan, paperplane mungkin, isinya gini…

Khairu Nishaa, S. Farm, Apt. will be here. Just wait Her.

 

Besok nitip kakak tingkatku aja dulu ah, semoga beliau berkenan. Aamiin. Doain ya kawan..Danke schon..:)

Tuh kan melebar lagi, hmmmmm..

Polarity. Menurut Oxford Dictionary yang kupunya, polarity merupakan sebuah kata benda. ????

This is the explanation.

Polar/ adj 1 of or near th North or South Pole, 2 Directly opposite.

Polarity/ n [U] state of having two opposite quality or tendencies.

Hmmmm..kalo ngeliat dari definisinya, kok merasa agak jauh ya dari tujuan awal mengangkat tema ini? Apa yang harus saya lakukan? Tetap menuliskannya kah atau mengubahnya menjadi topic yang lain? Tanyakan saja pada goyangan rumput liar.

Berbicara tentang polaritas, yang kuingat adalah kromatografi. Apa itu kromatografi, kakak? Yang masih angkatan 2012, apalagi para GAMADA atau FARMADA pasti belum tahu kata ini. Ya, kan? Hahahaha..#devil_laugh. Makanya, baca terus aja ya, biar nanti begitu masuk kuliah, langsung pada ahli kromatografi yang harusnya diambil pada semester 4. Yeaahh, Richtig. That will be a long journey for you to know about this, Kid. Hihihihi

Dalam kromatografi, kita akan mengenal adanya 2 fase utama yang digunakan untuk pemisahan. Karena memang kromatografi diciptakan untuk memisahkan. Jahat banget ya? Pemisahan disini maksudnya adalah kromatografi akan memisahkan berbagai macam makhluk (Ceileeee..bahasanya…obat/bahan aja dibilang makhluk.), makhluk disini maksudnya obat lho yak arena dalam obat itu ada berbagai macam komponen. Ketika semua makhluk ini dipisahkan, kita akan dapat mengetahui benar tidaknya makhluk yang ada dalam obat itu sesuai label yang dicantumkan dalam kemasan, baik secara kualitatif (jenisnya) maupun kuantitaif (jumlahnya).

Yang jadi pertanyaan sekarang, Apa yang membuat kromatografi ini mampu memisahkan berbagai macam makhluk yang telah bersatu untuk melawan penyakit, Kakak? Apakah dia masuk dalam obat dan mengadu domba masing-masing golongan makhluk itu lalu memisahkan mereka? Apakah dia bermuka dua hanya demi mencerai-beraikan mereka? Ataukah dia hanya jadi pihak ketika? (Kok malah kayak jadi sinetron lagi ya? Kali ini sinetronnya berjudul, “Gara-Gara Kroma Seminggu” karena waktu running-nya 7 x 24 jam.

Bukankah persatuan itu yang kita junjung-junjung selama ini. Bahkan ada pepatah yang mengatakan Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh.

Kamu ngomong gitu jangan-jangan kamu keponakannya Om MT ya? Heehehehe..

Bukan begitu adikku,

Mari kita review lagi apa yang sudah kakak sampaikan di awal. Kakak sempat menyebutkan adanya 2 fase utama yang mendukung ‘kejahatan’ kromatografi ini. Heyy..heyy..heyy..Siapa dia?

Mereka adalah si Diam dan si Gerak. Dari namanya aja kita bisa mengetahui kan adanya 2 hal yang sangat bertolak belakang dan kecenderungan di sini. Yang satu sukanya diam, yang satu sukanya gerak. Apa yang terjadi ketika si Diam dan si Gerak bertemu? Penasaran? Buat script sinetron lagi ah, judulnya “Ketika Cinta dalam Diam dan Gerak Bertemu”. Eaaaaa…ihiiiirrrr…Prikitiew….Apakah mereka akan bersatu?

Jika diibaratkan sebuah sinetron, si Diam dan si Gerak disini ternyata sama-sama jahat karena mereka memiliki guru yang sama atau sekolah yang sama, nama sekolahnya sekolah Kromatografi. Sekolah ini akan menghasilkan generasi-generasi yang seragam pada awalnya, generasi yang baik, cerdas, dan bermanfaat bagi masyarakat. Masuknya mereka dalam sekolah ini mengakibatkan anak-anak lain atau generasi yang pada mulanya satu pabrik keluarannya, jadi beranekaragam. Si Diam dengan sifatnya yang memang pendiam dan nyaman dengan kehidupannya saat ini tanpa mau melakukan suatu perubahan, menawarkan kepada teman-temannya untuk hidup santai. Mottonya, “Just Enjoy Your Life in This Chair”. Seolah-olah dia sangat nyaman dengan dunianya sendiri yang nyaman. Anak-anak yang selama ini berusaha melakukan hobinya untuk membuat suatu perubahan pun mulai menyadari bahwa mereka juga ingin melakukan hobi untuk senang-senang, just enjoy my life. Generasi-generasi ini pun masuk dalam perangkap si Diam dan menjadi apatis terhadap lingkungannya. Mereka menjadi nyaman dalam zona kenyamanan mereka sendiri.

Lain lagi si Diam, Lain lagi cerita tentang si Gerak. Si Gerak ini sangat reaktif, dia sukanya bergerak terus, kadang arah geraknya lurus, melenceng kanan, melenceng kiri, kadang ke atas, kadang ke bawah, kadang miring. Hanya saja dalam bergerak, pada awalnya si Gerak ini butuh bantuan sahabatnya, si Gravi. Gravi adalah sahabat desa yang gendut yang si Gerak sembunyikan dari rekan-rekan sebayanya di sekolah karena dia malu. Si Gerak akan bergerak dan gerakannya yang menarik bagi kawan-kawannya di sekolah Kromatografi mengakibatkan teman-temannya jadi terpengaruh pada sifatnya si Gerak yang mau enaknya sendiri, mengadu domba orang lain, dan mengikat orang lain. Mengikat orang lain ini, si Gerak punya beberapa level ikatan. Ketika anak lain dirasa mampu diikat kuat, maka dia akan mengajaknya berlari lebih cepat untuk segera keluar dari sekolah Kromatografi. Kalo anaknya tidak kuat, dia akan ditinggal si Gerak, yang mana selanjutnya akan diambil oleh si Diam untuk menjalankan prinsipnya, “Enjoy your own Life”. Sama-sama licik ya? Kenapa kepala sekolah kromatografi tidak mengeluarkan mereka saja dari sekolah?

Pada awalnya, ketika si Diam dan si Gerak diterima di sekolah ini, pihak sekolah memang agak sebal dengan ulah nakal mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, pihak sekolah pun mulai menemukan kebermanfaatan dari dua anak ini. Adanya dua anak ini akan menjadi skrining awal bagi sekolah untuk melihat anak mana saja yang sebenarnya bisa diluluskan dan dibiayai kelanjutan belajarnya, karena inilah keunggulan sekolah Kromatografi. Anak yang berpotensi, cerdas, baik hati, dan bermanfaat bagi masyarakat akan diberikan beasiswa untuk melanjutkan studinya di Universitas PCR (Polymer Chain Reaction), sebuah universitas terkemuka di kota Moleculaylysis. Dan sebenarnya si Diam dan si Gerak ini adalah anak yang cerdas dengan IQ di atas rata-rata dan berpotensi untuk mendapatkan beasiswa ini. Hanya saja mereka kekanak-kanakan dan pemalas. Mereka lebih memilih untuk bermain-main dengan temannya. Dan pihak sekolah pun merasa agak diuntungkan dengan karakter mereka yang seperti itu, sehingga secara diam-diam si Diam dan si Gerak ini mendapatkan beasiswa seumur hidup untuk tetap sekolah di sekolah Kromatografi, dengan syarat akan mempertahankan sifat kekanak-kanakan, keras kepala, dan pemalas mereka.

Lalu, apakah si Diam dan si Gerak ini akan tetap bertahan di sekolah Kromatografi dan menjadi pemisah generasi satu pabrikan di dalamnya?

Ataukah mereka mulai menyadari potensi diri mereka bahwa mereka bisa studi di Universitas PCR dan mulai menata hidup mereka?

Penasaran?

Tunggu KCAB berikutnya yaaaa…:)

Itadakimasu.

POEM in the Morning

  • Posted on August 27, 2013 at 9:16 am

Jadikan kekasih diri sendiri
Baru menjadi kekasih orang lain
Jadikan mengasihi orang lain
Seperti mengasihi diri sendiri

Dunia Taru the Series – Episode Tatar vs Veggy #1-

  • Posted on August 17, 2013 at 6:25 am

Dunia Taru the Series – Episode Tatar vs Veggy #1-

Tatar sudah masuk sekolah lagi setelah libur panjang kenaikan kelas kemarin. Dengan hasil yang biasa-biasa aja rapornya, Tatar tetap meminta hadiah dari Bapak dan Mama.

“kan Tatar nggak nyontek, Ma. Tatar mau dapat hadiah.” Ujar Tatar seusai penerimaan raport. Mama agak kecewa dengan ulah Tatar.

“Heeeee, Tapia da yang kurang nggak dari Tatar? Kenapa hasilnya bisa gini.”

“Namanya juga anak-anak Ma, biarin aja. Yang penting Tatar harus belajar. Kayaknya Mama lupa deh maksud dari belajar.” Bapak seperti biasa selalu membela Tatar.

“Nah, itu Bapak benar Ma. Mama kayaknya pernah bilang ke Tatar, kalo belajar itu ya nggak Cuma pelajaran. Belajar itu dari tidak tahun menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari tidak menerapkan menjadi menerapkan. Tapi Pak, hubungannya tahu ma paham ma menerapkan apa sih?”
“Nggak tahu juga, coba tanya Mama.” Tatar yang melihat wajah kecewa Mama nya jadi urung menanyakan hal itu meskipun sebenarnya Mama mendengarkan. Mama hanya kurang suka satu sifat Tatar, Tatar anak yang pemalas. Belajar hanya waktu ketika ujian. Bagi Mama, mau bagaimanapun ya nilai harus bagus, itu mencerminkan kognitif Tatar. Setidaknya bermanfaat bagi Tatar. Bapak pun memahami dan hanya berucap,

“Semoga aja system pendidikannya berubah Ma. Selama ini kan pendidikan Cuma dilihat dari nilai aja, bisa aja besok waktu ganti presiden, kebijakan dan system pendidikannya ganti jadi lebih memerhatikan karakter anak. Habis itu nanti pasti Tatar bisa dapat yang terbaik, kan Tatar ana yang baik.” Bapak mengelus rambut Tatar. Dan Mama pun mendekati Tatar yang cemberut.

“Bagi Mama, Tatar akan tetap menjadi anak Mama yang terbaik. Tatar sayang Mama, kan?”
“Iya, Ma. Tatar selalu sayang Mama dan Bapak. Tatar janji nggak akan ngecewain Mama dan Tatar lagi.” Tatar mengangkat tangannya.

“Demi Allah?”
“Demi Rasul aja deh Ma.hihihihihi” Tatar berlari masuk ke dalam rumah.

“Bapak, hari ini kita masak ya. Masak sayur merah lagi. Mama masak camilan aja.”

Melihat tingkah anaknya, pasangan suami istri ini agak khawatir. Hampir selama 3 tahun ini, yaitu sejak Tatar berumur 4 tahun, Tatar tidak suka sayur. Hal ini dimulai ketika pertama kalinya Mama memasak sayur merah untuk keluarga, karena sayur merah merupakan masakan favorit Mama dari remaja. Dan ternyata Tatar juga menyukainya. Bisa dikatakan Tatar lebih lahap ketika makan sayur ini dibanding yang lain. Mungkin hanya ditambah segelas susu coklat.

“Tapi kan ini daging Pak. Masak Tatar nggak makan sayur? Ntar sakit karena nggak dapat vitamin gimana?”
“Vitamin kan nggak hanya di sayur Ma, di buah juga ada. Tatar doyan buah nggak ya? Mama sering ngasih buah ke Tatar nggak?”

“Tuh, Bapak aja nggak perhatian sama anaknya. Emang Bapak beliin Tatar buah. Huuuuuu”

Bapak mencubit hidung istrinya.”Ih, kamu itu. Ya udah, mulai besok Bapak cari bibit tanaman buah, biar ngajak Tatar berkebun di belakang rumah. Lahannya belum ditanami tuh. Mama kan yang minta.”
“Emang iya ya Pak? Mama lupa. Hahahaha. Tapi Pak, masalah sayur gimana? Apa yang harus Mama lakukan?”
“Udah, santai aja. Mama pikirin dulu ya, Mama kan banyak akalnya. Orang kemarin aja sayur merah yang pedes dibuat manis. Bapak sebenarnya nggak suka Ma. Tapi Bapak tahu Mama pengen Tatar suka rasa pedes. Jadi ya nggak papa deh Bapak sekali-sekali makan manis.”
“Aaaaa, Bapak. Tumben hari ini romantic?” Mama menyindir Bapak.

“Mama ini, ya udah deh. Bapak mau berangkat dulu.”
“Kemana Pak?”
“Katanya suruh cari bibit tanaman buah?”
“Ih, itukan idenya Bapak. Kok malah bilangnya suruhan Mama?”

“Oh iya ya? Bapak udah mulai pikun ni Ma. Gimana dong? Ajak Tatar ah.”
“Yeeeee, Bapak kok ngomongnya gitu. Tatar baru tidur siang Pak. Bapak pergi sendiri aja. Nanti sore kita tanam bareng-bareng bibitnya, terus Mama nyiapin makan malam special buat Tatar.” Ucap Mama seperti biasa, ketika ide muncul di kepalanya.

“Iiihhh, dah keliatan nih aura-aura idenya. Ya udah Bapak berangkat dulu ya Ma. Assalamu’alaykum, Adik.”
“Wa’alaykumsalam, Kakak. Hati-hati di jalan. Ban mobil dah kempes sama air radiator dah harus diganti Pak.”
Bapak hanya tersenyum. Memang Mama yang terbaik, batinnya.

Lalu, Mama masuk ke dapur dan melihat sayuran apa yang ada dalam kulkas. Hmmmm..wortel, sawi hijau,  dan brokoli. Dibuat apa ya biar Tatar mau makan? Mama berpikir sejenak dan

Ahaaaaaa

Dan Mama pun meracik sayur itu untuk dimasak nanti sore, selepas agenda menanam bibit.

Bapak beli bibit tanaman buah apa ya?

-to be continued-