Ketika (calon) apoteker bicara REDENOMINASI

  • Posted on February 1, 2013 at 10:20 pm

Ketika kita mencintai sesuatu apa pun itu, kita akan selalu mengikuti kisahnya, baik kemajuannya yang membuat kita ikut bangga maupun kemundurannya yang memotivasi kita untuk mau berkontribusi dan berinovasi demi kemajuannya lagi .

Sekilas itulah coretan yang kubuat awal beberapa waktu lalu. Yuupp..Kita akan selalu mengikuti apa pun yang kita cintai, termasuk Tuhan kita. Tapi, kalau yang terakhir ini memang sudah jadi kewajiban kita kan ya?

Okay, bukan ini maksudku mengawali tulisan di awal februari ini. Sudah lihat judul di atas, yang ditulis dengan huruf kapital itu? Pernahkah temen-temen mendengar istilah ini? Sejak kapan? Tayangan forum salah satu acara di stasiun tv favoritku malam itu (31 Januari 2013) membahas habis masalah ini. Dan ini kembali mengingatkanku akan mimpi dan keinginanku dulu yang sangat tertarik dengan hal-hal berbau pemerintahan dengan segala permasalahannya dibandingkan menonton ftv atau kartun (bisa dibilang jarang dan tidak berminat nonton kartun dijadikan kebiasaan. J). Malam itu, aku kembali teringat diriku yang senang mengikuti perkembangan terbaru dan isu-isu update melalui televisi (dan akhirnya aku sadar bahwa sudah terlalu lama meninggalkan TV).

Berbicara tentang redenominasi, aku sudah mendengar isu ini sejak 2010, tepatnya pada waktu penantian masuk kuliah. Aku tahu berita ini dari TV juga kalo tidak salah. Dan kala itu, karena statusku yang masih anak baru lulus SMA yang senang berbicara politik dan urusan kenegaraan, bahkan sampai disindir mbok cah anak cilik nggak usah mikir negoro ( but, I just loved and enjoyed it, the moment I watched TV and heard everything from news-red) dan pro-pemerintah (karena aku yakin program itu baik), aku sangat gembira mendengar berita itu. Aku sudah tahu bahwa pemerintah melalui bank BI akan melakukan pengurangan jumlah nol (0) dalam nominal rupiah kita dan akan melakukan sosialisasi pada tahun 2015 dan BI memulai penarikan uang lama pada 2017 dan diharapkan pada 2020 uang lama sudah tidak beredar lagi. Tujuannya yang aku baca dari Koran T*m*o waktu itu (dan aku tiba-tiba ingat bagaimana surat kabar itu menggambarkan skema rencana redenominasi ini lengkap dengan tahunnya dan langkah kerja yang akan dilakukan) adalah bahwa Rupiah akan dijadikan mata uang ASEAN dalam rangka menciptakan rumpun ASEAN. Karena nominal rupiah Indonesia memiliki jumlah nol yang paling banyak dantara mata uang negara anggota ASEAN yang lain di mana itu akan memengaruhi nilai tukarnya nanti, maka pemerintah merasa perlu mengurangi jumlah nominal ini. Dan aku pun mulai mengikuti perkembangan isu ini. Tentang bagaimana nantinya rupiah akan menjadi seperti mata uang negara lain, diberlakukannya uang sen, Oh betapa mudahnya menghitung uang nanti, imajiku. Mungkin, kalo aku masuk FEB, aku akan lebih banyak mengikuti kabar redenominasi dan bisa juga malah ngadain diskusi atau seminar-seminar tentang ini atau kalau memang akan dilaksanakan, aku akan dengan senang hati melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang redenominasi. (Kok malah jadi ngayal kuliah di FEB ya?? Ingat, udah semester tua…:P -red)

Aku suka mengetahui berita ini sampai perkuliahan di fakultasku tercinta pun dimulai. Hari-hari yang dipenuhi dengan kuliah dan praktikum mengalihkan perhatianku dari isu redenominasi ini. Hari berganti bulan hingga akhirnya aku lebih memfokuskan diri untuk mengenal duniaku, dunia kefarmasian dan aku pun menyukai dunia ini. Yaahh, sampai hari ini aku harap aku masih tetap bisa mempertahankan rasa senangku pada farmasi.

Acara tadi malam lah yang mengingatkanku pada quote yang kutulis di awal tadi.

Ketika kita mencintai sesuatu apa pun itu, kita akan selalu mengikuti kisahnya, baik kemajuannya yang membuat kita ikut bangga maupun kemundurannya yang memotivasi kita untuk mau berkontribusi dan berinovasi demi kemajuannya lagi .

Yup, aku pun menyadarinya. Ayo yuk, teman-teman, apa pun jurusan kita, ikuti terus yuk kisah menariknya dunia kita itu karena kita akan mendapat banyak pelajaran dan inspirasi di sana.

Lalu, bagaimanakah kita (farmasi) akan menanggapi isu ini? Mungkin, memang itu bukan ranah kerja kita untuk membicarakan hal ini, tapi setidaknya kita perlu mengetahui apa yang terjadi pada hari ini di bangsa kita.

—————————————————————————————————-

Ini ilustrasiku berdasarkan pemahaman yang kudapat (Perhatian: Tidak ada maksud promosi dalam postingan ini.:) ).

Sumber gambar :

Gambar 1 ->  http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSEQdSedeBTUWkORid5jDfjrdoTB4A-yIfn8V7POJ_g-ZpUNf7R

Gambar 2 -> http://www.bi.go.id/biweb/utama/pendidikan/uang/html/gambar/uang1.swf

Gambar 3 -> google.com

Gambar 4 (panah) -> http://stat.kompasiana.com/files/2010/10/panah.jpg

Please Comment Here :)

Leave a Reply