Ketika (calon) Apoteker jadi Reporter

  • Posted on July 20, 2013 at 6:00 am

Bismillah,

Pagi Dunia…

Apa kabar Surya, Bulan, Angin, Awan, Langit, Fajar, Senja, Kejora, Pelangi, Hujan, Mendung, Petir, dan semua komponen alam ini di mana pun kalian berada.

Rasanya ketika lisan tak mampu bicara dan otak tak mampu berpikir, mungkin hanya hati yang merasa. Atau bahkan mungkinkah hati bisa mati? Aku tak tahu. setiap kudengar pertanyaan itu selalu menohokku, Apa yang kamu inginkan, Nis?

Oke cukup curhatnya. Sekarang waktunya berbagi cerita dari hasil obrolan bersama saudara sebangsa dan setanah air yang kutemui di TJ. TJ apa itu?
Sudah lama tidak naik trans jogja, kamis malam akhirnya naik lagi. Waaah, aku masih diingat mbak-mbak penjaga shelter. “Lama ngga naik. Nggak mudik ke kalimantan?” Ternyata aku masih diingat, kangen juga terkadang untuk naik dan lari-lari dari trans jogja menuju kampus atau dari kos ngejar trans jogja. Idealis banget dulu kalo aku nggak mau naik motor apalagi mobil, bikin polusi. Ngobrol-ngobrol dengan mbak-mbaknya, ada banyak fakta baru yang kutemukan :

1. 20 unit bus Trans Jogja yang baru sudah dioperasikan karena ada beberapa bis yang rusak.

2. Tahukah kalian jika teknologi yang dipakai oleh shelter transjogja itu adalah karya GamaTechno? Aku jadi ngebayangin GamaTechno bakal bikin buat pintu sinar detector yang bisa ngitung jumlah orang yang keluar masuk shelter, kayak di Jepang gitu biar bisa pada sholat penjaganya waktu sholat. Di Jepang aku pernah baca dari koran kalo sudah dikembangkan supermarket yang pintunya itu nggak ada yang ternyata oh ternyata adalah berupa sinar. Dari hasil obrolan itu, aku ngrasa jahat juga ya membiarkan orang nggak bisa sholat tepat waktu karena harus menjaga shelter. Tuntutan pekerjaan mbak, ujar beliau. Apakah dengan cara seperti ini? Terlebih ketika ada yang ketawan nggak jaga shelter, akan dicatat oleh petugas kantor dan bisa saja dipecat. Begitukah cara kita membangun perekonomian rakyat, menekan mereka hingga tersudut tanpa tahu harus kemana hingga akhirnya hanya bisa pasrah dan manut, apalagi lapangan pekerjaan lagi susah. Aku tanya lagi, Kenapa nggak nyambi jualan gitu mbak? Mungkinkah wirausaha bisa ditengah rutinitas menjaga shelter? Hmmmmm..harusnya bisa..tapi apa ya??? Ada ide??? Buat PKMK aja..hehhehe

3. Bus Trans Jogja bukan lagi berada di bawah Dinas Perhubungan DIY ternyata, tapi sudah terlepas dari pemerintah. Lhooooo??? Bukankah pada awalnya ini merupakan kebijakan pemerintah untuk mengatasi kemacetan lalu lintas jogja yang mulai padat merayap? Jadi ingat tulisan “Jaga Jogja Ya, Belum Terlambat” yang belum aku ketik. Mengingat jumlah kendaraan bermotor yang semakin banyak di jogja, apalagi banyak mobil-mobil ngecling baru platnya XX 17, XX 18 baru-baru yang semakin menyesaki jalanan jogja. Ada apa dengan jogja, ada apa dengan transjogja, ada apa dengan cinta kita pada bumi Jogja?

4. Pegawai shelter transjogja ternyata menerapkan sistem Outsourcing. Dan aku masih belum paham juga dengan sistem ini. Kasihannya dulu THR diberikan 2 kali, waktu idul Fitri dan Natal. Kata mbak nya sekarang cuma 1 kali. Ada apa gerangan? Apakah kebijakan ini baik? Belum lagi mereka harus menjaga shelter di kala yang lain berkumpul sama keluarga. Namanya juga resiko kerja, mbak. Adakah yang salah di sini?

Untuk ini, mungkin harus ada yang memikirkan bagaimana menata lagi sistem transportasi yang seharusnya diterapkan di jogjakarta ini. Mungkinkah bisa dilakukan pembatasan jumlah kendaraan keluar masuk jogaj, dimana semua orang diwajibkan naik transjogja, cuma dari pemerintah sendiri juga harus berkomitmen untuk memperbaiki sistem pengelolaan transjogja? Aku malah mikirnya kenapa nggak dibuat jalur layang khusus untuk transjogja, bayanganku bis transjogja ada jalan sendiri di jalan layang di atas jalanan jogja, pasti nggak kena macet.hehehehe

Kita kembali ke cerita perjalanan dalam transjogja ini. Menunggu bus sampai jam 8.20 an malam, akhirnya datang juga. sedikit penumpang yang ada, 6-7 orang mungkin. Dan aku duduk di samping seorang ibu yang tampak baru dari rumah sakit. Dan inilah satu fakta lagi yang kutemukan. Beliau menjaga anaknya yang sakit sepsis dan saat ini sudah mengalami komplikasi pada ginjal dan hati. Anak berumur 7 bulan menderita sepsis dan baru dirujuk setelah rumah sakit X menangani secara lambat. Dan yang aku pikirkan waktu itu adalah kenapa rumah sakit kayak gitu? Keterbatasan sarana dan prosedur administrasi kadang menyesakkkan dada ya. Tidak ingatkah kita berurusan dengan nyawa manusia meskipun memang umur sudah diatur oleh-Nya. Nyawa. Apa peran apoteker, dokter, rekam medis, perawat disana? Dulu semester 5 sempat kepikiran untuk membangun suatu sistem Pelayanan Kesehatan berdasar prinsip Pharmaceutical Care, dimana pasien menjadi orientasi utama. Kayak di film Code Blue yang rumah sakitnya keren banget, ada program dokter Heli siap siaga menangani pasien langsung. Bahkan ada yang operasi on the spot. Rumah sakit dengan sarana lengkap, obat-obatannya kita pakai obat herbal Indonesia (Jamu, OHT, Fitofarmaka) atau terapi dengan aromaterapi. Lalu, rumah sakit yang siap digunakan untuk uji klinis obat herbal tadi, ditambah pelayanan informasi obat yang memadai, terutama obat herbal. Apa yang bisa kamu lakukan, Nis? Hanya menulis. Mungkin hanya menulis dan belajar menjadi apoteker yang baik. Dan nama rumah sakitnya Rumah Sakit An Nisa.hehehehehe…dengan jaringan informasi tercepat antar satelit. Terus ada taman hijaauuuuu yang  memberikan terapi non farmakologis kepada pasien. Menyehatkan.

Kenapa aku suka sekali bermimpi? Aku suka memikirkannya dan kali ini aku mencoba menulisnya. Rumah Sakit keluarga yang menjadi impian keluargaku, apa bisa aku mewujudkannya? Memikirkan rumah sakit ini sudah aku lakukan sjak 2008, sejak pertama kali kulihat bangunan Rumah Sakit JIH. Besok aku harus kerja di sana. Bisa nggak ya? Tapi entah bisa atau tidak, banyak fakta yang belum kutemukan untuk memastikan di mana aku akan bekerja besok.

Untuk saat ini, selamat mengejar mimpi Teman. Buat yang baca ini, semoga menginspirasi.

Apakah aku selalu mengimpikan sesuatu yang tidak mungkin?

Please Comment Here :)

Leave a Reply