You are currently browsing the Ketika (calon) Apoteker Berbicara category
Displaying 1 - 6 of 6 entries.

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Bintang #1

  • Posted on September 26, 2013 at 9:35 pm

Menjelang dies kampusku, entah kenapa malah diri ini yang ingin berbahagia.
Mungkin karena sudah 3 tahun dan memasuki tahun keempat aku menapaki pembelajaran di kampus ini. Bahagia? Sedih? Suka duka?
Lembar episode demi episode ku bersama kakek (Jika kalian tahu siapa kakek dalam serial kakek dan aku, selamat. Anda ternyata memahami saya.hahahaha..Terima kasih semua)
Teruntuk kampusku,
kau mengenalkanku pada semua orang/ orang-orang ataupun makhluk-makhluk yang mengajakku untuk menjadi seorang pembejalar. Seperti kata kakek, bahwa aku harus memiliki sembilan bintang yang memang akan diberikan di pundakku (semoga),
Dan ada satu bintang yang aku rasa aku dapatkan kali ini, atau setidaknya selama ini,
Bintang pertama dalam farmasi,

Long Life Learner

Tentang menjadi seorang pembelajar,
Mungkin teman-teman sudah sering atau bahkan teramat sering mendengar nasehat ini (mungkin juga diriku),
tentang belajar itu sendiri. Bunyinya seperti ini,
“Hidup untuk Belajar” atau “Belajar untuk Hidup”. Which one do you choose?
Terlebih posisi kita dan saya sendiri sebagai seorang (calon) Apoteker dan (calon) mantan mahasiswa, memaknai belajar itu sendiri rasanya tidak pernah habis di sepanjang hidup kita. Karena itulah belajar, bahwa kehidupan itu sendiri merupakan suatu pembelajaran.
Pembelajaran, disini kita melihat adanya imbuhan pe- dan akhiran -an yang menunjukkan suatu proses. Jadi dalam kehidupan itulah kita belajar (jika aku boleh menyebutnya demikian). Kita tidak dikatakan hidup jika kita tidak belajar.
Bagaimana dengan Hidup untuk Belajar?
Menurutku, itu sah-sah saja karena itu tadi, belajar adalah suatu proses kehidupan. Proses membentuk kehidupan itu sendiri. Hanya terkadang, ada satu hal yang kita lupakan, bahwa
untuk apa kita belajar?
Maksud pertanyaan di atas adalah
Lalu, belajar itu sendiri untuk apa? Aku ingin menekankannya pada tujuannya dari belajar, tapi kenapa susah untuk diungkapkan dalam tulisan ini ya?
Jika kita memilih belajar terus-menerus, lalu belajarmu itu untuk apa? Ini maksudku.
Untuk mencari ilmu? Setelah ilmu didapat lalu apa, toh ilmu tidak perlu dicari pun dia akan tetap ada dan berdiri tegap bak cahaya mentari pagi. Coba kita ingat lagi dalam serial kakek dan aku tentang episode Ilmu yang Terkunci, bahwa ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Yayayayaya, itu benar. Di sini kita akan melihat siapa yang butuh dan siapa yang dibutuhkan. Mungkin anda sudah tahu jawabannya.

Kembali ke pertanyaan kedua,
Setelah ilmu didapat lalu apa? Ingin mengembangkan ilmu? Dibandingkan dengan yang pertama, mungkin jawaban ini lebih baik, setidaknya dalam pencarian (ceileee bahasanya pencarian, nyari apa? Asalkan tidak menjari jarum di semak jerami aja ya..susah, apalagi jarumnya jarum emas. susah bedain warnanya.)

Karena saya orang yang suka bertanya, saya ingin menanyakan satu pertanyaan lagi deh.
Lalu, ilmu dah dikembangkan. Lalu buat apa? Apa tujuan kita mengembangkan ilmu itu? Hmmmm..berat tidak sih pertanyaan ini? I think everyone can answer this simple dificult question.
Mungkin tidak semua orang mendapatkan materi kuliah ini, karena sekali lagi, tidak semua orang suka untuk mempelajarinya. Siapakah gerangan?
Saya ingin mengajak anda semua menelusuri kampus UGM tercinta dan kali ini kita akan bersinggah di kampus yang banyak mengajarkanku tentang nasionalism dan keberagamaan. Sudah tahu kan?
Banyak yang bilang saya orangnya sangat filosofis dan akhir-akhir ini semakin terasa. Mungkin yaaa… Makanya betah di kampus itu untuk belajar tentang filosofi, menelusuri makna dari satu fenomena. Dan satu tetangganya juga aku senangi, tapi tidak akan aku bicarakan sekarang. Someday, maybe? (Jangan sampai karena sering bilang ini, gelar kamu M.M ya? Magister Maybe atau Magister Mungkin.:) )
Dan di sana kita belajar satu tema yang amat menarik, filsafat ilmu. Dan ini kita dapatkan di semester 5. Dan perlu kalian tahu,
ketika saya iseng-iseng datang ke sidang terbuka mbak-mbak S2 tempo lalu, saya mengambil brosur program studi S2 Farmasi UGM. Dan anda tahu apa yang saya dapat?
It’s shocking me like crazy when I realize that topic “Philosophy of Science atau bahasa Indonesia nya Filsafat Ilmu” diberikan untuk anak-anak S2 bro/sist. Nyadar nggak sih lu bro/sist kalo lu-lu pada dianggap anak S2 oleh dosen kita? Atau kita memang dianggap sangat pintar oleh beliau hingga kita bisa melewati masa-masa itu? Dan kita berhasil.hahahahaha…
Maaf ya Pak saya sebut nama Anda di blog saya lagi. Anda sangat menginspirasi saya.
Kembali lagi ke tema tentang filsafat ilmu, bahwa dalam paradigma pengembangan ilmu itu sendiri, ada 3 pokoknya.  Aduh aku lupa dan saya lagi sibuk untuk mencarinya di catatan saya. Mungkin bisa Anda googling atau yahoo-ing.hehehehe
Setidaknya, dalam pengembangan ilmu kita harus ingat ya, adik-adikku,
untuk tahu kepada siapa pengembangan ilmu itu ditujukan, karena disini kita akan melihat seberapa jauh kebermanfaatan dari pengembangan ilmu yang kita lakukan itu. Jangan sampai yang terjadi adalah kesia-siaan, walau kita tahu
Tidak ada yang sia-sia di dunia, tergantung apakah kita melihat dari langit atau bumi. Atau mungkin kita melihatnya dari kacamata kita? eh, kacamata…hihihihi

As my closing statement in this article, I wanna say,
“Happy birthday for my lovely campus, Long life farmasi UGM. Berbagai macam isu menanti untuk diselesaikan cucu-cucu penerusmu, Kek. Semoga aku bisa menjadi cucu yang baik untuk kakek ya. semoga.”

“Hidup untuk Belajar untuk Hidup”

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang ETNIK

  • Posted on September 20, 2013 at 6:54 am

Kemandirian memang suatu tujuan.
Tapi,
Kita juga tidak boleh lupa bahwa dalam kemandirian itu kita membutuhkan perjalanan berupa tahapan-tahapan yang diperlukan untuk mencapai kemandirian itu.

=============================================================================================

Kuliah kamis sore mengingatkanku pada masa-masa beberapa bulan lalu, yang mengantarkanku pada keinginan itu, FITOFARMAKA.

Hmmmmm…Darimana harus memulainya?

Bahwa kebudayaan lokal yang kita miliki bisa jadi adalah modal utama kita guna membangun tujuan tadi, Kemandirian.

Untuk menjadi mandiri, kita harus mau mandiri dahulu kan?
Jika melihat sejarah dulu (maklum, mata kuliahnya akan banyak berbicara tentang sejarah pengobatan di Indonesia. Hayoooo tebak, mata kuliah apakah ini?hehehe..:P ), kita pasti akan menyadari bahwa kita memang sudah mandiri. Sudah buat obat sendiri, diramu sendiri, dikonsumsi sendiri, dan dinikmati sendiri (kalo ini jangan ding, nanti dibilang egois.:) ).

JAMU,

Dalam aplikasi keseharian kita, kita mengenal kata ini. sesuatu yang bisa kita konsumsi, baik untuk mengobati penyakit (kuratif), mencegah penyakit (preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), mempercepat kesembuhan (rehabilitatif), dan mengurangi rasa sakit (paliatif).

Banyaknya aksi yang dimiliki oleh jamu inilah yang bisa menjadi modal bagi JAMU untuk menjadi kebanggaan kau dan aku, yaitu kita semua.
Sehingga muncullah trend yang selama ini berkembang, “TRADMED COMPLEMENTER” yang menempatkan jamu sebagai komplementer pada terapi suatu penyakit.

Yang jadi permasalahan sekarang adalah tren dunia global yang menuntut adanya bukti ilmiah (scientific evidence) dari JAMU.

Bagaimana bisa dia menurunkan tekanan darah,
Bagaimana bisa dia membunuh sel kanker?
Dan yang tidak kalah penting bagi beberapa orang,
Berapa banyak yang berperan? Siapa yang berperan dalam terapi ini?

Lalu,

Muncullah berbagai macam riset-riset ilmiah yang berlomba-lomba membuktikan bahwa senyawa X, Y, Z dan sebanyak A gram lah yang berperan dalam terapi itu. Dimana semua itu demi satu tujuan, bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa JAMU memang berkhasiat.Hingga akhirnya akan melalui serangkaian uji, mulai dari uji praklinik, uji klinik tahap I, uji klinik tahap II, uji klinik tahap III, dan post market surveilance. Baru setelah itulah JAMU diakui berkhasiat, yang akan kita kenal dengan istilah FITOFARMAKA.

Namun, di satu pihak,

Kita juga tahu bahwa jamu telah lama digunakan masyarakat secara turun temurun dari nenek moyang, yang bisa jadi lebih cerdas dan bijak dibandingkan kita saat ini. Apakah kita meragukan kebijaksanaan dan kecerdasan nenek moyang kita dulu?

Tidak begitu,bukan berarti kita harus kembali ke masa lalu. Masa lalu ada untuk menjadi pelajaran dan sarana belajar kita, bukan?

JAMU,

Dirasakan riset-riset untuk mencapai FITOFARMAKA itu memang akan membutuhkan biaya yang sangat besar dan sarana pendukung yang canggih, mulai dari riset praklinik hingga uji kliniknya yang membutuhkan rumah sakit-rumah sakit teruji dan berkualitas serta memenuhi standar pengujian calon FITOFARMAKA ini. Belum lagi jika ditengah perjalanannya, FITO mengalami kepleset, kesandung, jatuh, tergelincir yang mengakibatkan riset harus diulang lagi dari awal. Who knows about what will happen, right?

Allah, of course..:)

Lalu, riset-riset seperti apa yang seharusnya dilakukan? Mungkin ada baiknya jika kalian mengikuti kuliah ini, dan aku pun tidak ingin gegabah lagi dalam mengungkapkan apa yang kupikirkan atau kudengar. Ketika diperdengarkan bahwa riset-riset yang dilakukan sebenarnya sederhana dan murah ketika kita benar-benar mau terjun langsung ke masyarakat (Etno –> We will talk about ETHNIC (bener nggak ya nulisnya.hehehe-red), dan kemudian bisa kita lakukan uji praklinik (dengan hewan) atau uji klinik (pada manusia).

Pertanyaan ini kemudian mengusikku.

Bagaimana dengan kemungkinan adanya senyawa atau efek tak diinginkan dari tanaman itu atau sari tanaman itu?
Bagaimana dengan prosedur penelitian/metodologi penelitiannya jika begitu?
Apakah lebih baik jika memang benar kita ingin mempertahankan JAMU sebagai identitas obat INDONESIA,
Tanaman apa yang memang benar-benar akan dikembangkan pemerintah untuk menjadi JAMU?
Apakah kita perlu membuat prosedural/metodologi penelitian tersendiri,

untuk JAMU,

untuk kekayaan kita sendiri?

Bagaimana dengan konsep standardisasi itu sendiri? Aku bingung menuliskannya.

Lalu mana yang lebih penting saat ini,

STANDARDISASI atau SAINTIFIKASI?

JAMU,

sebuah harapan masa depan bagi kemandirian kesehatan, dimana dalam harapan itu ada satu harapan kita tidak lagi bergantung pada obat sintetik dan jamu lah yang menjadi andalan pengobatan. Atau jamu dalam bentuk lain, fitofarmaka?

Who knows what will happen?

Selamat Jum’at Pagi, Barakallah ya akhi ya ukhti..:)

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Polarity

  • Posted on September 2, 2013 at 7:49 pm

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Polarity

Bismillah…Assalamu’alaykum.

Alhamdulillah, KCAB Edisi September CERIA ini bisa kembali hadir di hadapan para pembaca setia blogku yang entah ada berapa jumlahnya, bisa jadi malah tidak ada sama sekali. Maklum, Aplikasi untuk melihat jumlah pengunjung blog belum saya pasang.hehehe

Dan untuk mengawali tulisan ini, sebelumnya saya ingin mengucapkan

SELAMAT DATANG, INTELEKTUAL MUDA UGM..GAMADA 2013..

Dimana-mana yang ada adalah quote-quote inspiratif yang menginspirasiku untuk tetap bertahan dalam kepanitiaan ini. Curhat sedikit deh, sebenarnya untuk apa ikut kepanitiaan ini lagi? Bukankah angkatan 2010 yang notabene menjadi angkatan tertua tahun ini harus memikirkan hal lain yang lebih pantas untuk dipikirkan? Hmmmm… Tak tahulah, I just wanna doing something that I like. Just like doing this, writing my opinion, my imagination, my world on the paper, just like making oneby one paperplane that will be ready to be flight. Someday.

GAMADA 2013, Berjuang Bersama Mencapai Kedaulatan Bangsa. Semoga agenda 1 minggu selama awal September ini akan menjadi bekal bagi kalian dalam menghadapi dunia perkuliahan ya. Selamat Datang di miniature Universitas Kehidupan, jika saya boleh mengatakannya demikian. (Emang ada yang nglarang ya nis? Maybe..:) )

Berbicara tentang polarity atau polaritas. Kenapa hari ini tiba-tiba kepikiran hal ini ya? Mungkin karena inspirasi yang kudapat dari kakak tingkatku tentang kicauan mereka berdua di twitter, hanya saja yang mereka bicarakan adalah kutub magnet, tentang bagaimana magnet bisa tarik-menarik atau tolak-menolak. Terima kasih ya kakak untuk inspirasinya pagi tadi. Dan kata ini juga terpikirkan kala saya mengingat-ingat obrolanku dengan rekanku dalam tim NARA1000. Terlalu melebar, kembali ke topik awal.

Polarity.

Was ist das?

Das ist ein Wort.

Ja, Richtig. Aber, Was ist das auf Deutsch?

Hmmmmm…kliklokliklok…(Open the Dictionary..Entcshuldigung, My weakness is still vocabularies. J )

Okay, cukup bicara bahasa planet itu. Besok aja jika sudah menginjakkan kaki di sana. Aamiinnn…Inginku, siapapun yang ke Jerman, pengen aku titipin sebuah coretan/pesan, paperplane mungkin, isinya gini…

Khairu Nishaa, S. Farm, Apt. will be here. Just wait Her.

 

Besok nitip kakak tingkatku aja dulu ah, semoga beliau berkenan. Aamiin. Doain ya kawan..Danke schon..:)

Tuh kan melebar lagi, hmmmmm..

Polarity. Menurut Oxford Dictionary yang kupunya, polarity merupakan sebuah kata benda. ????

This is the explanation.

Polar/ adj 1 of or near th North or South Pole, 2 Directly opposite.

Polarity/ n [U] state of having two opposite quality or tendencies.

Hmmmm..kalo ngeliat dari definisinya, kok merasa agak jauh ya dari tujuan awal mengangkat tema ini? Apa yang harus saya lakukan? Tetap menuliskannya kah atau mengubahnya menjadi topic yang lain? Tanyakan saja pada goyangan rumput liar.

Berbicara tentang polaritas, yang kuingat adalah kromatografi. Apa itu kromatografi, kakak? Yang masih angkatan 2012, apalagi para GAMADA atau FARMADA pasti belum tahu kata ini. Ya, kan? Hahahaha..#devil_laugh. Makanya, baca terus aja ya, biar nanti begitu masuk kuliah, langsung pada ahli kromatografi yang harusnya diambil pada semester 4. Yeaahh, Richtig. That will be a long journey for you to know about this, Kid. Hihihihi

Dalam kromatografi, kita akan mengenal adanya 2 fase utama yang digunakan untuk pemisahan. Karena memang kromatografi diciptakan untuk memisahkan. Jahat banget ya? Pemisahan disini maksudnya adalah kromatografi akan memisahkan berbagai macam makhluk (Ceileeee..bahasanya…obat/bahan aja dibilang makhluk.), makhluk disini maksudnya obat lho yak arena dalam obat itu ada berbagai macam komponen. Ketika semua makhluk ini dipisahkan, kita akan dapat mengetahui benar tidaknya makhluk yang ada dalam obat itu sesuai label yang dicantumkan dalam kemasan, baik secara kualitatif (jenisnya) maupun kuantitaif (jumlahnya).

Yang jadi pertanyaan sekarang, Apa yang membuat kromatografi ini mampu memisahkan berbagai macam makhluk yang telah bersatu untuk melawan penyakit, Kakak? Apakah dia masuk dalam obat dan mengadu domba masing-masing golongan makhluk itu lalu memisahkan mereka? Apakah dia bermuka dua hanya demi mencerai-beraikan mereka? Ataukah dia hanya jadi pihak ketika? (Kok malah kayak jadi sinetron lagi ya? Kali ini sinetronnya berjudul, “Gara-Gara Kroma Seminggu” karena waktu running-nya 7 x 24 jam.

Bukankah persatuan itu yang kita junjung-junjung selama ini. Bahkan ada pepatah yang mengatakan Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh.

Kamu ngomong gitu jangan-jangan kamu keponakannya Om MT ya? Heehehehe..

Bukan begitu adikku,

Mari kita review lagi apa yang sudah kakak sampaikan di awal. Kakak sempat menyebutkan adanya 2 fase utama yang mendukung ‘kejahatan’ kromatografi ini. Heyy..heyy..heyy..Siapa dia?

Mereka adalah si Diam dan si Gerak. Dari namanya aja kita bisa mengetahui kan adanya 2 hal yang sangat bertolak belakang dan kecenderungan di sini. Yang satu sukanya diam, yang satu sukanya gerak. Apa yang terjadi ketika si Diam dan si Gerak bertemu? Penasaran? Buat script sinetron lagi ah, judulnya “Ketika Cinta dalam Diam dan Gerak Bertemu”. Eaaaaa…ihiiiirrrr…Prikitiew….Apakah mereka akan bersatu?

Jika diibaratkan sebuah sinetron, si Diam dan si Gerak disini ternyata sama-sama jahat karena mereka memiliki guru yang sama atau sekolah yang sama, nama sekolahnya sekolah Kromatografi. Sekolah ini akan menghasilkan generasi-generasi yang seragam pada awalnya, generasi yang baik, cerdas, dan bermanfaat bagi masyarakat. Masuknya mereka dalam sekolah ini mengakibatkan anak-anak lain atau generasi yang pada mulanya satu pabrik keluarannya, jadi beranekaragam. Si Diam dengan sifatnya yang memang pendiam dan nyaman dengan kehidupannya saat ini tanpa mau melakukan suatu perubahan, menawarkan kepada teman-temannya untuk hidup santai. Mottonya, “Just Enjoy Your Life in This Chair”. Seolah-olah dia sangat nyaman dengan dunianya sendiri yang nyaman. Anak-anak yang selama ini berusaha melakukan hobinya untuk membuat suatu perubahan pun mulai menyadari bahwa mereka juga ingin melakukan hobi untuk senang-senang, just enjoy my life. Generasi-generasi ini pun masuk dalam perangkap si Diam dan menjadi apatis terhadap lingkungannya. Mereka menjadi nyaman dalam zona kenyamanan mereka sendiri.

Lain lagi si Diam, Lain lagi cerita tentang si Gerak. Si Gerak ini sangat reaktif, dia sukanya bergerak terus, kadang arah geraknya lurus, melenceng kanan, melenceng kiri, kadang ke atas, kadang ke bawah, kadang miring. Hanya saja dalam bergerak, pada awalnya si Gerak ini butuh bantuan sahabatnya, si Gravi. Gravi adalah sahabat desa yang gendut yang si Gerak sembunyikan dari rekan-rekan sebayanya di sekolah karena dia malu. Si Gerak akan bergerak dan gerakannya yang menarik bagi kawan-kawannya di sekolah Kromatografi mengakibatkan teman-temannya jadi terpengaruh pada sifatnya si Gerak yang mau enaknya sendiri, mengadu domba orang lain, dan mengikat orang lain. Mengikat orang lain ini, si Gerak punya beberapa level ikatan. Ketika anak lain dirasa mampu diikat kuat, maka dia akan mengajaknya berlari lebih cepat untuk segera keluar dari sekolah Kromatografi. Kalo anaknya tidak kuat, dia akan ditinggal si Gerak, yang mana selanjutnya akan diambil oleh si Diam untuk menjalankan prinsipnya, “Enjoy your own Life”. Sama-sama licik ya? Kenapa kepala sekolah kromatografi tidak mengeluarkan mereka saja dari sekolah?

Pada awalnya, ketika si Diam dan si Gerak diterima di sekolah ini, pihak sekolah memang agak sebal dengan ulah nakal mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, pihak sekolah pun mulai menemukan kebermanfaatan dari dua anak ini. Adanya dua anak ini akan menjadi skrining awal bagi sekolah untuk melihat anak mana saja yang sebenarnya bisa diluluskan dan dibiayai kelanjutan belajarnya, karena inilah keunggulan sekolah Kromatografi. Anak yang berpotensi, cerdas, baik hati, dan bermanfaat bagi masyarakat akan diberikan beasiswa untuk melanjutkan studinya di Universitas PCR (Polymer Chain Reaction), sebuah universitas terkemuka di kota Moleculaylysis. Dan sebenarnya si Diam dan si Gerak ini adalah anak yang cerdas dengan IQ di atas rata-rata dan berpotensi untuk mendapatkan beasiswa ini. Hanya saja mereka kekanak-kanakan dan pemalas. Mereka lebih memilih untuk bermain-main dengan temannya. Dan pihak sekolah pun merasa agak diuntungkan dengan karakter mereka yang seperti itu, sehingga secara diam-diam si Diam dan si Gerak ini mendapatkan beasiswa seumur hidup untuk tetap sekolah di sekolah Kromatografi, dengan syarat akan mempertahankan sifat kekanak-kanakan, keras kepala, dan pemalas mereka.

Lalu, apakah si Diam dan si Gerak ini akan tetap bertahan di sekolah Kromatografi dan menjadi pemisah generasi satu pabrikan di dalamnya?

Ataukah mereka mulai menyadari potensi diri mereka bahwa mereka bisa studi di Universitas PCR dan mulai menata hidup mereka?

Penasaran?

Tunggu KCAB berikutnya yaaaa…:)

Itadakimasu.

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Hukum

  • Posted on August 16, 2013 at 6:51 am

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Hukum

Bismillah.

Ada baiknya kita mengawali pagi ini dengan

ALQUR’AN HARI INI:

“Sungguh, al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang Mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar (Q. S. Al-Isra : 9)

Berbicara huku, aku jadi teringat pada diskusiku menjelang PPSMB ini dengan partnerku dan narasumber yang kupercaya (hehehe). Dan ini salah satu hasil diskusinya. Jengjengjeng. Menghasilkan sebuah teori yang kami sebut Teori Kepribadian-Kapabilitas untuk menjabarkan karakter prophetic yaitu amanah (Dapat Dipercaya).

TEORI KEPRIBADIAN-KAPABILITAS yang kupahami dari konsep Prophetic Skill dalam PPSMB (Terima kasih pada mas Taufik R. buat penjelasannya. Namamu masuk blogku lagi mas. Emang dulu pernah, Nis?hahaha#plak.)

TEORI KEPRIBADIAN-KAPABILITAS

Aku pernah mendengar, entah itu hadits atau apa (Wallahu a’lam), bahwa ada 3 cara yang bisa kita lakukan ketika kita melihat suatu kejahatan atau kezaliman terjadi pada seseorang. Jika dihubungkan dengan teori kepribadian-kapabilitas, 3 cara itu adalah sebagai berikut.

Cara yang pertama adalah kita menghukumnya atau memberikan tindakan langsung kepadanya. Siapa orang yang bisa melakukannya?

Dalam teori kepribadian-kapabilitas, orang-orang yang bisa melakukan aksi ini adalah orang berilmu yang memiliki wewenang, dalam hal ini berarti ketika kejahatan itu terjadi, beliau-beliaulah yang bertanggung jawab menindaknya. Karena Negara kita adalah Negara hukum, makanya ada pengadilan yang mengadili orang-orang yang berbuat jahat dan zalim tadi. Sekarang yang jadi permasalahan adalah bagaimana dengan hukumnya sendiri? Di sinilah kita butuh orang-orang yang berilmu, yang memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang hukum dan teori hukum yang berhubungan, sehingga dalam membuta peraturan mereka ada dasarnya dan bisa mengembangkannya sesuai dengan kondisi di masyarakat saat itu. Orang-orang hukum itu makanya harus kritis dan kreatif. Hukum yang dibuat harus adil. Dan mungkin untuk anak-anak hukum, kita harus lebih memahami teorinya seperti apa ya. Ketika hukum sudah sip dan siap dijalankan, sekarang kita masuk ke pelaksaan system hukum yang diambil tadi. Di sini kita membutuhkan para pelaku penegak hukum yang tegas dan tidak pandang bulu. Artinya, ketika hukum sudah benar dan sudah ada peraturan yang harus dipatuhi, siapapun baik pejabat ataupun masyarakat biasa yang melanggar, ya harus ditindak. Dihukum sesuai kejahatannya. Nah, kita perlu perhatikan lagi terkait pemberian sanksi. Sanksi yang diberikan memang harus bersifat jera bagi pelaku kejahatan, namun mereka juga manusia yang diberi akal oleh Tuhan. Mengapa mereka tidak kita manfaatkan akalnya untuk berpikir dan melakukan sesuatu yang membaikkan kehidupan mereka setelah mereka bebas nanti? Lebih baik kita memberikan hukuman yang konstruktif, daripada hukum yang destruktif. Apalagi orang yang jahat kan biasanya mereka itu kreatif dan ahli strategi dalam melakukan aksi kejahatannya. Nah, adanya sanksi ini harus bisa mengarahkan pola pikir mereka dan potensi mereka kea rah pembuatan strategi aksi kebaikan. Setidaknya setelah lulus, mereka dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Kalo dipikir-pikir, target/pelaku kejahatan ini dalam teori kepribadian-kapabilitas adalah orang kuadran III dan kuadran IV ya.hehehehe

Itu cara yang pertama.

Cara yang kedua, adalah dengan menegur atau menasehatinya. Siapa orang yang melakukan ini? Orang ini tentunya memahami betul bahwa apa yang penjahat/orang yang zalim lakukan itu adalah belum benar. Hanya saja dia tidak memiliki wewenang untuk menindak langsung orang itu, mungkin karena ya dia memang tidak punya wewenang menghakimi  orang lain, pokoknya terkait dengan kapabilitasnya. Sehingga yang bisa dia lakukan hanyalah menasehatinya atau mungkin bisa jadi dia sudah melakukan aksi dengan melapor tindakan kejahatan/kezaliman itu kepada pihak yang berwajib. Sehingga cara I pun dapat dijalankan oleh pihak kuadran I. Makanya ada posko pengaduan masyarakat/kanalKPK. Setidaknya disini, orang sudah melakukan suatu upaya agar kejahatan itu tidak terjadi. Bukan begitu, KPK?Hehehehe

Cara yang ketiga adalah dengan mendoakannya. Yaaa, mungkin inilah yang menjadi alternative orang banyak. Ketika tidak ada yang bisa dilakukannya, sebenarnya dia harus menyadari bahwa masih ada 1 hal yang mungkin, yaitu mendoakan agar kejahatan itu segera diatasi. Seperti ada orang yang ketika melihat masalah orang lain, dia mungkin tidak bisa membantu. Dan dia hanya bisa mendoakan. Bukan berarti apatis, hanya saja dia merasa dia juga memiliki masalah yang sama banyaknya dengan orang itu yang harus dia selesaikan sendiri. Bukankah kita harus memulainya dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil, dan dimulai dari sekarang? Ketika kita sudah baik, orang juga akan baik kepada kita. Siapa orang-orang yang seperti ini? Mungkin tidak termasuk dalam kuadran itu, atau bisa jadi juga masuk kuadran II. Semoga.

Apakah ini yang sedang terjadi dan harus kita lakukan untuk Mesir? Which one do you choose? Mari kita melihatnya tidak hanya dari sudut pandang kita sendiri. Karena bisa jadi ada bahaya yang lebih besar mengancam ketika kita melakukan tindakan yang sembrono, meskipun itu adalah hal yang benar. Bukan begitu, Pak Presidenku, Pak SBY? Entah kenapa aku merasa Bapak sedang mengemban amanah yang begitu besar pertanggungjawaban dan pengorbanan yang Bapak lakukan demi eksistensi bangsa ini. Terima kasih, Bapak. Aku tidak tahu apakah intuisiku kali ini benar atau tidak, dari semua yang terjadi, aku merasa memang ada yang Bapak sembunyikan akan tetapi tidak bisa diberitahukan karena ini akan mengancam eksistensi bangsa kita. I don’t know why I think this way. Wallahu a’lam.

 

 

NB: Barusan buka twitter dan menemukan bahwa kita bisa baca Qunut Nazilah dan Doa khusus untuk Mesir. Ini aku lansir dari websitenya dakwatuna.:)

“Kita wajib memberikan dukungan, sekurang-kurangnya melalui doa. Kekuatan doa itu sangat dahsyat,” kata Said di jakarta, Kamis (15/8).

“Saya menhimbau kepada umat Islam agar membacakan qunut nazilah disetiap shalat fardhu, bahkan di dalam khutbah Jumat. Doa untuk Mesir bisa dibacakan dalam doa khutbah kedua,” sambungnya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/08/16/38001/ketua-pbnu-umat-islam-baca-qunut-nazilah-dan-doa-khusus-untuk-mesir/#ixzz2c5Cia2oU
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

#PRAY_FOR__MESIR

Inilah kicauan pagiku hari ini. Mengawali pagi dengan memahami HUKUM dari sudut pandangku sendiri. Mungkin banyak orang yang meragukannya. Aku tidak peduli, walaupun aku tidak menuliskan daftar pustaka sumber penulisannya. Karena ini bukan tulisan ilmiah, hanya sebuah kicauan dan coretan seseorang yang berusaha memaksimalkan potensi yang dia miliki demi sebuah perbaikan aksi dan perjalanan. Itu saja.

Semoga bermanfaat. JUMAT PAGI INI, JUMAT BAROKAH. AGUSTUS KEMENANGAN.

16 Agustus 2013, satu peristiwa penting terjadi hari ini. Peristiwa Rengasdengklok. Apa yang bisa kita ambil dari momen itu? Ayo beli JAS MERAH lagi. JAS MERAH yang paling tua, lalu dimodifikasi biar modis.whehehehe

 

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Analisis Jamu

  • Posted on August 14, 2013 at 3:51 pm

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Analisis Jamu

Bismillah

Assalamu’alaykum wr.wb.

Sebelumnya selamat Hari PRAMUKA Sedunia. Mari kita jadikan gerakan pramuka sebagai gerakan yang membentuk generasi-generasi Indonesia yang  berkarakter Indonesia, Berjiwa Pancasila, dan menjunjung tinggi nilai dan budaya menuju kemandirian bangsa. Jadi ingat dulu saya paling senang dengan ekstrakurikuler ini karena didalamnya kita belajar banyak hal, mulai dari bertahan hidup di alam, tali-temali, kesehatan, berbagi informasi dengan sandi, mengenal alam dan orang lain, berlatih jiwa kepemimpinan. Aku cinta PRAMUKA. Hehehe..Cukup tentang PRAMUKA.

Jadi, hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah mata kuliah yang akan dipelajari oleh anak-anak FBA UGM di semester 7 nanti. Aku tetap saja berusaha mempertahankan apa yang kuyakini seharusnya dilakukan untuk jamu, OHT, dan Fitofarmaka. Aku, dalam masa-masaku ini hanya masih sulit menemukan jalan yang tepat untuk membawa konsep ini. Dan untuk mulai mengembangkan fitofarmaka, kita harus memulainya dari jamu. Kenapa harus jamu? Karena dialah yang pertama kali berkembang di Indonesia sejak jaman nenek moyang dulu. Karena kebiasaanku untuk mengotak-atik isi dari buku, aku pun membuka buku panduan akademik farmasi UGM, di mana di dalamnya terdapat uraian mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa pada tiap semesternya. Dan aku langsung tertarik pada mata kuliah di minat FBA. Untuk semester 7 nanti, ada 5 mata kuliah wajib minat yang harus ditempuh anak FBA, yaitu Fitoterapi, CPOTB dan UU OT, Jaminan Kualitas Bahan Baku Herbal, Analisis Kimia Tumbuhan Obat, dan Analisis Jamu ditambah 6 sks untuk mata kuliah pilihan. Mata kuliah semester 7 ini FBA banget. Sebenarnya aku merasa hampir sama atau setidaknya ada hubungan antara mata kuliah Analisis Jamu dan Jaminan Kualitas Bahan Baku Herbal. Kenapa? Nanti aku jelasin di belakang, ini dari sudut pandangku.

Karena rasa penasaranku dan keingintahuanku akan gambaran kuliah besok, aku pun mencoba mencari tahu apa yang akan dibahas dalam kuliah. Aku fokuskan pada analisis jamu, karena aku merasa ini ada hubungannya dengan saintifikasi jamu yang sedang dilakukan pemerintah saat ini guna menghadapi Harmonisasi ASEAN 2015. Mau tidak mau kita harus menghadapi ini, dan pertanyaannya sekarang apakah jamu, OHT, dan Fitofarmaka kita sudah siap menghadapinya?

Dari hasil tanya sana sini, akhirnya mendapatkan informasi bahwa salah satu dosen pengampu mata kuliah ini adalah bu Didik atau Ibu Dra. Sri Mulyani, SU, Apt. Dan saya pun langsung mencoba berdiskusi dengan beliau mengenai mata kuliah Analisis Jamu. Mungkin ada baiknya jika kita berkenalan dengan mata kuliah ini sesuai yang dipaparkan buku panduan akademik.hehehe

FAB 4202 Analisis Jamu 2(1) SKS

Mata kuliah ini memberi pengetahuan tentang analisis sediaan obat tradisional (jamu) dalam berbagai bentuk baik dalam bentuk rajangan, serbuk, dan modifikasinya (tapel, pil, pilis, parem, dan lain-lain) dan jamu ekstrak. Analisis dilakukan secara makroskopik, mikroskopik, maupun secara kimiawi. Mata praktikum analisis jamu berisi pokok-pokok bahasan mengenai analiis jamu, berisi pokok bahasan tentang analisis sediaan obat tradisional (jamu) dalam berbagai bentuk baik dalam bentuk rajangan, bentuk serbuk, dan modifikasinya (tapel, pil, pilis, parem, dll) dan jamu ekstrak. Analisis dilakukan secara makroskopik, mikroskopik, dan kimiawi ditujukan untuk mengetahui kebenaran kandungan sediaan serta adanya cemaran baik dari bahan alam lain maupun dari bahan kimia obat (BKO).

Buku acuan: Materia Medika, Trease and Evans Pharmacognosy, Ilmu Obat Alami (Farmakognosi), Drugs of Natural Origins, A Textbook of Pharmacognosy, American Herbal Pharmacopoeia Botanical Pharmacognosy.

Berikut hasil wawancara saya dengan beliau.

Mata kuliah analisis jamu ini diampu oleh ibu Didik, Ibu Andayana, dan Bapak Wahyono. Mata kuliah analisis jamu atau yang biasa disingkat oleh mahasiswa menjadi AnJam ini diberikan sebagai gambaran kepada mahasiswa bahwa analisis jamu merupakan hal yang penting dilakukan. Analisis jamu  dilakukan untuk mengecek dan control kualitas dari jamu. Kontrol kualitas yang dilakukan pun ada 2, yaitu dari segi kualitatif dan kuantitatif. Dalam kuliah ini, analisis jamu dibagi menjadi 3, analisis mikroskopik (Bu Didik), analisis makroskopik (Bu Andayana), dan analisis kimiawi (yang diampu oleh pak Wahyono). Metode analisis Jamu yang dipilih tergantung pada bentuk sediaan jamu. Untuk jamu yang berupa rajangan kecil, analisis yang dilakukan adalah analisis mikroskopik. Kita belajar melihat bentuk-bentuk sel tanaman dari rajangan untuk memastikan kebenaran bahan jamu. Untuk sediaan serbuk, analisis yang dilakukan berupa analisis organoleptis, mikroskopik, dan kimiawi. Sementara itu, untuk jamu yang sudah dalam bentuk ekstrak, analisis yang dilakukan hanya analisis kimiawi.

Dan saya pun menanyakan tentang control kualitas dari tanaman obat, apakah bisa dilakukan dalam analisis jamu karena menurut saya ini juga hal yang penting. Beliau menjelaskan bahwa untuk tanaman obat, kita perlu melibatkan bidang ilmu yang lain, misalnya untuk kebenaran profil tanaman/determinasinya, kita butuh ilmu Biologi. Lalu untuk penanaman tanaman obat (karena ini ada hubungannya dengan control kualitas), kita butuh ilmu pertanian tentang bagaimana pengolahan lahan yang baik. Sementara itu, bidang Farmasi lebih menekankan pada teknologi pasca panen dari tanaman obat tersebut hingga diolah menjadi sediaan obat tradisional yang siap dan layak dikonsumsi masyarakat.

Sempat kutanyakan pada beliau tentang pendapat beliau terkait saintifikasi jamu. Dan beliau tidak begitu mengetahui perihal ini. Kalian tahu apa yang kupikirkan setelah diskusi ini? Aku sempat mengusulkan pada beliau mengapa kita tidak membuat praktikum Analisis Jamu ini menjadi semacam proyek anak FBA selama semester 7 nanti, dimana dalam praktikum ini anak FBA akan benar-benar turun ke lapangan untuk mencari tahu profil jamu di kota yogyakarta seperti apa. Bagaimana selama ini jamu dikelola oleh para produsen kecil-kecilan. Aku berpikir sebagai calon apoteker herbal, anak-anak FBA harus lebih banyak terjun ke masyarakat penjual jamu. Kita harus tahu dulu apa yang selama ini dipahami tentang jamu dari sudut pandang produsen sebagai pelaku pasar obat tradisional. Proyek ini nanti selain melakukan analisis makroskopik, mikroskopik, dan kimiawi dengan sample mengambil langsung dari pasar, kita juga melakukan pendataan profil penjual jamu dan cara pengolahan jamu mereka selama ini. Misalnya mulai dari kebenaran bahan, komposisi jamu yang dibuat, proses produksinya seperti apa, dan pendapatannya. Kalian tahu kenapa aku berpikir seperti ini?

Aku pernah menanyai seorang penjual jamu yang berkeliling di kos ku, darimana ibu biasa mengolah jamu ini. Beliau menjawab bahwa bahan-bahan yang dipakai jamu beras kencur dan kunir asem dibuat sendiri, komposisi buat sendiri, dan untuk jamu hitam tinggal seduh jamu racikan dari pasar. Ada daun sambiloto campur macem-macem gitu katanya. Nah, waktu aku icip, rasanya sangat tidak enak kawan. Dari produsen saja belum memahami control kualitas jamu,  bukankah ini jadi ladang kerja/peluang kerja apoteker untuk turun kesana? Sebelum kita turun, kita cari tahu dulu apa yang salah selama ini dari pengolahan jamu di masyarakat, setelah tahu, kita sebagai anak FBA yang lebih tahu memiliki kewajiban untuk mengajak para produsen jamu untuk mengolah jamu menjadi produk jamu tradisional yang berkualitas. Aku sempat berpikir mungkin suatu saat nanti, apoteker herbal ini , setiap individunya memiliki kelompok binaan pedagang jamu, dimana disana mereka mendidik dan mengayomi para pedagang jamu untuk meningkatkan dan menjaga kualitas jamu yang dijual. Kelompok binaan ini nantinya akan berada dalam satu wadah koperasi jamu. Selain ada apoteker, didalamnya juga akan ada ahli biologi dan ahli pertanian yang mendidik masyarakat terutama petani tanaman obat untuk melakukan teknologi penanaman dan pemanenan yang dapat menghasilkan simplisia dengan kandungan kimia yang tinggi. Selain menguntungkan, hal ini akan memberi kepastian produk yang berkualitas. Bahan baku berkualitas, jamu berkualitas dengan harga yang terjangkau. Adanya koperasi jamu ini akan menjamin penghasilan para pedagang jamu dan petani tanaman obat karena adanya system sisa hasil usaha (SHU) disana. Koperasi jamu ini nantinya dapat menjual jamu dalam bentuk bahan baku baik simplisia maupun ekstrak sesuai kemampuan warga disitu ataupun menjual produk jamu olahan (misalnya jamu seduhan/rebusan seperti jamu beras kencur dan kunir asem yang siap minum). Apoteker disitu nanti akan melakukan penelitian tentang stabilitas jamu produk buatan binaannya (waktu kadaluarsanya), cara penyimpanan jamu olahan yang baik dan benar seperti hingga nanti sampai apoteker dapat  mengarahkan para anggota binaannya untuk memproduksi jamu yang berkhasiat. Darimana bisa dikatakan berkhasiat? Berkhasiat ini nantinya dilihat dari hasil saintifikasi jamu yang berorientasi untuk pengembangan fitofarmaka. Berbicara tentang khasiat, kita berbicara tentang dosis dari zat aktif yang bereaksi/berinteraksi dengan reseptor dalam tubuh hingga menimbulkan outcome terapi. Sebagai apoteker, apoteker bisa memperkirakan jumlah rimpang yang akan dipakai binaanya sehingga mendapatkan jamu dengan kandungan zat aktif yang memiliki efek terapi. Sehingga jamu yang dihasilkan pun berkhasiat, walau tidak dibuktikan secara ilmiah. Saintifikasi jamu ini seharusnya lebih diarahkan pada pencarian dosis yang memiliki efek minimal bagi terapi suatu penyakit. Inilah standardisasi yang sebenarnya.

Jika dihubungkan dengan harmonisasi ASEAN 2015, saya rasa selama 2 tahun ke depan adalah langkah yang lebih bijak jika kita lebih memfokuskan pada perbaikan kualitas jamu yang selama ini beredar di masyarakat. Sambil memperbaiki dan mendidik para pelaku pasar tradisional untuk meningkatkan kualiats jamu (tentunya apoteker herbal turun kesana), program saintifikasi jamu tetap dipersiapkan. Saintifikasi jamu/standardisasi jamu memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga ada baiknya kita kumpulkan dulu modal untuk dana riset sembari mempersiapkan masterplan fitofarmaka apa yang akan menjadi produk unggulan Indonesia nanti. Aku melihat dalam Permenkes no PERMENKES RI NOMOR 760/MENKES/PER/IX/1992 tentang Fitofarmaka disebutkan ada 19 daftar obat tradisional yang harus dikembangkan menjadi fitofarmaka, yaitu:

  1. ANTELMINTIK
  2. ANTI ANXIETAS
  3. ANTI ASMA
  4. ANTI DIABETES (HIPOGLIKEMIK)
  5. ANTI DIARE
  6. ANTI HEPATITIS KRONIK
  7. ANTI HERPES GENITALIS
  8. ANTI HIPERLIPIDEMIA
  9. ANTI HIPERTENSI
  10. ANTI HIPERTIROIDISMA
  11. ANTI HISTAMIN
  12. ANTI INFLAMASI (ANTI REMATIK)
  13. ANTI KANKER
  14. ANTI MALARIA
  15. ANTI TBC
  16. ANTITUSIF (MUKOLITIF)
  17. DISENTRI
  18. DISPEPSIA
  19. DIURETIK

Aku memang tidak tahu atau belum tahu kebijakan saintifikasi jamu yang dilakukan saat ini apakah telah sesuai dengan yang diharapkan pemerintah lalu atau tidak. Mungkin karena jamannya sudah brbeda, ada beberapa daftar yang harus dirubah. Dari hasil catatanku, aku menemukan setidaknya ada 7 peluang daftar obat tradisional yang bisa dikembangkan menjadi fitofarmaka buatan farmasi UGM, salah satunya sediaan antiflu yang aku ingin kembangkan.

Kembali ke daftar obat tradisional yang harus dikembangkan menjadi fitofarmaka, aku merasa ada yang kurang. Justru ini yang paling penting, tanaman apa yang berkhasiat untuk penyakit-penyakit itu? Harusnya ini juga disampaikan dalam kebijakan itu. Atau akupun berpikir. Jamu kan berasal dari kearifan local masyarakat Indonesia. Masyarakat mengonsumsi jamu tertentu untuk mengobati penyakit tertentu karena pengalamannya. Bukankah saintifikasi jamu bertujuan untuk membuktikan apa yang biasa dipakai oleh masyarakat itu berkhasiat? Dengan pendekatan purifarmakologi (yeyyy, promosi lagi. Padahal belum dikembangin.hehehe-red), kita bisa melakukan penelitian ini. Kita lihat profil tanamannya, lihat profil penyakit dan tata laksana terapinya seperti apa, kita lakukan pendekatan penelitian yang paling logis untuk dijadikan landasan dalam riset pengembangan fitofarmaka. Ketika standard (dalam pengertian saya, standard disini adalah dosis), sudah ditemukan, simplisia manapun nantinya bisa digunakan untuk membuat sediaan yang memiliki khasiat sebagai obat penyakit tertentu. Perbedaan nanti hanya terlihat dari kualitasnya gitu.

So, this is about my opinion.  Jikalau ideku ini benar-benar terwujud dimana praktikum analisis jamu dan jaminan kualitas bahan baku herbal seperti apa (aku sempat berpikir untuk menggabungkan jumlah jam mata kedua praktikum ini), kalian tahu harus menyalahkan siapa.whahahaha..#devil_laugh.

Sekilas lagi cuplikan proposal PIMFI ku yang lalu. Ini skema standardisasi menurut Nishaa.

 

 

Untuk skema yang kiri itu aku dapatkan dari paper professor Robert Bauer, yang berjudul Quality Criteria and Standardization of Phytopharmaceuticals : Can Acceptable Drug Standards be Achieved?”.

Mungkin aku dibilang nekat berani menentang professor Jerman, akan tetapi aku tetap merasa ada yang salah dengan konsep ini. Meskipun ada beberapa yang aku sepakati, misalnya macam-macam marker dan aplikasinya, normalisasi ekstrak, dan parameter serta faktor yang memengaruhi kualitas ekstrak, aku menyepakati hal itu. Namun, aku tetap melihat ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu pembuktian efikasi dan zat aktif yang terkandung di dalamnya serta mekanisme aksi farmakologisnya dalam terapi seperti apa. Ini yang lebih dibutuhkan para tenaga kesehatan jikalau jamu, OHT, dan Fitofarmaka benar-benar ingin digunakan dalam system pelayanan  kesehatan bangsa Indonesia. Jamu tetap eksis, Fitofarmaka go International (jadi komoditas ekspor) dimana fitofarmaka jadi ciri khas Indonesia dan hanya dokter-apoteker Indonesia yang boleh memasarkannya. Dimana ada Fitofarmaka, di sana ada dokter dan apoteker Indonesia yang siap memberikan Pharmaceutical Care yang sesuai karakter pribadi orang Indonesia yang ramah. Ini impianku. Can we make it real, this dream, TOGETHER?

 Masih ada skema lanjutan dari konsep standardisasi yang aku ajukan ini. Tunggu KCAB selanjutnya yaa..:)

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Terorisme

  • Posted on August 6, 2013 at 6:13 am

Bismillah, selamat pagi rekan-rekan pelanggan setia rubrik KCAB (Ketika Cinta [akan] Bertasbih.wkwkwkwk)

Assalamu’alaykum wr.wb.

Sudah membaca judul di atas? Hayooo, yang belum coba dibaca lagi ya..Jadi, hari ini ceritanya saya ingin berbicara mengenai terorisme. Wooooo, judulnya serem. Apa alasan saya memilih judul ini? Hmmmmm…karena sudah lama tidak nonton tipi, akhirnya bisa nonton tipi lagi dan langsung dikejutkan adanya ledakan bom di Wihara Ekayana, tempat peribadatan umat Budha di Jakarta. Bulan Ramadlan yang seharusnya bulan yang damai dan penuh kasih sayang ini harus ‘ternodai’ (duh bahasanya,hahaha) oleh berita ini. Berkah ramadlan nya hilang lho nanti. Dari berita (entah benar atau tidak sumbernya, berita tidak ada yang bisa dipercaya 100% sekarang. Pre-Judging.-red), Ledakan di wihara ini terjadi 3 kali. Untungnya ledakan terjadi ketika tidak sedang dilaksanakan kegiatan ibadah di sana. Bisa dibayangkan kan jikalau orang lagi beribadah lalu ada bom meledak, sungguh jalan kematian yang tidak diinginkan. Berbicara tentang kematian, semua orang ingin mati yang baik kan? Jalankan saja perintah agama dan jauhi larangan yang sudah ditetapkan agama. It’s a simple thing, right? Hanya saja, termasuk saya karena saya juga hanya manusia biasa yang tak sempurna dan kadang ada salah (Upppsss…Yovie and Friends keluar deh.-red), kita masih tergoda dengan indahnya bersuka cita di dunia ini, yang tanpa kita sadari telah membutakan mata kita pada dunia yang lebih indah nanti. Do you believe that? I believe…I believe…I believe…in You (Sekarang malah Il Divo, maklum mantan personil PSM FARMASI UGM.hehehehe)

Tuh kan, kebiasaan ngelantur ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, sak tenane aku ora ngapusi.. Ngomongin apa tadi? Terorisme ya? Eh kematian ding? Hmmmm..kenapa sih ada terorisme? Apa sih terorisme itu?

Sebelum melangkah jauh kesana, aku ingin bercerita mundur sedikit ke masa-masa SD dan SMP saya dulu. Satu mata pelajaran yang amat saya senangi adalah PKN, PPKN, Kewarganegaraan deh dulu namanya. Kurikulum yang berubah-ubah harus mengakibatkan nama pelajarannya berubah. Yang penting esensinya nggak sih Nis, ilmunya, bukan namanya.| Tapi kan nama memengaruhi maknanya. #plak.

Aku jadi ingat dulu aku suka menghafal pasal-pasal dan pembukaan UUD 1945, nggak tahu kenapa bagus aja gitu. Pasal-pasal yang membahas tentang Kepribadian dan Budi Pekerti Luhur (Jadi ingat dulu pas SMP jadi anggota OSIS Sie ini dan hanya aktif di awal. Huhuhuhu), HAM, Pemerintahan, dan Perubahan Konstitusi Negara (Hayooo, inget nggak pasal berapa yang membahas tentang ini?). karena temanya tentang terorisme, aku rasa ini ada hubungannya dengan kehidupan beragama kita yang mana sudah diatur dalam undang-undang dimana tiap warga Negara sudah diberi kebebasan untuk memeluk dan menjalankan peribadatannya sesuai agama dan keyakinannya masing-masing (saya lupa redaksinya, tapi aku ingat ini pasal 29 ayat 1 UUD 1945). Negara sudah menjamin tiap agama boleh berkembang di Indonesia, selama memenuhi koridor Pancasila yang mengakui adanya Tuhan. Lalu, kenapa sampai saat ini kita masih melihat adanya konflik antar umat beragama atau bahkan intern umat beragama itu sendiri?

Kalo kubilang sih, orang kayak Sadam nggak usah dilawan (Malah Petualangan Sherina lagi). Masih ingat nggak kawan dengan Tri Kerukunan Hidup Beragama?  Yang sudah lupa atau mulai lupa, mari saya ingatkan lagi.

Tri Kerukunan Hidup Beragama

  1. Kerukunan Intern Umat Beragama
  2. Kerukunan Antar Umat Beragama
  3. Kerukunan Antara Umat Beragama dengan Pemerintah, Masyarakat, dan Umat Beragama Lainnya. (Bener nggak ya? Aaaa..aku lupa…pokoknya dulu nomor 2 dan 3 sering kebalik, antar dan antara. Mohon diluruskan ya pembaca.:) )

Kerukunan bermula dari lingkungan intern agama itu sendiri. Apalagi ini bulan Ramadlan, mari hidup rukun dalam menuju kemenangan. Karena itulah mengapa kita disuruh mencintai diri kita sendiri, sebelum mencintai orang lain. Hal ini menunjukkan ketika kita mencintai diri kita sendiri dulu, kita sudah berdamai dengan diri kita sendiri, sehingga orang lain akan nyaman dengan kita. Bagaimana denganmu Nis? Aaa, itu ranah topik yang berbeda. Biar saya dan Allah saja yang tahu ya.hihihihi

Setelah antar umat beragama rukun, selanjutnya kita harus rukun dengan pemerintah. Kenapa? Karena mau tidak mau pemerintah adalah pemimpin kita yang sudah menjamin kebebasan kita dalam beragama. Di sini kita bisa melihat adanya interaksi yang bersifat timbal balik antara masyarakat dengan pemerintah. Ketika pemerintah membuat kebijakan yang dirasa tidak adil untuk satu agama tertentu, masyarakat boleh langsung tindak tegas ke pemerintah dengan mengkritisinya. Justru pemerintah akan senang mengingat politik di Negara kita kan Politik Bebas Aktif. Nah, bebasnya udah sekarang tinggal aktifnya. Aktif gimana maksudnya? Ketika seseorang mengkritisi sesuatu, mereka harus punya dasarnya dan juga bisa memberikan solusi dari apa yang dia kritisi tadi. Di sinilah kita butuh pemikiran yang kreatif. Siapa yang merasa dirinya kreatif? Woooo…banyak..aku tantang ya. Jawab dalam 5 detik. Apa yang ada di dalam benak Anda ketika Anda membaca kataaaaa…..UANG? Jengjeng..kalo yang ada di bayangan Anda muncul 1000, 2000, 10000, itu normative. Tapi jika Anda sudah membayangkan buku baru, bisnis yang sukses, atau cara mencari uang, Anda sudah masuk kategori kreatif.yeeeyyyy..Tepuk tangan..hihihihi

Berpikir Kritis dan Kreatif. Kritis dalam mencari akar permasalahannya dan kreatif dalam mencari solusi permasalahannya. Jangan sampai yang terjadi adalah Lempar Batu Sembunyi Tangan, yang ada nanti Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula.

Kembali ke topic awal. Terorisme. Dari kata teror dan akhiran -isme. Teror adalah tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk menakut-nakuti, menganiaya, atau membuat kondisi yang mengancam dan -isme berarti paham/aliran. Jadi, secara terminologi, dia berarti aliran/paham yang ingin membuat lingkungan atau kondisi yang mengancam kehidupan orang lain. Setahu saya, membuat orang lain merasa terancam itu ada banyak bentuknya. Ada yang disebut dengan istilah teror fisik. Tapi, tahu nggak sih kawan ada bentuk terror yang lebih kejam dibandingkan terror fisik? Yaitu Teror Mental (Judul buku yang kubaca waktu SMP dulu karya Putu Wijaya kalo nggak salah. Covernya hitam dengan sketsa berwarna ungu yang menggambarkan seseorang sedang membaca puisi. Bacaanku emang serem serem waktu kecil. Sampai sekarang juga masih bersentuhan dengan psikologi. Besok aku ceritain deh 1 topik tentang psikologis dan prospek kerja yang mereka miliki)

Teror mental berarti upaya untuk membuat seseorang merasa terancam ‘jiwanya’. Jiwa dalam artian mental/psikisnya. Ini justru lebih berbahaya, bukan? Ketika mental seseorang terancam, dia tidak akan bisa melakukan apapun. Ingat prinsip Men Sana in Corpore Sano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula. Pertanyaan terakhir lomba dokter kecil dulu dan aku juara 2 karena kuat secara teori praktik dokternya. That’s why Long time ago, I wanted to be a doctor like Patch Adam.

Lalu, bagaimana teror mental dapat terjadi? Jadi ingat juga kemarin malam nonton tipi dan mendengar ucapan Kepala BNN bahwa Terorisme memang bahaya, Narkoba lebih berbahaya. Are you serious, Sir?

Hmmmm..dari sudut kacamata saya sebagai (calon) apoteker, memang benar jika narkoba justru yang menjadi teror yang paling berbahaya. Kenapa? Karena itu tadi, teror mental. Narkoba itu ketika digunakan secara terus-menerus akan mengakibatkan seseorang mengalami kondisi sakau dan ketergantungan. Ketika mereka tidak mengonsumsi barang 1 tablet aja, mereka akan langsung histeris. Karena dalam narkoba itu ada kenikmatan semu akibat kandungan zat aktif yang ada di dalamnya. Padahal, obat-obatan dengan kandungan zat aktif ini boleh digunakan di bawah pengawasan dokter dan apoteker. Hal ini dibuktikan dengan adanya aturan bahwa obat-obatan psikotropika dan narkoba hanya boleh dilayani apoteker dengan resep dokter. Dan ini pun masih harus dikonfirmasi ulang ke dokter, apakah memang meresepkan penggunaan psikotropika dan narkoba pada pasien yang bersangkutan. Ini saya bicara idealnya, karena saya orangnya idealis. Tapi realita berbicara lain sih. Yaaa, kita sedang dalam proses menuju kesana, yakini itu. 🙂

Lalu, Kepala BNN berkata bahwa saat ini pecandu narkoba di Indonesia sudah mencapai 4 juta orang/tahun. Sementara sarana rehabilitasi yang dimiliki hanya mampu menampung 18.000 orang/hari. Aku jadi berpikir ini bakal jadi peluang kerja apoteker yang baru nih, bisa pada ranah deteksi narkoba dan simplisianya, bisa pada ranah layanan konseling pecandu narkobanya juga.hohohoho). Beliau menyampaikan upaya untuk mengurangi penggunaan narkoba seharusnya tidak hanya dari pemerintah dalam hal ini BNN ya. Perlu peran aktif semua elemen untuk menanggulangi narkoba ini. Beliau memberikan contoh, seharusnya bisa dari pabrik-pabrik obat juga membangun panti rehabilitasi para pecandu narkoba. Aku setuju dengan pernyataan beliau yang ini. Mengapa? Pabrik obat karena kita bicara narkoba/narkotika/psikotropika, berarti kita menyorot 1 pabrik, yaitu PT. Kimia Farma yang ditunjuk oleh pemerintah menjadi regulator utama dalam persebaran narkotika di Indonesia. Adanya panti rehabilitasi ini bisa menjadi salah satu bentuk pertanggungjawaban pihak industry atas peredaran obat yang mereka lakukan. Dan disana nanti yang bekerja adalah apoteker karena bicara obat, bicara apoteker. Saya belum masuk kriteria, karena masih calon.hehehehe

Sebenarnya tidak hanya PT. Kimia Farma, alangkah lebih baiknya jika setiap pabrik obat yang ada di Indonesia memiliki 1 panti rehabilitasi ataupun panti pelayanan kesehatan dan obat untuk masyarakat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban tadi. Apalagi, saat ini masyarakat Indonesia makin cerdas dan kreatif, apa-apa saja bisa lho dijadikan narkoba. Dari obat batuk kodein misalnya. Kok bisa ya bikin fly? Kalo apoteker yang bicara, tentu bisa. Karena kodein adalah turunan dari morfin. Morfin atau opium ya? Aduh, tulisan ini tidak layak dipercaya, berarti aku belum memenuhi kriteria output yang ingin dihasilkan dalam PPSMB nanti, dapat dipercaya.huhuhuhuhu..Ya sudah, mari belajar.

Sekian celotehan saya untuk pagi ini, semoga bermanfaat. Akhirul kalam,

Wassalamu’alaykum wr.wb.

 Annyeong, 🙂