Ketika (calon) Apoteker Berbicara Bintang #1

  • Posted on September 26, 2013 at 9:35 pm

Menjelang dies kampusku, entah kenapa malah diri ini yang ingin berbahagia.
Mungkin karena sudah 3 tahun dan memasuki tahun keempat aku menapaki pembelajaran di kampus ini. Bahagia? Sedih? Suka duka?
Lembar episode demi episode ku bersama kakek (Jika kalian tahu siapa kakek dalam serial kakek dan aku, selamat. Anda ternyata memahami saya.hahahaha..Terima kasih semua)
Teruntuk kampusku,
kau mengenalkanku pada semua orang/ orang-orang ataupun makhluk-makhluk yang mengajakku untuk menjadi seorang pembejalar. Seperti kata kakek, bahwa aku harus memiliki sembilan bintang yang memang akan diberikan di pundakku (semoga),
Dan ada satu bintang yang aku rasa aku dapatkan kali ini, atau setidaknya selama ini,
Bintang pertama dalam farmasi,

Long Life Learner

Tentang menjadi seorang pembelajar,
Mungkin teman-teman sudah sering atau bahkan teramat sering mendengar nasehat ini (mungkin juga diriku),
tentang belajar itu sendiri. Bunyinya seperti ini,
“Hidup untuk Belajar” atau “Belajar untuk Hidup”. Which one do you choose?
Terlebih posisi kita dan saya sendiri sebagai seorang (calon) Apoteker dan (calon) mantan mahasiswa, memaknai belajar itu sendiri rasanya tidak pernah habis di sepanjang hidup kita. Karena itulah belajar, bahwa kehidupan itu sendiri merupakan suatu pembelajaran.
Pembelajaran, disini kita melihat adanya imbuhan pe- dan akhiran -an yang menunjukkan suatu proses. Jadi dalam kehidupan itulah kita belajar (jika aku boleh menyebutnya demikian). Kita tidak dikatakan hidup jika kita tidak belajar.
Bagaimana dengan Hidup untuk Belajar?
Menurutku, itu sah-sah saja karena itu tadi, belajar adalah suatu proses kehidupan. Proses membentuk kehidupan itu sendiri. Hanya terkadang, ada satu hal yang kita lupakan, bahwa
untuk apa kita belajar?
Maksud pertanyaan di atas adalah
Lalu, belajar itu sendiri untuk apa? Aku ingin menekankannya pada tujuannya dari belajar, tapi kenapa susah untuk diungkapkan dalam tulisan ini ya?
Jika kita memilih belajar terus-menerus, lalu belajarmu itu untuk apa? Ini maksudku.
Untuk mencari ilmu? Setelah ilmu didapat lalu apa, toh ilmu tidak perlu dicari pun dia akan tetap ada dan berdiri tegap bak cahaya mentari pagi. Coba kita ingat lagi dalam serial kakek dan aku tentang episode Ilmu yang Terkunci, bahwa ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Yayayayaya, itu benar. Di sini kita akan melihat siapa yang butuh dan siapa yang dibutuhkan. Mungkin anda sudah tahu jawabannya.

Kembali ke pertanyaan kedua,
Setelah ilmu didapat lalu apa? Ingin mengembangkan ilmu? Dibandingkan dengan yang pertama, mungkin jawaban ini lebih baik, setidaknya dalam pencarian (ceileee bahasanya pencarian, nyari apa? Asalkan tidak menjari jarum di semak jerami aja ya..susah, apalagi jarumnya jarum emas. susah bedain warnanya.)

Karena saya orang yang suka bertanya, saya ingin menanyakan satu pertanyaan lagi deh.
Lalu, ilmu dah dikembangkan. Lalu buat apa? Apa tujuan kita mengembangkan ilmu itu? Hmmmm..berat tidak sih pertanyaan ini? I think everyone can answer this simple dificult question.
Mungkin tidak semua orang mendapatkan materi kuliah ini, karena sekali lagi, tidak semua orang suka untuk mempelajarinya. Siapakah gerangan?
Saya ingin mengajak anda semua menelusuri kampus UGM tercinta dan kali ini kita akan bersinggah di kampus yang banyak mengajarkanku tentang nasionalism dan keberagamaan. Sudah tahu kan?
Banyak yang bilang saya orangnya sangat filosofis dan akhir-akhir ini semakin terasa. Mungkin yaaa… Makanya betah di kampus itu untuk belajar tentang filosofi, menelusuri makna dari satu fenomena. Dan satu tetangganya juga aku senangi, tapi tidak akan aku bicarakan sekarang. Someday, maybe? (Jangan sampai karena sering bilang ini, gelar kamu M.M ya? Magister Maybe atau Magister Mungkin.:) )
Dan di sana kita belajar satu tema yang amat menarik, filsafat ilmu. Dan ini kita dapatkan di semester 5. Dan perlu kalian tahu,
ketika saya iseng-iseng datang ke sidang terbuka mbak-mbak S2 tempo lalu, saya mengambil brosur program studi S2 Farmasi UGM. Dan anda tahu apa yang saya dapat?
It’s shocking me like crazy when I realize that topic “Philosophy of Science atau bahasa Indonesia nya Filsafat Ilmu” diberikan untuk anak-anak S2 bro/sist. Nyadar nggak sih lu bro/sist kalo lu-lu pada dianggap anak S2 oleh dosen kita? Atau kita memang dianggap sangat pintar oleh beliau hingga kita bisa melewati masa-masa itu? Dan kita berhasil.hahahahaha…
Maaf ya Pak saya sebut nama Anda di blog saya lagi. Anda sangat menginspirasi saya.
Kembali lagi ke tema tentang filsafat ilmu, bahwa dalam paradigma pengembangan ilmu itu sendiri, ada 3 pokoknya.  Aduh aku lupa dan saya lagi sibuk untuk mencarinya di catatan saya. Mungkin bisa Anda googling atau yahoo-ing.hehehehe
Setidaknya, dalam pengembangan ilmu kita harus ingat ya, adik-adikku,
untuk tahu kepada siapa pengembangan ilmu itu ditujukan, karena disini kita akan melihat seberapa jauh kebermanfaatan dari pengembangan ilmu yang kita lakukan itu. Jangan sampai yang terjadi adalah kesia-siaan, walau kita tahu
Tidak ada yang sia-sia di dunia, tergantung apakah kita melihat dari langit atau bumi. Atau mungkin kita melihatnya dari kacamata kita? eh, kacamata…hihihihi

As my closing statement in this article, I wanna say,
“Happy birthday for my lovely campus, Long life farmasi UGM. Berbagai macam isu menanti untuk diselesaikan cucu-cucu penerusmu, Kek. Semoga aku bisa menjadi cucu yang baik untuk kakek ya. semoga.”

“Hidup untuk Belajar untuk Hidup”

Please Comment Here :)

Leave a Reply