You are currently browsing the Cerbung (Cerita Terhubung) category
Displaying 1 - 2 of 2 entries.

Dunia Taru the Series – Episode Tatar vs Veggy #1-

  • Posted on August 17, 2013 at 6:25 am

Dunia Taru the Series – Episode Tatar vs Veggy #1-

Tatar sudah masuk sekolah lagi setelah libur panjang kenaikan kelas kemarin. Dengan hasil yang biasa-biasa aja rapornya, Tatar tetap meminta hadiah dari Bapak dan Mama.

“kan Tatar nggak nyontek, Ma. Tatar mau dapat hadiah.” Ujar Tatar seusai penerimaan raport. Mama agak kecewa dengan ulah Tatar.

“Heeeee, Tapia da yang kurang nggak dari Tatar? Kenapa hasilnya bisa gini.”

“Namanya juga anak-anak Ma, biarin aja. Yang penting Tatar harus belajar. Kayaknya Mama lupa deh maksud dari belajar.” Bapak seperti biasa selalu membela Tatar.

“Nah, itu Bapak benar Ma. Mama kayaknya pernah bilang ke Tatar, kalo belajar itu ya nggak Cuma pelajaran. Belajar itu dari tidak tahun menjadi tahu, dari tidak paham menjadi paham, dari tidak menerapkan menjadi menerapkan. Tapi Pak, hubungannya tahu ma paham ma menerapkan apa sih?”
“Nggak tahu juga, coba tanya Mama.” Tatar yang melihat wajah kecewa Mama nya jadi urung menanyakan hal itu meskipun sebenarnya Mama mendengarkan. Mama hanya kurang suka satu sifat Tatar, Tatar anak yang pemalas. Belajar hanya waktu ketika ujian. Bagi Mama, mau bagaimanapun ya nilai harus bagus, itu mencerminkan kognitif Tatar. Setidaknya bermanfaat bagi Tatar. Bapak pun memahami dan hanya berucap,

“Semoga aja system pendidikannya berubah Ma. Selama ini kan pendidikan Cuma dilihat dari nilai aja, bisa aja besok waktu ganti presiden, kebijakan dan system pendidikannya ganti jadi lebih memerhatikan karakter anak. Habis itu nanti pasti Tatar bisa dapat yang terbaik, kan Tatar ana yang baik.” Bapak mengelus rambut Tatar. Dan Mama pun mendekati Tatar yang cemberut.

“Bagi Mama, Tatar akan tetap menjadi anak Mama yang terbaik. Tatar sayang Mama, kan?”
“Iya, Ma. Tatar selalu sayang Mama dan Bapak. Tatar janji nggak akan ngecewain Mama dan Tatar lagi.” Tatar mengangkat tangannya.

“Demi Allah?”
“Demi Rasul aja deh Ma.hihihihihi” Tatar berlari masuk ke dalam rumah.

“Bapak, hari ini kita masak ya. Masak sayur merah lagi. Mama masak camilan aja.”

Melihat tingkah anaknya, pasangan suami istri ini agak khawatir. Hampir selama 3 tahun ini, yaitu sejak Tatar berumur 4 tahun, Tatar tidak suka sayur. Hal ini dimulai ketika pertama kalinya Mama memasak sayur merah untuk keluarga, karena sayur merah merupakan masakan favorit Mama dari remaja. Dan ternyata Tatar juga menyukainya. Bisa dikatakan Tatar lebih lahap ketika makan sayur ini dibanding yang lain. Mungkin hanya ditambah segelas susu coklat.

“Tapi kan ini daging Pak. Masak Tatar nggak makan sayur? Ntar sakit karena nggak dapat vitamin gimana?”
“Vitamin kan nggak hanya di sayur Ma, di buah juga ada. Tatar doyan buah nggak ya? Mama sering ngasih buah ke Tatar nggak?”

“Tuh, Bapak aja nggak perhatian sama anaknya. Emang Bapak beliin Tatar buah. Huuuuuu”

Bapak mencubit hidung istrinya.”Ih, kamu itu. Ya udah, mulai besok Bapak cari bibit tanaman buah, biar ngajak Tatar berkebun di belakang rumah. Lahannya belum ditanami tuh. Mama kan yang minta.”
“Emang iya ya Pak? Mama lupa. Hahahaha. Tapi Pak, masalah sayur gimana? Apa yang harus Mama lakukan?”
“Udah, santai aja. Mama pikirin dulu ya, Mama kan banyak akalnya. Orang kemarin aja sayur merah yang pedes dibuat manis. Bapak sebenarnya nggak suka Ma. Tapi Bapak tahu Mama pengen Tatar suka rasa pedes. Jadi ya nggak papa deh Bapak sekali-sekali makan manis.”
“Aaaaa, Bapak. Tumben hari ini romantic?” Mama menyindir Bapak.

“Mama ini, ya udah deh. Bapak mau berangkat dulu.”
“Kemana Pak?”
“Katanya suruh cari bibit tanaman buah?”
“Ih, itukan idenya Bapak. Kok malah bilangnya suruhan Mama?”

“Oh iya ya? Bapak udah mulai pikun ni Ma. Gimana dong? Ajak Tatar ah.”
“Yeeeee, Bapak kok ngomongnya gitu. Tatar baru tidur siang Pak. Bapak pergi sendiri aja. Nanti sore kita tanam bareng-bareng bibitnya, terus Mama nyiapin makan malam special buat Tatar.” Ucap Mama seperti biasa, ketika ide muncul di kepalanya.

“Iiihhh, dah keliatan nih aura-aura idenya. Ya udah Bapak berangkat dulu ya Ma. Assalamu’alaykum, Adik.”
“Wa’alaykumsalam, Kakak. Hati-hati di jalan. Ban mobil dah kempes sama air radiator dah harus diganti Pak.”
Bapak hanya tersenyum. Memang Mama yang terbaik, batinnya.

Lalu, Mama masuk ke dapur dan melihat sayuran apa yang ada dalam kulkas. Hmmmm..wortel, sawi hijau,  dan brokoli. Dibuat apa ya biar Tatar mau makan? Mama berpikir sejenak dan

Ahaaaaaa

Dan Mama pun meracik sayur itu untuk dimasak nanti sore, selepas agenda menanam bibit.

Bapak beli bibit tanaman buah apa ya?

-to be continued-

-Dunia Taru the Series, Episode Tatar Belajar Bahasa-

  • Posted on August 2, 2013 at 6:49 am

Episode Tatar Belajar Bahasa

Sore itu Tatar dan Bapak baru saja pulang dari kegiatan rutinitasnya, bersepeda. Dan begitu sampai di rumah, Tatar langsung mencari mamanya.

“Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaa”

“Heeeeee, pulang-pulang kok langsung teriak gitu? Yang benernya gimana hayoo Tatar?”

“Hehehe..Assalamu’alaykum, Bunda cantik.”
“Wa’alaykumsalam warohmatullah. Siapa yang ngajarin Tatar mulai ngegombal gitu.”

“Itu, yang baru markirin sepeda di luar.”

Dan Bapak masuk ke dalam, “Hei…Kok Bapak dipanggil itu. Kan bapak punya nama” Bapak mencubit halus hidung Tatar. Dan hidung Tatar pun memerah.

“Duh, sakit Bapak. Ma, tahu nggak?”

“Ya engga, kan Tatar belum cerita.”

“Hehehehehe..Iya juga ya..Ada kejadian lucu Ma tadi. Kan Tatar sama Bapak sepedaan keliling desa, nah tadi tuh ada kucing di pinggir jalan, kayaknya kakinya terkilir gitu. Tatar turun duluan dan langsung nolongin kucing tadi. Bapak pas mau turun malah ketemu bule-bule ganteng banget, terus malah ngobrol. Nah, pas aku mau ngedeketin kucing, kucingnya malah manjat ke pohon. Aku ikutin kucingnya, jadinya aku manjat. Tapi aku jatuh, nih lukanya..” Tatar menunjukkan luka di lututnya.

“Ooohh, sakit ya Tatar. Nanti diobati dulu ya. Terus kucingnya gimana? Dah bisa turun?”

“Nah, lucunya itu mah. Aku dah jatuh, bapak sama bulenya datang lari-lari gitu. Waktu bapak ngelihat Tatar, bulenya langsung gendong Tatar gitu di punggungnya.. Kan Tatar Cuma lecet, dan kucingnya malah jatuh. Langsung dibawa bapak pulang. Tuh kucingnya.”

“Kucingnya dimana Pak? Kok bisa sih bulenya gitu?”

“Dia masih di luar kok. Tenang Ma. Kayaknya Bapak salah ucap bahasa Inggrisnya deh. Waktu Tatar jatuh, Bapak ngajak bule itu buat pergi bareng ke tempat Tatar, Let’s go together. Eh, pas di lokasi, malah langsung gendong Tatar. Apa kedengerannya let’s go to get her ya?”

“Oalah, bapak ini..hahahaha”

“Mama kok ketawa? Bapak bicara bahasa Inggris kan keren Ma. Malah mama ketawain, Mama jahat.”

“Engga Tatar, Mama nggak jahat. Tapi lucu aja gitu kalo itu benar-benar terjadi”.

“Terjadi gimana maksudnya, Ma?”
“Tatar, Bahasa itu kita bicara kata, kata akan menyusun frase-frase yang pada akhirnya membentuk kalimat yang bermakna. Kata itu juga memiliki fungsi yang berbeda-beda, tergantung situasi, kondisi, dan lokasi di mana dia berada…”

“kayak air dong ma, fleksibel” Bapak menyela seperti biasa.

“Iya, kayak air yang memberi kehidupan. Nah, selain dilihat dari makna kata itu sendiri, kata juga berbeda maknanya ketika diucapkan dengan nada yang berbeda. Kayak yang dialami Bapak tadi, penekanan ucapannya dimana akan memengaruhi makna dari suatu kalimat”.

“Wah, Mama keren. Kok Mama tahu sih tentang bahasa sampai segitunya gitu lho?”

 “Istri siapa dulu, Bapak…”

“Ya udah, sekarang Tatar mandi dulu. Terus iap-siap sholat Maghrib ya.”

“Oke, Mama..Bapak, kucingnya mandi bareng Tatar aja. Biar bareng sekalian.”

“Engga boleh, belum mahrom. Kucingnya jantan Tatar”

”Bapak, jangan bawa kucing masuk.” Mama mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi yang tersirat.