Jadi, Hari Ini Ceritanya Kita

  • Posted on March 12, 2013 at 4:02 am

Coretan harian untuk hari ke-11 yang ditulis pada hari ke-12 (Waaah, H-1 menjelang Caesar Operation kedua induk besok.hohoho).

Hari ini aku ingin berbagi cerita tentang apa yang aku alami kemarin. Diawali dengan kegiatan praktikum mingguan di awal minggu ini (Tuh, seperti biasa, penggunaan kata yang ribet bin boros. Gapapa ya.:) ), Yups, Jadi obat nyamuk bakar adalah penghibur di akhir waktu praktikum. Mengapa? Karena setidaknya dari 5 formula yang kita buat, formula terakhir ini (obat nyamuk) menjadi penyenang hatiku yang sempet down waktu praktikum. Habisnya, sedih juga dengan apa yang dikatakan dosen terkait sediaan yang dibuat. Pemakluman pun dibuat. Maklum lah baru belajar, Kan tujuan kita belajar. Hmmmm…ya udah deh, curcolnya segini aja. Bahasanya belum membumi, masih melayang di langit.

Okay, lanjut aja kembali ke judul awal.

Jadi, Hari ini ceritanya kita mempelajari Interaksi Obat pada tingkat molekuler. Wuiiihhh, dari judulnya kayaknya ngeri banget ya? Ini ada hubungannnya dengan kuliah sore yang kudapatkan kemarin. Dari cerita yang kudengar minggu lalu (karena aku nggak masuk, kecapekan ama praktikum 4 jam. Maaf ya Pak. J ), Kuliah senin sore itu sangat detail. Jadinya, aku masuk lagi kemarin, siapa tahu akan ada hiburan bagi hati yang sedih ini. Dan ternyata violaaaa, Allah mengabulkan doaku (Emang aku doa ya dapet kuliah ini? Aku sadarnya belakangan pada setiap yang aku dapatkan hari ini.) Aku yang selalu excited dengan hal yang baru sangat bersemangat mengikuti kuliah ini. Memang kuliah apa sih Nis sampai segitunya gitu? Farmakologi Molekuler, sebuah mata kuliah yang menitikberatkan pada bagaimana suatu obat berinteraksi dan beraksi dalam tubuh pada tingkat molekulernya. Yuup, Hari ini kita masih membahas target aksi obat. Dan yang dibahas kali ini adalah transporter. Ilmu ini cenderung baru, ucap Beliau. Perkembangan ilmu ini meningkat pesat pada 10 tahun terakhir di mana transporter inilah yang memiliki peran yang sangat penting pada proses ADME obat. Sebenarnya pada awal perkembangannya, transporter ini dikenal sebagai pembawa senyawa endogen dalam tubuh. Namun ternyata dalam penelitian lebih lanjut ditemukan bahwa tidak hanya senyawa endogen yang diangkut oleh transporter, akan tetapi obat-obatan yang dimasukkan dalam tubuh juga dapat diangkut oleh transporter. Nah, untuk saat ini, Pusat dari Perkembangan ilmu transporter ini ada di 2 tempat, yaitu di Jerman (lupa nama Universitasnya, Maklum. Bahasa Jerman susah kalo nama-nama kota. #curcol) dan Tokyo University, di Jepang. Terus Beliau berkata, “Kalo ada yang mau mendalami lebih lanjut tentang ini, bisa ke sana. Ada yang mau lanjut studinya nggak? Dalam hati aku bicara, “Insya Allah Pak. Saya mau lanjut. Insya Allah ke Jerman”. Aamiin. Aku merasa ini menjadi ‘kode’ tersendiri bagiku. Dan rasanya tiba-tiba kosmetika alami tadi siang langsung hilang semua. Byeee. *lebay.hahaha*

Kuliah pun dimulai. Sekalian review materi kuliah aja kali ya. Jadi, transporter ini sebenarnya keluarganya banyak banget. Ada dari family ABC, SLC, OAT, dan OATPs. Secara umum, keluarga transporter ini dibagi menjadi 8 famili (dari catatanku lho ya ini, Beliau cepet banget jelasinnya. J ), yaitu:

  1. Transporter Peptida
  2. Transporter Nukleosida, Nukleotida, Basa DNA (Pas baca ini, aku mikir. Apakah bisa dikatakan bahwa tRNA itu adalah salah satu transporter dalam tubuh ya? Kan dia yang mengangkut asam-asam amino pada sintesis protein.hohoho)
  3. Transporter Asam Amino
  4. Transporter Monosakarida, Disakarida.
  5. Transporter Anion dan Kation Organik (Nah, pas denger kata ini aku bingung. Apalagi pas dibahas lebih lanjut topic ini. Ada satu pertanyaan yang ‘ganjel’ dan aku tanyakan ke temen sampingku, “Anion ma Kation organic itu contohnya apa sih? Dan kau tahu apa jawabannya? “Kau bertanya pada orang yang salah”. L.hihihi. Lucu juga bila diingat obrolan ini. Ayo semangat mengulang, Kawan. J)
  6. Transporter Monokarboksilat
  7. Transporter ABC
  8. Transporter Asam Empedu (asam atau garam sih. Abis dalam bahasa Inggris tertulis bile acid. Bingung atuh.)

Dan Perlu untuk teman-teman ketahui bahwa setiap transporter ini memiliki spesifisitas yang berbeda untuk tiap molekul obat ( Ada 1 catatan menarik. “1 obat dan 1 transporter -> 1 judul thesis”. Serius, ini aku catat di coretan “shuhuf-shuhuf” ku.hehehe). Spesifisitas ini ditunjukkan dengan nilai Km. Apa itu Km? Dalam kuliah biokimia dijelaskan bahwa Km menunjukkan banyaknya substrat yang digunakan oleh suatu enzim untuk bereaksi pada kecepatan reaksinya ½ dari Vmaks nya. Bingung ya ma kalimat barusan? Sama. Susah juga bila harus mendefinisikan sesuatu dari textbook. Dipikir sendiri ya. Kan anak UGM, farmasi lagi. 😛

Semakin kecil nilai Km dari suatu transporter terhadap 1 molekul obat tertentu, maka transporter itu dikatakan spesifik dan akan semakin cepat pula dia dalam mengangkut molekul obat ini.

Oh iya, dari tadi ngomongin transporter dan fungsinya, kita belum kenalan kan ya dengan makhluk satu ini. Transporter ini adalah sekumpulan rantai asam amino yang disintesis dalam beberapa organ di tubuh, terutama di Hati dan Ginjal (2 organ ini yang memiliki transporter dalam jumlah banyak karena peranannya yang besar pada proses metabolisme dan ekskresi obat), Gastro Intestinal (Usus), dan Sawar Darah Otak (Brain Blood Barier). Gen-gen penyandinya bahkan sudah ditemukan dan dinamai, contohnya GeneName SLC22A7 untuk penyandi protein OAT2.

Dan hubungannya sama interaksi obat?

Mengingatkan lagi ke topic awal, hehehehe. Transporter ini kan sudah kita ketahui bahwa dia sangat berperan dalam proses ADME obat. Dari sini kita akan tahu bahwa adanya transporter ini akan memengaruhi jumlah obat yang beredar dalam tubuh, atau dikatakan bahwa transporter akan memengaruhi profil farmakokinetika suatu obat. Kita juga sudah tahu kan, bahwa dengan kita tahu profil farmakokinetika obat, kita bisa memperkirakan kapan obat itu akan diabsorpsi maksimal dalam tubuh, kapan dia akan diekskresikan dalam tubuh, dan bagaimana pengaruh obat lain terhadap kinetikanya. Hanya saja, dalam farmakokinetika, kita tidak bisa menjelaskan kenapa bisa sampai terjadi seperti ini, kurvanya yang monofasik atau bifasik. Melalui ilmu transporter inilah kita bisa menjawab tanda tanya ini. (Aku bingung nama cabang ilmu ini apa.

Ada 1 contoh interaksi obat yang sangat sering dibahas sama Dosenku. Interaksi Antibiotik golongan beta lactam dan Probenesid. Oh iya, ada 1 info lagi. Bahwa interaksi obat ini melibatkan transporter dalam 2 mekanisme, bisa melalui inhibisi (penghambatan) atau pengangkutan (uptake) atau persaingan.

Memang bagaimana interaksi beta lactam dengan Probenesid ini? Huwaaaa, ternyata di catatanku nggak ada mekanismenya. Di sana hanya tertulis bahwa Terjadi penurunan ekskresi beta lactam oleh Probenesid. Mungkin ini ada hubungannya dengan transporter yang terlibat, yaitu OAT1. Aku tulis contoh yang lain aja ya. #curang.

Salah satu interaksi obat tadi kan dikatakan juga terjadi akibat inhibisi atau penghambatan. Inilah yang akan terjadi bila Rifampin dan Digoksin jalan bersama. Yang 1 akan menghambat yang lain. Eaaaa…hahahha

Maksudnya, Rifampin apabila diberikan pada waktu yang bersamaan dengan digoksin, ditemukan akan menurunkan kadar digoksin dalam darah. Interaksi ini terutama terjadi bila obat diberikan secara p.o. (per oral alias lewat mulutàsaluran cerna). Fakta ini sudah ada secara klinis dan ingin dibuktikan secara molekuler. Jadi, seperti yang aku katakan tadi, ilmu baru ini menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Farmakokinetika. Apa yang sebenarnya terjadi pada Digoksin, apakah dia benci pada Rifampin lalu dia pergi? Apakah dia tidak suka dengan tingkah Rifampin yang nyebelin gara-gara ngerebut P-Glycoprotein lalu dia keluar? Kenapa? (Kok kayak sinetron ya jadinya, Digoksinku yang Hilang.)

Penyebab dari menurunnya kadar digoksin dalam tubuh tidak lain dan tidak bukan adalah karena adanya Rifampin. Rifampin ini ternyata akan menginduksi si P-Glycoprotein untuk mengikat digoksin dan membawanya keluar dari sel. Emang P-Glycoprotein itu transporter ya Nis? P-Glycoprotein juga merupakan salah satu anggota family transporter. Dia punya nama lain ABCB1 (The ATP binding Cassette B1àNomor kromosom) atau MDR1 (Multi Drug Resistance 1). Kayaknya tulisan dalam blog-ku yang ini harus banyak ditanyakan kebenaranya, kawan. Kalian masih harus melihat kembali ke handout ya. J

Banyak banget hal-hal baru yang kudapat pada kuliah ini. Dan kalimat terakhir dari dosenku adalah berupa suatu kesimpulan bahwa

“…transporter itu penting untuk transport senyawa endogen dan eksogen. Pengembangan obat baru ini lebih dikaji lagi pada bagaimana obat baru itu dapat menghambat spesifik pada 1 transporter…”

Yaa, seperti yang Bapak katakan tadi; 1 obat, 1 transporter, 1 judul thesis.

Kawan, Sebenarnya ada 1 pertanyaan yang pengen banget aku tanyakan ke Beliau. Sebuah pertanyaan klimaks yang sebenarnya aku juga sudah tahu jawabannya dari kuliah ini. Tapi, tujuanku bukanlah untuk cari sensasi, tapi hanya esensi. Hanya saja, lagi-lagi hanya jadi coretan dalam kertas (Ternyata aku masih belum berani.:’) )

Pak, Sebenarnya apa pentingnya kita mempelajari transporter ini? Lalu, apa hubungannya dengan farmasi? Lalu, Bagaimanakah ilmu yang kita pelajari ini kita pakai dalam praktik klinik nanti?

Kawan, aku ingin berbagi esensi aja ya, yang mungkin kadang kita lupakan. Kenapa sih kita perlu belajar ini? Dan terkadang dosen-dosen pun (walau tidak semua memang) juga tidak menekankan pada apa pentingnya ilmu ini dalam praktik kita nanti di masyarakat. Apakah kita lalu mau ngobrolin interaksi obat ini sampai tingkat molekulernya ke masyarakat. Mereka tidak akan paham, kawan. Dan ini akan membuat kita semakin jauh dari mereka. Katanya Pharmacist di mana ada 8 bintang dan salah satunya Communicator. Kalo gini, kita nggak akan bisa dekat dengan masyarakat dong. Dari pemikiran ini, aku mencoba merangkul semua minat. Ah bingung lagi, gini deh gampangannya.

Kita berhak mengembangkan apa yang kita sukai/minati, misalnya nih (langsung ke minat aja ya), anak-anak FST, kita dituntut menjadi ilmuwan (namanya juga science.hehe.). Nah kalo dilihat dari ilmu ini, anak-anak FST tugasnya adalah menemukan mekanisme aksi dari obat baru yang bisa memengaruhi kinerja transporter ini atau bisa juga mencari identitas dari masing-masing transporter terhadap 1 molekul obat (spesifisitasnya dalam Km). Lalu, setelah obat ini ditemukan, tugas anak FI lah yang akan membuat formulasi dan pemasaran terbaik dari produk ini (dengan Segmentasi, Targetting, Positioning, dan Marketing Mix Strategy). Setelah obat ini didistribusikan, obat ini kan akan sampai ke masyarakat dan dikonsumsi. Dalam masyarakat, pertanyaan ini akan sering muncul. Kenapa saya harus minum obat ini? Kenapa harus jam segini? Di sinilah menurutku peranan anak-anak FKK untuk bisa menjelaskannya ke masyarakat. Masa kalian mau menjelaskan misalnya Kenapa Rifampin nggak boleh bareng Digoksin karena akan menurunkan kadar digoksin akibat sifat inducer Rifampin pada P-Glycoprotein. Yang ada pasien kita malah kambuh jantungannya kawan akibat nggak bisa nangkep apa yang kita sampaikan. Kita harus bisa menempatkan posisi di mana kita berada. Memang, kita semua sebagai Scientist boleh menggunakan bahasa ilmiah, akan tetapi sebaiknya kita gunakan bahasa ini dalam forum-forum ilmiah atau ketika kita berinteraksi dengan teman sejawat kita. Bukan berarti untuk menunjukkan ke’sotoy’an kiata lho ya alias Kepandaian kita lho ya. Kita tetep harus kembali ke tujuan kita bekerja, yaitu untuk melayani pasien. Nah, ketika kita berkomunikasi dengan pasien, Hendaknya kita harus bisa membumi dengan mereka. Menurutku, Di sinilah peranan anak-anak FKK sangat diharapkan. Kita lah yang bertugas untuk menerjemahkan bahasa ilmiah yang dibuat oleh anak FST menjadi bahasa keseharian yang mudah dipahami masyarakat. Dan tentunya memang faktor pendidikan menjadi penting di sini. Boleh jadi, Kita mengembangkan tingkatan-tingkatan bahasa medis yang berbeda untuk level pendidikan yang berbeda. Di sinilah farmasi sosial dan farmasi kesehatan masyarakat berperan. Nah, buat temenku yang mau meneliti lebih lanjut tentang ini atau mau berdiskusi masalah ini, Boleh lho dengan senang hati saya akan mendengarkan dan sebisa mungkin menggali dan mengkaji lebih dalam dan mari kita sama-sama menemukan solusi bahasa yang terbaik untuk bisa disampaikan ke masyarakat.

Terus, ada 1 pertanyaan terakhir. Anak FBA ngapain dong Nis?

Hmmmm..Kasih tahu nggak ya? Aku temukan sendiri jawabannya dalam hati saja ya. Yang pasti, kita juga punya peran kok di sini. Memang bukan saat ini, Tunggu tanggal mainnya. 😛

Eh, obat nyamukku. Udah kering belum ya?

Please Comment Here :)

Leave a Reply