Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang ETNIK

  • Posted on September 20, 2013 at 6:54 am

Kemandirian memang suatu tujuan.
Tapi,
Kita juga tidak boleh lupa bahwa dalam kemandirian itu kita membutuhkan perjalanan berupa tahapan-tahapan yang diperlukan untuk mencapai kemandirian itu.

=============================================================================================

Kuliah kamis sore mengingatkanku pada masa-masa beberapa bulan lalu, yang mengantarkanku pada keinginan itu, FITOFARMAKA.

Hmmmmm…Darimana harus memulainya?

Bahwa kebudayaan lokal yang kita miliki bisa jadi adalah modal utama kita guna membangun tujuan tadi, Kemandirian.

Untuk menjadi mandiri, kita harus mau mandiri dahulu kan?
Jika melihat sejarah dulu (maklum, mata kuliahnya akan banyak berbicara tentang sejarah pengobatan di Indonesia. Hayoooo tebak, mata kuliah apakah ini?hehehe..:P ), kita pasti akan menyadari bahwa kita memang sudah mandiri. Sudah buat obat sendiri, diramu sendiri, dikonsumsi sendiri, dan dinikmati sendiri (kalo ini jangan ding, nanti dibilang egois.:) ).

JAMU,

Dalam aplikasi keseharian kita, kita mengenal kata ini. sesuatu yang bisa kita konsumsi, baik untuk mengobati penyakit (kuratif), mencegah penyakit (preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), mempercepat kesembuhan (rehabilitatif), dan mengurangi rasa sakit (paliatif).

Banyaknya aksi yang dimiliki oleh jamu inilah yang bisa menjadi modal bagi JAMU untuk menjadi kebanggaan kau dan aku, yaitu kita semua.
Sehingga muncullah trend yang selama ini berkembang, “TRADMED COMPLEMENTER” yang menempatkan jamu sebagai komplementer pada terapi suatu penyakit.

Yang jadi permasalahan sekarang adalah tren dunia global yang menuntut adanya bukti ilmiah (scientific evidence) dari JAMU.

Bagaimana bisa dia menurunkan tekanan darah,
Bagaimana bisa dia membunuh sel kanker?
Dan yang tidak kalah penting bagi beberapa orang,
Berapa banyak yang berperan? Siapa yang berperan dalam terapi ini?

Lalu,

Muncullah berbagai macam riset-riset ilmiah yang berlomba-lomba membuktikan bahwa senyawa X, Y, Z dan sebanyak A gram lah yang berperan dalam terapi itu. Dimana semua itu demi satu tujuan, bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa JAMU memang berkhasiat.Hingga akhirnya akan melalui serangkaian uji, mulai dari uji praklinik, uji klinik tahap I, uji klinik tahap II, uji klinik tahap III, dan post market surveilance. Baru setelah itulah JAMU diakui berkhasiat, yang akan kita kenal dengan istilah FITOFARMAKA.

Namun, di satu pihak,

Kita juga tahu bahwa jamu telah lama digunakan masyarakat secara turun temurun dari nenek moyang, yang bisa jadi lebih cerdas dan bijak dibandingkan kita saat ini. Apakah kita meragukan kebijaksanaan dan kecerdasan nenek moyang kita dulu?

Tidak begitu,bukan berarti kita harus kembali ke masa lalu. Masa lalu ada untuk menjadi pelajaran dan sarana belajar kita, bukan?

JAMU,

Dirasakan riset-riset untuk mencapai FITOFARMAKA itu memang akan membutuhkan biaya yang sangat besar dan sarana pendukung yang canggih, mulai dari riset praklinik hingga uji kliniknya yang membutuhkan rumah sakit-rumah sakit teruji dan berkualitas serta memenuhi standar pengujian calon FITOFARMAKA ini. Belum lagi jika ditengah perjalanannya, FITO mengalami kepleset, kesandung, jatuh, tergelincir yang mengakibatkan riset harus diulang lagi dari awal. Who knows about what will happen, right?

Allah, of course..:)

Lalu, riset-riset seperti apa yang seharusnya dilakukan? Mungkin ada baiknya jika kalian mengikuti kuliah ini, dan aku pun tidak ingin gegabah lagi dalam mengungkapkan apa yang kupikirkan atau kudengar. Ketika diperdengarkan bahwa riset-riset yang dilakukan sebenarnya sederhana dan murah ketika kita benar-benar mau terjun langsung ke masyarakat (Etno –> We will talk about ETHNIC (bener nggak ya nulisnya.hehehe-red), dan kemudian bisa kita lakukan uji praklinik (dengan hewan) atau uji klinik (pada manusia).

Pertanyaan ini kemudian mengusikku.

Bagaimana dengan kemungkinan adanya senyawa atau efek tak diinginkan dari tanaman itu atau sari tanaman itu?
Bagaimana dengan prosedur penelitian/metodologi penelitiannya jika begitu?
Apakah lebih baik jika memang benar kita ingin mempertahankan JAMU sebagai identitas obat INDONESIA,
Tanaman apa yang memang benar-benar akan dikembangkan pemerintah untuk menjadi JAMU?
Apakah kita perlu membuat prosedural/metodologi penelitian tersendiri,

untuk JAMU,

untuk kekayaan kita sendiri?

Bagaimana dengan konsep standardisasi itu sendiri? Aku bingung menuliskannya.

Lalu mana yang lebih penting saat ini,

STANDARDISASI atau SAINTIFIKASI?

JAMU,

sebuah harapan masa depan bagi kemandirian kesehatan, dimana dalam harapan itu ada satu harapan kita tidak lagi bergantung pada obat sintetik dan jamu lah yang menjadi andalan pengobatan. Atau jamu dalam bentuk lain, fitofarmaka?

Who knows what will happen?

Selamat Jum’at Pagi, Barakallah ya akhi ya ukhti..:)

Please Comment Here :)

Leave a Reply