You are currently browsing the archives for 6 August 2013.
Displaying 1 entry.

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Terorisme

  • Posted on August 6, 2013 at 6:13 am

Bismillah, selamat pagi rekan-rekan pelanggan setia rubrik KCAB (Ketika Cinta [akan] Bertasbih.wkwkwkwk)

Assalamu’alaykum wr.wb.

Sudah membaca judul di atas? Hayooo, yang belum coba dibaca lagi ya..Jadi, hari ini ceritanya saya ingin berbicara mengenai terorisme. Wooooo, judulnya serem. Apa alasan saya memilih judul ini? Hmmmmm…karena sudah lama tidak nonton tipi, akhirnya bisa nonton tipi lagi dan langsung dikejutkan adanya ledakan bom di Wihara Ekayana, tempat peribadatan umat Budha di Jakarta. Bulan Ramadlan yang seharusnya bulan yang damai dan penuh kasih sayang ini harus ‘ternodai’ (duh bahasanya,hahaha) oleh berita ini. Berkah ramadlan nya hilang lho nanti. Dari berita (entah benar atau tidak sumbernya, berita tidak ada yang bisa dipercaya 100% sekarang. Pre-Judging.-red), Ledakan di wihara ini terjadi 3 kali. Untungnya ledakan terjadi ketika tidak sedang dilaksanakan kegiatan ibadah di sana. Bisa dibayangkan kan jikalau orang lagi beribadah lalu ada bom meledak, sungguh jalan kematian yang tidak diinginkan. Berbicara tentang kematian, semua orang ingin mati yang baik kan? Jalankan saja perintah agama dan jauhi larangan yang sudah ditetapkan agama. It’s a simple thing, right? Hanya saja, termasuk saya karena saya juga hanya manusia biasa yang tak sempurna dan kadang ada salah (Upppsss…Yovie and Friends keluar deh.-red), kita masih tergoda dengan indahnya bersuka cita di dunia ini, yang tanpa kita sadari telah membutakan mata kita pada dunia yang lebih indah nanti. Do you believe that? I believe…I believe…I believe…in You (Sekarang malah Il Divo, maklum mantan personil PSM FARMASI UGM.hehehehe)

Tuh kan, kebiasaan ngelantur ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, sak tenane aku ora ngapusi.. Ngomongin apa tadi? Terorisme ya? Eh kematian ding? Hmmmm..kenapa sih ada terorisme? Apa sih terorisme itu?

Sebelum melangkah jauh kesana, aku ingin bercerita mundur sedikit ke masa-masa SD dan SMP saya dulu. Satu mata pelajaran yang amat saya senangi adalah PKN, PPKN, Kewarganegaraan deh dulu namanya. Kurikulum yang berubah-ubah harus mengakibatkan nama pelajarannya berubah. Yang penting esensinya nggak sih Nis, ilmunya, bukan namanya.| Tapi kan nama memengaruhi maknanya. #plak.

Aku jadi ingat dulu aku suka menghafal pasal-pasal dan pembukaan UUD 1945, nggak tahu kenapa bagus aja gitu. Pasal-pasal yang membahas tentang Kepribadian dan Budi Pekerti Luhur (Jadi ingat dulu pas SMP jadi anggota OSIS Sie ini dan hanya aktif di awal. Huhuhuhu), HAM, Pemerintahan, dan Perubahan Konstitusi Negara (Hayooo, inget nggak pasal berapa yang membahas tentang ini?). karena temanya tentang terorisme, aku rasa ini ada hubungannya dengan kehidupan beragama kita yang mana sudah diatur dalam undang-undang dimana tiap warga Negara sudah diberi kebebasan untuk memeluk dan menjalankan peribadatannya sesuai agama dan keyakinannya masing-masing (saya lupa redaksinya, tapi aku ingat ini pasal 29 ayat 1 UUD 1945). Negara sudah menjamin tiap agama boleh berkembang di Indonesia, selama memenuhi koridor Pancasila yang mengakui adanya Tuhan. Lalu, kenapa sampai saat ini kita masih melihat adanya konflik antar umat beragama atau bahkan intern umat beragama itu sendiri?

Kalo kubilang sih, orang kayak Sadam nggak usah dilawan (Malah Petualangan Sherina lagi). Masih ingat nggak kawan dengan Tri Kerukunan Hidup Beragama?  Yang sudah lupa atau mulai lupa, mari saya ingatkan lagi.

Tri Kerukunan Hidup Beragama

  1. Kerukunan Intern Umat Beragama
  2. Kerukunan Antar Umat Beragama
  3. Kerukunan Antara Umat Beragama dengan Pemerintah, Masyarakat, dan Umat Beragama Lainnya. (Bener nggak ya? Aaaa..aku lupa…pokoknya dulu nomor 2 dan 3 sering kebalik, antar dan antara. Mohon diluruskan ya pembaca.:) )

Kerukunan bermula dari lingkungan intern agama itu sendiri. Apalagi ini bulan Ramadlan, mari hidup rukun dalam menuju kemenangan. Karena itulah mengapa kita disuruh mencintai diri kita sendiri, sebelum mencintai orang lain. Hal ini menunjukkan ketika kita mencintai diri kita sendiri dulu, kita sudah berdamai dengan diri kita sendiri, sehingga orang lain akan nyaman dengan kita. Bagaimana denganmu Nis? Aaa, itu ranah topik yang berbeda. Biar saya dan Allah saja yang tahu ya.hihihihi

Setelah antar umat beragama rukun, selanjutnya kita harus rukun dengan pemerintah. Kenapa? Karena mau tidak mau pemerintah adalah pemimpin kita yang sudah menjamin kebebasan kita dalam beragama. Di sini kita bisa melihat adanya interaksi yang bersifat timbal balik antara masyarakat dengan pemerintah. Ketika pemerintah membuat kebijakan yang dirasa tidak adil untuk satu agama tertentu, masyarakat boleh langsung tindak tegas ke pemerintah dengan mengkritisinya. Justru pemerintah akan senang mengingat politik di Negara kita kan Politik Bebas Aktif. Nah, bebasnya udah sekarang tinggal aktifnya. Aktif gimana maksudnya? Ketika seseorang mengkritisi sesuatu, mereka harus punya dasarnya dan juga bisa memberikan solusi dari apa yang dia kritisi tadi. Di sinilah kita butuh pemikiran yang kreatif. Siapa yang merasa dirinya kreatif? Woooo…banyak..aku tantang ya. Jawab dalam 5 detik. Apa yang ada di dalam benak Anda ketika Anda membaca kataaaaa…..UANG? Jengjeng..kalo yang ada di bayangan Anda muncul 1000, 2000, 10000, itu normative. Tapi jika Anda sudah membayangkan buku baru, bisnis yang sukses, atau cara mencari uang, Anda sudah masuk kategori kreatif.yeeeyyyy..Tepuk tangan..hihihihi

Berpikir Kritis dan Kreatif. Kritis dalam mencari akar permasalahannya dan kreatif dalam mencari solusi permasalahannya. Jangan sampai yang terjadi adalah Lempar Batu Sembunyi Tangan, yang ada nanti Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula.

Kembali ke topic awal. Terorisme. Dari kata teror dan akhiran -isme. Teror adalah tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk menakut-nakuti, menganiaya, atau membuat kondisi yang mengancam dan -isme berarti paham/aliran. Jadi, secara terminologi, dia berarti aliran/paham yang ingin membuat lingkungan atau kondisi yang mengancam kehidupan orang lain. Setahu saya, membuat orang lain merasa terancam itu ada banyak bentuknya. Ada yang disebut dengan istilah teror fisik. Tapi, tahu nggak sih kawan ada bentuk terror yang lebih kejam dibandingkan terror fisik? Yaitu Teror Mental (Judul buku yang kubaca waktu SMP dulu karya Putu Wijaya kalo nggak salah. Covernya hitam dengan sketsa berwarna ungu yang menggambarkan seseorang sedang membaca puisi. Bacaanku emang serem serem waktu kecil. Sampai sekarang juga masih bersentuhan dengan psikologi. Besok aku ceritain deh 1 topik tentang psikologis dan prospek kerja yang mereka miliki)

Teror mental berarti upaya untuk membuat seseorang merasa terancam ‘jiwanya’. Jiwa dalam artian mental/psikisnya. Ini justru lebih berbahaya, bukan? Ketika mental seseorang terancam, dia tidak akan bisa melakukan apapun. Ingat prinsip Men Sana in Corpore Sano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula. Pertanyaan terakhir lomba dokter kecil dulu dan aku juara 2 karena kuat secara teori praktik dokternya. That’s why Long time ago, I wanted to be a doctor like Patch Adam.

Lalu, bagaimana teror mental dapat terjadi? Jadi ingat juga kemarin malam nonton tipi dan mendengar ucapan Kepala BNN bahwa Terorisme memang bahaya, Narkoba lebih berbahaya. Are you serious, Sir?

Hmmmm..dari sudut kacamata saya sebagai (calon) apoteker, memang benar jika narkoba justru yang menjadi teror yang paling berbahaya. Kenapa? Karena itu tadi, teror mental. Narkoba itu ketika digunakan secara terus-menerus akan mengakibatkan seseorang mengalami kondisi sakau dan ketergantungan. Ketika mereka tidak mengonsumsi barang 1 tablet aja, mereka akan langsung histeris. Karena dalam narkoba itu ada kenikmatan semu akibat kandungan zat aktif yang ada di dalamnya. Padahal, obat-obatan dengan kandungan zat aktif ini boleh digunakan di bawah pengawasan dokter dan apoteker. Hal ini dibuktikan dengan adanya aturan bahwa obat-obatan psikotropika dan narkoba hanya boleh dilayani apoteker dengan resep dokter. Dan ini pun masih harus dikonfirmasi ulang ke dokter, apakah memang meresepkan penggunaan psikotropika dan narkoba pada pasien yang bersangkutan. Ini saya bicara idealnya, karena saya orangnya idealis. Tapi realita berbicara lain sih. Yaaa, kita sedang dalam proses menuju kesana, yakini itu. 🙂

Lalu, Kepala BNN berkata bahwa saat ini pecandu narkoba di Indonesia sudah mencapai 4 juta orang/tahun. Sementara sarana rehabilitasi yang dimiliki hanya mampu menampung 18.000 orang/hari. Aku jadi berpikir ini bakal jadi peluang kerja apoteker yang baru nih, bisa pada ranah deteksi narkoba dan simplisianya, bisa pada ranah layanan konseling pecandu narkobanya juga.hohohoho). Beliau menyampaikan upaya untuk mengurangi penggunaan narkoba seharusnya tidak hanya dari pemerintah dalam hal ini BNN ya. Perlu peran aktif semua elemen untuk menanggulangi narkoba ini. Beliau memberikan contoh, seharusnya bisa dari pabrik-pabrik obat juga membangun panti rehabilitasi para pecandu narkoba. Aku setuju dengan pernyataan beliau yang ini. Mengapa? Pabrik obat karena kita bicara narkoba/narkotika/psikotropika, berarti kita menyorot 1 pabrik, yaitu PT. Kimia Farma yang ditunjuk oleh pemerintah menjadi regulator utama dalam persebaran narkotika di Indonesia. Adanya panti rehabilitasi ini bisa menjadi salah satu bentuk pertanggungjawaban pihak industry atas peredaran obat yang mereka lakukan. Dan disana nanti yang bekerja adalah apoteker karena bicara obat, bicara apoteker. Saya belum masuk kriteria, karena masih calon.hehehehe

Sebenarnya tidak hanya PT. Kimia Farma, alangkah lebih baiknya jika setiap pabrik obat yang ada di Indonesia memiliki 1 panti rehabilitasi ataupun panti pelayanan kesehatan dan obat untuk masyarakat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban tadi. Apalagi, saat ini masyarakat Indonesia makin cerdas dan kreatif, apa-apa saja bisa lho dijadikan narkoba. Dari obat batuk kodein misalnya. Kok bisa ya bikin fly? Kalo apoteker yang bicara, tentu bisa. Karena kodein adalah turunan dari morfin. Morfin atau opium ya? Aduh, tulisan ini tidak layak dipercaya, berarti aku belum memenuhi kriteria output yang ingin dihasilkan dalam PPSMB nanti, dapat dipercaya.huhuhuhuhu..Ya sudah, mari belajar.

Sekian celotehan saya untuk pagi ini, semoga bermanfaat. Akhirul kalam,

Wassalamu’alaykum wr.wb.

 Annyeong, 🙂