Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Catatan

  • Posted on June 28, 2013 at 9:51 pm

-Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Catatan-

Alhamdulillah, Assalamu’alaykum semua pembaca coretan atau yang biasa kunamai paperplane ku. Lancar semua kan agenda kebaikanmu hari ini? Buat temen-temen 2010 yang mau berangkat KKN, Selamat dan Sukses ya Mengabdi kepada Negeri. Semoga aku masih diberi kesempatan oleh-Nya merasakan indahnya mengabdi kepada negeri, seperti kembali kepada pertanyaanku yang dulu: Apa yang bisa kamu berikan untuk almamatermu, bangsamu, negaramu, dan agamamu? Hari ini aku ingin berbicara dengan sejelas-jelasnya dan sejujur-jujurnya tentang apa yang aku jalani ini. Long Journey in 369th km part 3 dalam fase hidupku. Iya, aku biasa menamakan perjalananku merupakan sebuah perjalanan yang panjang dan penuh makna. Bukan akhirnya yang penting, tapi apa yang bisa kita nikmati dan maknai selama perjalanan ini. Seperti perjalanan ini, perjalanan yang berawal dari satu keputusanku untuk memilih TULISAN sebagai sesuatu yang bisa kuberikan untuk almamaterku, bangsaku, keluargaku, dan agamaku. Apa lagi yang bisa kuberikan selain tulisan? Melihat diriku yang mungkin bagi sebagian orang senang untuk asyik dengan dunia pikirannya sendiri, aku menjadi anak/orang yang jarang berbicara. Iya, dan aku pun mulai menyadarinya. Meski aku tahu bahwa komunikasi adalah hal yang sangat penting, apalagi posisi kita sebagai makhluk sosial yang pastinya butuh orang lain untuk menjalani hidupnya. Dan aku pun masih belajar. Mungkin hanya aku saja yang belajarnya terlalu lambat. Mungkin.. Long Journey Part 3. Aku ingin bercerita perjalananku selama hampir 1 bulan lebih ini dalam mengikuti apa yang aku anggap sebagai peluang pertama dan mungkin terakhir bagiku untuk almamaterku, PIMFI. Apa sih PIMFI dan kenapa begitu penting? Jika kalian bertanya itu kepadaku hal itu, aku akan kembali bertanya kepada kalian, Apakah PIMFI itu tidak penting? 18 Mei 2013, Di sela-sela kesibukanku untuk mengerjakan proyek dosenku dan amanahku di tim training PPSMB FARMASI UGM 2013 ini, aku dikenalkan dengan suatu ajang yang sangat bergengsi, yaitu PIMFI (Pekan Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia). Yaa, bergengsi karena hanya Dari Farmasi, Oleh Farmasi, dan Untuk Indonesia. Ditambah lagi tema yang sangat menarik untuk dibahas saat ini, “Eksplorasi Biodiversitas Borneo dalam Eksistensi Pengobatan Herbal di Indonesia” di Pontianak nanti Agustus 2013. Salah satu lomba yang diadakan adalah LKTMF (Lomba Karya Tulis Mahasiswa Farmasi) di mana dalam karya itu kita boleh menyampaikan gagasan kita terkait pengembangan fitofarmaka. Kalian tahu? Aku adalah mahasiswa yang terbiasa mencatat apapun yang ada di kepalaku, ketika mulut ini tidak bisa atau belum mau berbicara. Mungkin karena kecepatan pikiran dan tanganku bergerak lebih cepat dibandingkan koordinasi otak dan mulutku. Karena tiap manusia memang berbeda-beda, dengan segala lebih dan kurangnya, begitu pula aku. LKTMF dengan tema pengembangan fitofarmaka. Dan pikiranku pun tertuju pada satu kata itu. Dan mengingatkanku pada apa yang Allah berikan kepadaku, yaitu pikiran, tangan, dan kekuatan untuk menulis. Lalu, apa yang kamu lakukan Nis? Dari dulu, aku bukan anak yang suka menyampaikan gagasanku secara langsung dan aku terbiasa menuliskan ide-ideku hanya di buku harianku. Entah gagasan itu akan terwujud atau tidak, aku hanya ingin memikirkannya. Dan apabila aku menemukan bahwa ide itu sudah terwujud, Aku akan bersyukur bahwa Allah memberikanku kesempatan untuk memikirkan hal itu. Tak perlu lah kusampaikan pada banyak orang tentang itu. Lalu, kenapa kamu menulis ini, Nis? Kenapa ya, aku hanya ingin melakukannya karena-Nya, karena kesempatan kedua yang diberikan-Nya padaku, mengingat diriku yang dulu sempat mundur dari lomba yang diadakan oleh Syamsiddhuhafoundation, pengembangan obat herbal untuk terapi lupus. Walau selama perjalanan yang hampir berakhir ini , entah akan berakhir baik atau tidak, Ketika aku hendak menyuarakan apa yang aku pikirkan, begitu banyak yang terjadi. Entah bagaimana orang-orang yang memandang betapa anehnya diriku, repot banget, atau ada yang tidak suka dengan konsep yang akan aku ajukan, aku tahu. Aku teringat kata temanku bahwa tidak semua orang akan menyukaimu, Nis. Aku sadar akan hal ini, tentang bagaimana diri ini nantinya dibilang sok idealis, sok nasionalis. Aku hanya ingin menyampaikan untuk pertama dan mungkin terakhir kalinya dalam hidupku sebagai mahasiswa biasa di farmasi ini, sebuah fakultas farmasi tertua di Indonesia, untuk merasakan berbagai rasa di dalamnya, bahwa segala daya, upaya, darah, keringat, biaya, dan air mata akan terbayar pada waktunya demi kecitaan kita pada satu bakti kita, sebagai apoteker nanti (sebelum menulis ini, aku sempat memikirkan apakah mimpi ini akan tetap berjalan, akankah aku bisa menyelesaikan S1 ku, akankah aku bisa mengenyam pendidikan profesi, melanjutkan S2 ku, mengabdikan diriku untuk obat-obat herbal Indonesia, dan bahagia bersama keluargaku nanti?) kalaupun aku akan pergi, setidaknya aku pernah menuliskan ini dalam blog ku. Biarlah generasi mendatang yang akan melanjutkannya ketika diri ini memang sudah waktunya bertemu dengan-Nya. Tidakkah kau ingin bertemu dengan-Nya dalam sebaik-baiknya pertemuan? Lagipula, tadi sempat terpikir apakah aku akan segera kembali, Aku juga rindu dengan mamaku, dimana nanti ketika semua memang benar-benar berakhir ketika aku hanya mampu menuliskannya, aku tetap akan bisa di sana, bersama mamaku, mengamati bagaimana kalian semua berjuang untuk mengangkat citra bangsa kita, bagaimana kalian mencoba untuk menciptakan sebaik-baiknya Indonesia. Itu pesanku, apapun cita kalian, tuliskanlah…Tuliskanlah..Kita tidak akan pernah tahu siapa, dimana, kapan, dan bagaimana orang akan membaca tulisan kita. Untuk saat ini, di fase terakhir Long Journey in 369th km ini, aku percaya. Aku membutuhkan dukungan dan doa kalian semua, teman-temanku, saudara-saudaraku, bahwa demi sebuah cita untuk bangsa, Kami akan tetap berjuang. Dukunglah kami dengan apa pun yang kalian punya, Untuk Nabila dan Muty, rekan tim ku yang sangat aku sayangi dan aku andalkan, tanpa kalian mungkin aku tidak akan bisa berpikir untuk melihat sudut lain yang tidak kupikirkna. Jaga kesolidan kita dan semoga ini akan menjadi amalan kita untuk kita pertanggungjawabkan nanti dihadapan-Nya. Teruntuk mbak Dina juga, mbak yang selama ini menyerocoki-ku dengan berbagai pertanyaan sejak awal mula kusampaikan gagasanku dan citaku ini, terima kasihku untukmu kakak. Ketika mbak Dina mulai merasa bersalah karena pertanyaannya yang membuatku terdiam, Aku pun bilang “Gapapa Mbak. Justru itu belum aku pikirkan. “ Dan aku pun akan mulai berusaha mencari jawaban itu, entah melalui pikiranku, bacaanku, pengamatanku, pendengaranku, dan pemahamanku, tentunya dengan izin-Nya. Aku bahkan sempat merasa ada yang salah dengan jalan pikiranku (yang memang belum semua memahaminya dan aku hanya bisa minta tolong ALLAH untuk menyampaikannya pada mereka yang belum paham diriku dengan cara-Nya.:) ). Terima kasih, Kak Dina. Aku akan selalu mengingatmu sebagai teman dalam perjalanan ketiga ini.

Teruntuk almamaterku, bangsaku, keluargaku, dan agamaku, Izinkanlah aku, Muty, dan Nabila mempersembahkan sebuah karya kami dalam judul

“MENGEMBALIKAN IDEALISME PANCASILA DALAM PENGEMBANGAN FITOFARMAKA SEBAGAI IDENTITAS HERBAL ASLI INDONESIA MELALUI PHYTOPHARMACA RESEARCH AND INFORMATION CENTER (PRIC)”

untuk kami ajukan pada PIMFI 2013 ini.

Proposal sudah masuk pada tahap akhir penulisan dengan ending editing mala ini, insyaALLAH akan dikirimkan atas nama Universitas Gadjah Mada.

~Innash sholaati, wanusuuki, wamahyaaya, wamamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin~

Tidak ada satu yang tidak mungkin bila itu kehendak-Nya. :’)

Please Comment Here :)

Leave a Reply