You are currently browsing the kuliah oh kuliah category
Displaying 1 - 7 of 7 entries.

INI GAYA SKRIPSIKU, SKRIPSIMU?

  • Posted on April 4, 2014 at 12:40 am

Jika diibaratkan dengan perjalanan, mungkin bisa dibilang perjalananku bersama kekasihku ini baru sebatas menggunakan sampan, yg perlu didayung…dayung demi dayung..kompas mengandalkan bintang, layar belum terkembang, blm tersentuh teknologi sama sekali. Bulan ini coba langkah baru, minimal pakai kompas.

#IniGayaSkripsiku,Skripsimu

Selamat malam dunia.

Mencoba mengawali tulisan ini dengan harapan baik, bahwa saya ingin menumpahkan segala yang terjadi pada diri saya selama beberapa bulan ini. Hingga mengakibatkan seolah-olah blog ini mati suri. Ini hanya majas saja, jangan dipikir berlebihan ya. Please, Help me to get a better Life.

Ada apa sebenarnya dengan diri saya?

Mungkin tulisan di awal artikel ini sudah mewakili beberapa yang terjadi.

Saya mulai darimana ya baiknya? Mencoba merecover lagi…About fitofarmaka first, okay?

Alasan pertama saya berhenti menulis adalah ketakutan saya terhadap dunia yang saya masuki ini, farmasi bahan alam. Kenapa? Farmasi Bahan Alam yang dikenal sebagai ilmunya pengobatan menggunakan ramuan bahan alam, tanaman-tanaman obat tradisional, dan bahkan dikenal dengan keyakinan yang ‘mistis’ di masyarakat. Maksudnya apa? Ini dari persepsi saya ya, ramuan-ramuan bahan alam ini sangat dekat dengan jampi-jampian, mbah dukun , dan terapi alternatif yang lainnya. Mungkin ini alasan yang agak lucu bagi sebagian orang, #akurapopo. Mungkin pilihan apakah saya akan tetap mendalami dunia ini atau tidak, kita pikirkan nanti saja lah, setelah lulus kuliah atau setidaknya setelah sidang terbuka. Aamiin ya Rabb, semoga masih diberi umur sampai sidang terbuka yang rencananya masih menggantung.

Alasan kedua saya berhenti menulis adalah ketakutan saya akan dampak dari apa yang saya tulis. Dan saya pun ingin lebih hati-hati dalam menulis. Sering terngiang-ngiang dalam benak saya tentang satu kata ini, AIB AIB AIB. Tentang apa yang sebaiknya kita ceritakan, dan apa yang sebaiknya tidak kita ceritakan. Saya pun tersadar bahwa tulisan-tulisan saya sebelumnya memang adalah kepalsuan, #tipu daya malam (entah siapa orang yang sengaja meng-hack blog saya ini.). Saya sadar sepertinya saya menjadi orang yang munafik, dimana saya menuliskan sesuatu yang tidak saya lakukan. Bukankah fungsi blog adalah untuk menceritakan pengalaman kita sehari-hari?

Namun, ada juga yang menuliskan harapan dan mimpi nya di blog,

tetapi kayaknya itu mimpi mereka yang sudah terwujud, setidaknya itu sesuatu yang membanggakan, kan?

Saya tidak mau jadi orang munafik, yang berkata berdusta, berjanji mengingkari, dan diberi amanah malah berkhianat. (Ampuni dosa-dosa hamba Ya Rabb)

Keadilan dalam menulis dan kebiijakan dalam menulis, itu mungkin bisa jadi salah satu parameter kedewasaan kita. Omma, Am I growth up? Memilah-milah tulisan yang sebaiknya kita tulis dan kita bagikan ke orang lain dan sebaiknya tidak, melihat manfaat dan mudharat nya. Terlebih ketika blog ini dikunjungi, seberapa banyak waktu orang yang terbuang untuk membacanya. Bukankah itu menjadi tabungan dosa untuk saya,di dunia maupun akhirat? Oh, maaf. Saya ingin mengisi tabungan pahala, bukan tabungan dosa. Tidak ingin rasanya di hari pembalasan nanti, tangan ini bersaksi bahwa selama di dunia dia digunakan untuk menuliskan dan menceritakan kebohongan, bukan malah sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, misalkan untuk mengikat ilmu ataupun untuk berbagi informasi. Begitu pula dengan mata. Tidak ingin nantinya mata ini bersaksi bahwa selama di dunia, dia hanya menatap layar notebook selama berjam-jam. Ah, sudah adilkah kita dengan tubuh ini? Ya, mungkin memang benar jika prinsip hidup saya bahwa HIDUP ADALAH PILIHAN. Pilihan untuk menulis juga termasuk di dalamnya.

Nah, terkait dengan tema malam ini,

Saya ingin berbagi sedikit tentang dunia yang saya geluti di tahun keempat ini, tahunnya skripsi. Yaaa, skripsi. Perlu didoktrin berapa kali agar kata ini masuk di kepala? SKRIPSI SKRIPSI SKRIPSI….

Hampir 6 bulan bergelut dengan proposal skripsi dan segala keribetan di dalamnya, saya menemukan satu kelemahan, yaitu daya serap membaca, menghafal, dan mengingat saya mulai melemah. Kenapa kah gerangan? Tidak tahu juga, akhir-akhir ini atau hampir selama beberapa bulan ini, kemampuan memahami bacaan atau mengingat apa yang saya baca mulai berkurang. Terlebih untuk penulisan skripsi. Bisa dibayangkan betapa fatalnya jika kemampuan ini menurun? Terlebih ini untuk hal yang sepele tapi penting yaitu mengingat-ingat aturan penulisan skripsi yang begitu banyaknya. Sebenarnya pihak akademik sudah dengan amat baik hatinya (Alhamdulillah), memberikan buku panduan warna hijau itu. Tetapi, kalau dipikir-pikir, apakah setiap menulis harus mengingat-ingat dan membuka tutup buku itu? Ah, terasa membuang waktu kan? (Hello, nulis blog ini aja udah buang waktu ga sih? #plak)

Sehingga, menuruti nasehat dosen pembimbing saya yang amat teliti dan baik hatinya (saya salut dengan beliau), saya membaca buku ini sampai tuntas, saya warnai dengan tinta stabilo yang mempertajam dan membuat buku itu lebih berwarna. Begitu mencoba menulis, Lupa-lupa ingat lagi. Buka bukunya lagi. Sangat tidak efisien. Nah, bercermin dari pengalaman itulah, saya pun mencoba membuat satu cara untuk memudahkan daya ingat saya, yaitu sebuah CHECK LIST. Fungsinya untuk mengecek apakah tulisannya sudah sesuai pedoman skripsi atau tidak. Mungkin beberapa redaksi katanya ada yang saya ubah, mengingat ukuran kertas dan mempercepat pengkoreksian. Semoga cara ini bisa membuat ‘perjalanan skripsi’ saya tidak lagi menggunakan sampan dayung, akan tetapi naik sedikitlah, minimal sampan berlayar. Sekian tulisan malam ini. Semoga membantu saya lebih baik. Ah, lega rasanya bisa meluapkan tulisan lagi. Ini bukan aib kan?

Oh iya, bagi siapapun yang berminat ikutan cara ini, boleh lho. Tapi perlu dipastikan dulu apakah sama aturan penulisan skripsinya dengan fakultas saya, karena saya kuliah di farmasi UGM. Siapa tahu ada beberapa hal yang berbeda? Ayo berlatih lebih teliti dan cermat. \(^v^)/

Berikut format CHECK LIST SAYA. #INI_GAYA_SKRIPSIKU,SKRIPSIMU?

If It’s not RIGHT, Fix IT and MAKE IT!!!!

BAB                                        :

Tanggal Pengecekan       :

Tanggal Penyerahan       :

 

No

Important Things

Check List

 PENULISAN

 
1. Huruf yang dipakai TNR 12 spasi 2 untuk teks.  
2. Batas kertas standar untuk A4 (TLBR = 4,4,3,3)  
3. Pengetikan dari batas kiri hingga kanan (TIDAK BOLEH space yang terbuang)  
4. Alenia baru ditulis pada ketikan ke-6  
5. Say NO untuk angka di awal kalimat.  
6. Judul (BAB I, II,……) di bagian CENTERED simetris dan dicetak TEBAL (TNR 12,spasi 2, KAPITAL)  
7. sub judul (A. …., B….., dst) di bagian CENTERED simetris, cetak TEBAL (TNR 12, spasi 2, kapital @ awal kata)  
8. Kalimat pertama dari sub judul dimulai di alenia baru  
9. Anak  sub judul (1. …, 2. ….., dst) dari batas tepi kiri dan dicetak TEBAL (TNR 12, spasi 2, kapital di awal huruf)  
10. Tulislah kalimat pertama di alenia baru.  
11. Penulisan sub anak sub judul (a. ……, b. ….., dst) dimulai dari ketikan ke-6,dan diakhiri titik & ­U.  
n12. Kalimat pertama diketik ke belakang (posisi kalimat segaris sub anak sub judul)  
13. Urutan penomoran skripsi ( I, A, 1., a., 1)., a)., (1)., (a).  
14. Ikuti aturan penulisan nama latin ilmiah tanaman dan hewan. (cetak miring /garis bawah)  
15. Penggunaan istilah asing harus menggunakan huruf italic (I)  
16. Penomoran awal BAB di tengah bawah, halaman selanjutnya kanan atas  
17. Ceklah proporsional kalimat dari masing-masing sub judul . Sudah adil kah dalam menulis?  
18. Sudahkah Tulisan dalam teks skripsi menggunakan kalimat pasif?  
19. Sudahkah dihindari pemakaian kata sehingga, sedang, di, ke, drpd di awal?  

GAMBAR DAN TABEL

 
1. Posisi tabel dan gambar berada di centered position pengetikan.  
2. Penamaan tabel di atas tabel (Angka Romawi), TNR 10, spasi 1 dan dicetak tebal.  
3. Penamaan gambar di bawah gambar (Angka Arab), TNR 10, spasi 1 dan dicetak tebal.  
4. Tulislah keterangan gambar di bawah judulnya (TNR 10, spasi 1).  
5. Pastikan setiap gambar dan tabel ada keterangan dalam teks.  

DAFTAR PUSTAKA

 
1. Sudahkah dipastikan setiap akhir teks terdapat daftar pustakanya?  
2. Sudah benarkah penulisan dapus nya BUKU (Nama, Tahun, Judul, jilid, nmr hlmn, penerbit, kota terbit).  
3. Sudah benarkah penulisan dapus nya MAJALAH (Nama, Tahun, Judul, Nama majalah singkat dan italic, jilid,nmr terbitan, hlmn).  
4. Dapus untuk anonim diurutkan tahunnya. Untuk skripsi dan tesis ( Nama, Tahun, Judul, Skripsi/Tesis, Universitas, Kota Terbit)  
5. Sudahkah Daftar Pustaka ditulis dengan TNR 12, spasi 1?  

FINAL QUESTION

 
1. Sudah layakkah BAB ini diajukan untuk dikoreksi dosen pembimbing?  

 

Mungkin, untuk episode tulisan berikutnya, saya ingin bercerita tentang sesuatu yang amat dekat di kehidupan yang serba digital, mau tahu apa? Ditunggu saja ya.

Selamat malam semua. May Allah bless Us, Always and Forevermore. 🙂

 

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Analisis Jamu

  • Posted on August 14, 2013 at 3:51 pm

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Analisis Jamu

Bismillah

Assalamu’alaykum wr.wb.

Sebelumnya selamat Hari PRAMUKA Sedunia. Mari kita jadikan gerakan pramuka sebagai gerakan yang membentuk generasi-generasi Indonesia yang  berkarakter Indonesia, Berjiwa Pancasila, dan menjunjung tinggi nilai dan budaya menuju kemandirian bangsa. Jadi ingat dulu saya paling senang dengan ekstrakurikuler ini karena didalamnya kita belajar banyak hal, mulai dari bertahan hidup di alam, tali-temali, kesehatan, berbagi informasi dengan sandi, mengenal alam dan orang lain, berlatih jiwa kepemimpinan. Aku cinta PRAMUKA. Hehehe..Cukup tentang PRAMUKA.

Jadi, hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah mata kuliah yang akan dipelajari oleh anak-anak FBA UGM di semester 7 nanti. Aku tetap saja berusaha mempertahankan apa yang kuyakini seharusnya dilakukan untuk jamu, OHT, dan Fitofarmaka. Aku, dalam masa-masaku ini hanya masih sulit menemukan jalan yang tepat untuk membawa konsep ini. Dan untuk mulai mengembangkan fitofarmaka, kita harus memulainya dari jamu. Kenapa harus jamu? Karena dialah yang pertama kali berkembang di Indonesia sejak jaman nenek moyang dulu. Karena kebiasaanku untuk mengotak-atik isi dari buku, aku pun membuka buku panduan akademik farmasi UGM, di mana di dalamnya terdapat uraian mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa pada tiap semesternya. Dan aku langsung tertarik pada mata kuliah di minat FBA. Untuk semester 7 nanti, ada 5 mata kuliah wajib minat yang harus ditempuh anak FBA, yaitu Fitoterapi, CPOTB dan UU OT, Jaminan Kualitas Bahan Baku Herbal, Analisis Kimia Tumbuhan Obat, dan Analisis Jamu ditambah 6 sks untuk mata kuliah pilihan. Mata kuliah semester 7 ini FBA banget. Sebenarnya aku merasa hampir sama atau setidaknya ada hubungan antara mata kuliah Analisis Jamu dan Jaminan Kualitas Bahan Baku Herbal. Kenapa? Nanti aku jelasin di belakang, ini dari sudut pandangku.

Karena rasa penasaranku dan keingintahuanku akan gambaran kuliah besok, aku pun mencoba mencari tahu apa yang akan dibahas dalam kuliah. Aku fokuskan pada analisis jamu, karena aku merasa ini ada hubungannya dengan saintifikasi jamu yang sedang dilakukan pemerintah saat ini guna menghadapi Harmonisasi ASEAN 2015. Mau tidak mau kita harus menghadapi ini, dan pertanyaannya sekarang apakah jamu, OHT, dan Fitofarmaka kita sudah siap menghadapinya?

Dari hasil tanya sana sini, akhirnya mendapatkan informasi bahwa salah satu dosen pengampu mata kuliah ini adalah bu Didik atau Ibu Dra. Sri Mulyani, SU, Apt. Dan saya pun langsung mencoba berdiskusi dengan beliau mengenai mata kuliah Analisis Jamu. Mungkin ada baiknya jika kita berkenalan dengan mata kuliah ini sesuai yang dipaparkan buku panduan akademik.hehehe

FAB 4202 Analisis Jamu 2(1) SKS

Mata kuliah ini memberi pengetahuan tentang analisis sediaan obat tradisional (jamu) dalam berbagai bentuk baik dalam bentuk rajangan, serbuk, dan modifikasinya (tapel, pil, pilis, parem, dan lain-lain) dan jamu ekstrak. Analisis dilakukan secara makroskopik, mikroskopik, maupun secara kimiawi. Mata praktikum analisis jamu berisi pokok-pokok bahasan mengenai analiis jamu, berisi pokok bahasan tentang analisis sediaan obat tradisional (jamu) dalam berbagai bentuk baik dalam bentuk rajangan, bentuk serbuk, dan modifikasinya (tapel, pil, pilis, parem, dll) dan jamu ekstrak. Analisis dilakukan secara makroskopik, mikroskopik, dan kimiawi ditujukan untuk mengetahui kebenaran kandungan sediaan serta adanya cemaran baik dari bahan alam lain maupun dari bahan kimia obat (BKO).

Buku acuan: Materia Medika, Trease and Evans Pharmacognosy, Ilmu Obat Alami (Farmakognosi), Drugs of Natural Origins, A Textbook of Pharmacognosy, American Herbal Pharmacopoeia Botanical Pharmacognosy.

Berikut hasil wawancara saya dengan beliau.

Mata kuliah analisis jamu ini diampu oleh ibu Didik, Ibu Andayana, dan Bapak Wahyono. Mata kuliah analisis jamu atau yang biasa disingkat oleh mahasiswa menjadi AnJam ini diberikan sebagai gambaran kepada mahasiswa bahwa analisis jamu merupakan hal yang penting dilakukan. Analisis jamu  dilakukan untuk mengecek dan control kualitas dari jamu. Kontrol kualitas yang dilakukan pun ada 2, yaitu dari segi kualitatif dan kuantitatif. Dalam kuliah ini, analisis jamu dibagi menjadi 3, analisis mikroskopik (Bu Didik), analisis makroskopik (Bu Andayana), dan analisis kimiawi (yang diampu oleh pak Wahyono). Metode analisis Jamu yang dipilih tergantung pada bentuk sediaan jamu. Untuk jamu yang berupa rajangan kecil, analisis yang dilakukan adalah analisis mikroskopik. Kita belajar melihat bentuk-bentuk sel tanaman dari rajangan untuk memastikan kebenaran bahan jamu. Untuk sediaan serbuk, analisis yang dilakukan berupa analisis organoleptis, mikroskopik, dan kimiawi. Sementara itu, untuk jamu yang sudah dalam bentuk ekstrak, analisis yang dilakukan hanya analisis kimiawi.

Dan saya pun menanyakan tentang control kualitas dari tanaman obat, apakah bisa dilakukan dalam analisis jamu karena menurut saya ini juga hal yang penting. Beliau menjelaskan bahwa untuk tanaman obat, kita perlu melibatkan bidang ilmu yang lain, misalnya untuk kebenaran profil tanaman/determinasinya, kita butuh ilmu Biologi. Lalu untuk penanaman tanaman obat (karena ini ada hubungannya dengan control kualitas), kita butuh ilmu pertanian tentang bagaimana pengolahan lahan yang baik. Sementara itu, bidang Farmasi lebih menekankan pada teknologi pasca panen dari tanaman obat tersebut hingga diolah menjadi sediaan obat tradisional yang siap dan layak dikonsumsi masyarakat.

Sempat kutanyakan pada beliau tentang pendapat beliau terkait saintifikasi jamu. Dan beliau tidak begitu mengetahui perihal ini. Kalian tahu apa yang kupikirkan setelah diskusi ini? Aku sempat mengusulkan pada beliau mengapa kita tidak membuat praktikum Analisis Jamu ini menjadi semacam proyek anak FBA selama semester 7 nanti, dimana dalam praktikum ini anak FBA akan benar-benar turun ke lapangan untuk mencari tahu profil jamu di kota yogyakarta seperti apa. Bagaimana selama ini jamu dikelola oleh para produsen kecil-kecilan. Aku berpikir sebagai calon apoteker herbal, anak-anak FBA harus lebih banyak terjun ke masyarakat penjual jamu. Kita harus tahu dulu apa yang selama ini dipahami tentang jamu dari sudut pandang produsen sebagai pelaku pasar obat tradisional. Proyek ini nanti selain melakukan analisis makroskopik, mikroskopik, dan kimiawi dengan sample mengambil langsung dari pasar, kita juga melakukan pendataan profil penjual jamu dan cara pengolahan jamu mereka selama ini. Misalnya mulai dari kebenaran bahan, komposisi jamu yang dibuat, proses produksinya seperti apa, dan pendapatannya. Kalian tahu kenapa aku berpikir seperti ini?

Aku pernah menanyai seorang penjual jamu yang berkeliling di kos ku, darimana ibu biasa mengolah jamu ini. Beliau menjawab bahwa bahan-bahan yang dipakai jamu beras kencur dan kunir asem dibuat sendiri, komposisi buat sendiri, dan untuk jamu hitam tinggal seduh jamu racikan dari pasar. Ada daun sambiloto campur macem-macem gitu katanya. Nah, waktu aku icip, rasanya sangat tidak enak kawan. Dari produsen saja belum memahami control kualitas jamu,  bukankah ini jadi ladang kerja/peluang kerja apoteker untuk turun kesana? Sebelum kita turun, kita cari tahu dulu apa yang salah selama ini dari pengolahan jamu di masyarakat, setelah tahu, kita sebagai anak FBA yang lebih tahu memiliki kewajiban untuk mengajak para produsen jamu untuk mengolah jamu menjadi produk jamu tradisional yang berkualitas. Aku sempat berpikir mungkin suatu saat nanti, apoteker herbal ini , setiap individunya memiliki kelompok binaan pedagang jamu, dimana disana mereka mendidik dan mengayomi para pedagang jamu untuk meningkatkan dan menjaga kualitas jamu yang dijual. Kelompok binaan ini nantinya akan berada dalam satu wadah koperasi jamu. Selain ada apoteker, didalamnya juga akan ada ahli biologi dan ahli pertanian yang mendidik masyarakat terutama petani tanaman obat untuk melakukan teknologi penanaman dan pemanenan yang dapat menghasilkan simplisia dengan kandungan kimia yang tinggi. Selain menguntungkan, hal ini akan memberi kepastian produk yang berkualitas. Bahan baku berkualitas, jamu berkualitas dengan harga yang terjangkau. Adanya koperasi jamu ini akan menjamin penghasilan para pedagang jamu dan petani tanaman obat karena adanya system sisa hasil usaha (SHU) disana. Koperasi jamu ini nantinya dapat menjual jamu dalam bentuk bahan baku baik simplisia maupun ekstrak sesuai kemampuan warga disitu ataupun menjual produk jamu olahan (misalnya jamu seduhan/rebusan seperti jamu beras kencur dan kunir asem yang siap minum). Apoteker disitu nanti akan melakukan penelitian tentang stabilitas jamu produk buatan binaannya (waktu kadaluarsanya), cara penyimpanan jamu olahan yang baik dan benar seperti hingga nanti sampai apoteker dapat  mengarahkan para anggota binaannya untuk memproduksi jamu yang berkhasiat. Darimana bisa dikatakan berkhasiat? Berkhasiat ini nantinya dilihat dari hasil saintifikasi jamu yang berorientasi untuk pengembangan fitofarmaka. Berbicara tentang khasiat, kita berbicara tentang dosis dari zat aktif yang bereaksi/berinteraksi dengan reseptor dalam tubuh hingga menimbulkan outcome terapi. Sebagai apoteker, apoteker bisa memperkirakan jumlah rimpang yang akan dipakai binaanya sehingga mendapatkan jamu dengan kandungan zat aktif yang memiliki efek terapi. Sehingga jamu yang dihasilkan pun berkhasiat, walau tidak dibuktikan secara ilmiah. Saintifikasi jamu ini seharusnya lebih diarahkan pada pencarian dosis yang memiliki efek minimal bagi terapi suatu penyakit. Inilah standardisasi yang sebenarnya.

Jika dihubungkan dengan harmonisasi ASEAN 2015, saya rasa selama 2 tahun ke depan adalah langkah yang lebih bijak jika kita lebih memfokuskan pada perbaikan kualitas jamu yang selama ini beredar di masyarakat. Sambil memperbaiki dan mendidik para pelaku pasar tradisional untuk meningkatkan kualiats jamu (tentunya apoteker herbal turun kesana), program saintifikasi jamu tetap dipersiapkan. Saintifikasi jamu/standardisasi jamu memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga ada baiknya kita kumpulkan dulu modal untuk dana riset sembari mempersiapkan masterplan fitofarmaka apa yang akan menjadi produk unggulan Indonesia nanti. Aku melihat dalam Permenkes no PERMENKES RI NOMOR 760/MENKES/PER/IX/1992 tentang Fitofarmaka disebutkan ada 19 daftar obat tradisional yang harus dikembangkan menjadi fitofarmaka, yaitu:

  1. ANTELMINTIK
  2. ANTI ANXIETAS
  3. ANTI ASMA
  4. ANTI DIABETES (HIPOGLIKEMIK)
  5. ANTI DIARE
  6. ANTI HEPATITIS KRONIK
  7. ANTI HERPES GENITALIS
  8. ANTI HIPERLIPIDEMIA
  9. ANTI HIPERTENSI
  10. ANTI HIPERTIROIDISMA
  11. ANTI HISTAMIN
  12. ANTI INFLAMASI (ANTI REMATIK)
  13. ANTI KANKER
  14. ANTI MALARIA
  15. ANTI TBC
  16. ANTITUSIF (MUKOLITIF)
  17. DISENTRI
  18. DISPEPSIA
  19. DIURETIK

Aku memang tidak tahu atau belum tahu kebijakan saintifikasi jamu yang dilakukan saat ini apakah telah sesuai dengan yang diharapkan pemerintah lalu atau tidak. Mungkin karena jamannya sudah brbeda, ada beberapa daftar yang harus dirubah. Dari hasil catatanku, aku menemukan setidaknya ada 7 peluang daftar obat tradisional yang bisa dikembangkan menjadi fitofarmaka buatan farmasi UGM, salah satunya sediaan antiflu yang aku ingin kembangkan.

Kembali ke daftar obat tradisional yang harus dikembangkan menjadi fitofarmaka, aku merasa ada yang kurang. Justru ini yang paling penting, tanaman apa yang berkhasiat untuk penyakit-penyakit itu? Harusnya ini juga disampaikan dalam kebijakan itu. Atau akupun berpikir. Jamu kan berasal dari kearifan local masyarakat Indonesia. Masyarakat mengonsumsi jamu tertentu untuk mengobati penyakit tertentu karena pengalamannya. Bukankah saintifikasi jamu bertujuan untuk membuktikan apa yang biasa dipakai oleh masyarakat itu berkhasiat? Dengan pendekatan purifarmakologi (yeyyy, promosi lagi. Padahal belum dikembangin.hehehe-red), kita bisa melakukan penelitian ini. Kita lihat profil tanamannya, lihat profil penyakit dan tata laksana terapinya seperti apa, kita lakukan pendekatan penelitian yang paling logis untuk dijadikan landasan dalam riset pengembangan fitofarmaka. Ketika standard (dalam pengertian saya, standard disini adalah dosis), sudah ditemukan, simplisia manapun nantinya bisa digunakan untuk membuat sediaan yang memiliki khasiat sebagai obat penyakit tertentu. Perbedaan nanti hanya terlihat dari kualitasnya gitu.

So, this is about my opinion.  Jikalau ideku ini benar-benar terwujud dimana praktikum analisis jamu dan jaminan kualitas bahan baku herbal seperti apa (aku sempat berpikir untuk menggabungkan jumlah jam mata kedua praktikum ini), kalian tahu harus menyalahkan siapa.whahahaha..#devil_laugh.

Sekilas lagi cuplikan proposal PIMFI ku yang lalu. Ini skema standardisasi menurut Nishaa.

 

 

Untuk skema yang kiri itu aku dapatkan dari paper professor Robert Bauer, yang berjudul Quality Criteria and Standardization of Phytopharmaceuticals : Can Acceptable Drug Standards be Achieved?”.

Mungkin aku dibilang nekat berani menentang professor Jerman, akan tetapi aku tetap merasa ada yang salah dengan konsep ini. Meskipun ada beberapa yang aku sepakati, misalnya macam-macam marker dan aplikasinya, normalisasi ekstrak, dan parameter serta faktor yang memengaruhi kualitas ekstrak, aku menyepakati hal itu. Namun, aku tetap melihat ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu pembuktian efikasi dan zat aktif yang terkandung di dalamnya serta mekanisme aksi farmakologisnya dalam terapi seperti apa. Ini yang lebih dibutuhkan para tenaga kesehatan jikalau jamu, OHT, dan Fitofarmaka benar-benar ingin digunakan dalam system pelayanan  kesehatan bangsa Indonesia. Jamu tetap eksis, Fitofarmaka go International (jadi komoditas ekspor) dimana fitofarmaka jadi ciri khas Indonesia dan hanya dokter-apoteker Indonesia yang boleh memasarkannya. Dimana ada Fitofarmaka, di sana ada dokter dan apoteker Indonesia yang siap memberikan Pharmaceutical Care yang sesuai karakter pribadi orang Indonesia yang ramah. Ini impianku. Can we make it real, this dream, TOGETHER?

 Masih ada skema lanjutan dari konsep standardisasi yang aku ajukan ini. Tunggu KCAB selanjutnya yaa..:)

Jadi, Hari Ini Ceritanya Kita

  • Posted on March 12, 2013 at 4:02 am

Coretan harian untuk hari ke-11 yang ditulis pada hari ke-12 (Waaah, H-1 menjelang Caesar Operation kedua induk besok.hohoho).

Hari ini aku ingin berbagi cerita tentang apa yang aku alami kemarin. Diawali dengan kegiatan praktikum mingguan di awal minggu ini (Tuh, seperti biasa, penggunaan kata yang ribet bin boros. Gapapa ya.:) ), Yups, Jadi obat nyamuk bakar adalah penghibur di akhir waktu praktikum. Mengapa? Karena setidaknya dari 5 formula yang kita buat, formula terakhir ini (obat nyamuk) menjadi penyenang hatiku yang sempet down waktu praktikum. Habisnya, sedih juga dengan apa yang dikatakan dosen terkait sediaan yang dibuat. Pemakluman pun dibuat. Maklum lah baru belajar, Kan tujuan kita belajar. Hmmmm…ya udah deh, curcolnya segini aja. Bahasanya belum membumi, masih melayang di langit.

Okay, lanjut aja kembali ke judul awal.

Jadi, Hari ini ceritanya kita mempelajari Interaksi Obat pada tingkat molekuler. Wuiiihhh, dari judulnya kayaknya ngeri banget ya? Ini ada hubungannnya dengan kuliah sore yang kudapatkan kemarin. Dari cerita yang kudengar minggu lalu (karena aku nggak masuk, kecapekan ama praktikum 4 jam. Maaf ya Pak. J ), Kuliah senin sore itu sangat detail. Jadinya, aku masuk lagi kemarin, siapa tahu akan ada hiburan bagi hati yang sedih ini. Dan ternyata violaaaa, Allah mengabulkan doaku (Emang aku doa ya dapet kuliah ini? Aku sadarnya belakangan pada setiap yang aku dapatkan hari ini.) Aku yang selalu excited dengan hal yang baru sangat bersemangat mengikuti kuliah ini. Memang kuliah apa sih Nis sampai segitunya gitu? Farmakologi Molekuler, sebuah mata kuliah yang menitikberatkan pada bagaimana suatu obat berinteraksi dan beraksi dalam tubuh pada tingkat molekulernya. Yuup, Hari ini kita masih membahas target aksi obat. Dan yang dibahas kali ini adalah transporter. Ilmu ini cenderung baru, ucap Beliau. Perkembangan ilmu ini meningkat pesat pada 10 tahun terakhir di mana transporter inilah yang memiliki peran yang sangat penting pada proses ADME obat. Sebenarnya pada awal perkembangannya, transporter ini dikenal sebagai pembawa senyawa endogen dalam tubuh. Namun ternyata dalam penelitian lebih lanjut ditemukan bahwa tidak hanya senyawa endogen yang diangkut oleh transporter, akan tetapi obat-obatan yang dimasukkan dalam tubuh juga dapat diangkut oleh transporter. Nah, untuk saat ini, Pusat dari Perkembangan ilmu transporter ini ada di 2 tempat, yaitu di Jerman (lupa nama Universitasnya, Maklum. Bahasa Jerman susah kalo nama-nama kota. #curcol) dan Tokyo University, di Jepang. Terus Beliau berkata, “Kalo ada yang mau mendalami lebih lanjut tentang ini, bisa ke sana. Ada yang mau lanjut studinya nggak? Dalam hati aku bicara, “Insya Allah Pak. Saya mau lanjut. Insya Allah ke Jerman”. Aamiin. Aku merasa ini menjadi ‘kode’ tersendiri bagiku. Dan rasanya tiba-tiba kosmetika alami tadi siang langsung hilang semua. Byeee. *lebay.hahaha*

Kuliah pun dimulai. Sekalian review materi kuliah aja kali ya. Jadi, transporter ini sebenarnya keluarganya banyak banget. Ada dari family ABC, SLC, OAT, dan OATPs. Secara umum, keluarga transporter ini dibagi menjadi 8 famili (dari catatanku lho ya ini, Beliau cepet banget jelasinnya. J ), yaitu:

  1. Transporter Peptida
  2. Transporter Nukleosida, Nukleotida, Basa DNA (Pas baca ini, aku mikir. Apakah bisa dikatakan bahwa tRNA itu adalah salah satu transporter dalam tubuh ya? Kan dia yang mengangkut asam-asam amino pada sintesis protein.hohoho)
  3. Transporter Asam Amino
  4. Transporter Monosakarida, Disakarida.
  5. Transporter Anion dan Kation Organik (Nah, pas denger kata ini aku bingung. Apalagi pas dibahas lebih lanjut topic ini. Ada satu pertanyaan yang ‘ganjel’ dan aku tanyakan ke temen sampingku, “Anion ma Kation organic itu contohnya apa sih? Dan kau tahu apa jawabannya? “Kau bertanya pada orang yang salah”. L.hihihi. Lucu juga bila diingat obrolan ini. Ayo semangat mengulang, Kawan. J)
  6. Transporter Monokarboksilat
  7. Transporter ABC
  8. Transporter Asam Empedu (asam atau garam sih. Abis dalam bahasa Inggris tertulis bile acid. Bingung atuh.)

Dan Perlu untuk teman-teman ketahui bahwa setiap transporter ini memiliki spesifisitas yang berbeda untuk tiap molekul obat ( Ada 1 catatan menarik. “1 obat dan 1 transporter -> 1 judul thesis”. Serius, ini aku catat di coretan “shuhuf-shuhuf” ku.hehehe). Spesifisitas ini ditunjukkan dengan nilai Km. Apa itu Km? Dalam kuliah biokimia dijelaskan bahwa Km menunjukkan banyaknya substrat yang digunakan oleh suatu enzim untuk bereaksi pada kecepatan reaksinya ½ dari Vmaks nya. Bingung ya ma kalimat barusan? Sama. Susah juga bila harus mendefinisikan sesuatu dari textbook. Dipikir sendiri ya. Kan anak UGM, farmasi lagi. 😛

Semakin kecil nilai Km dari suatu transporter terhadap 1 molekul obat tertentu, maka transporter itu dikatakan spesifik dan akan semakin cepat pula dia dalam mengangkut molekul obat ini.

Oh iya, dari tadi ngomongin transporter dan fungsinya, kita belum kenalan kan ya dengan makhluk satu ini. Transporter ini adalah sekumpulan rantai asam amino yang disintesis dalam beberapa organ di tubuh, terutama di Hati dan Ginjal (2 organ ini yang memiliki transporter dalam jumlah banyak karena peranannya yang besar pada proses metabolisme dan ekskresi obat), Gastro Intestinal (Usus), dan Sawar Darah Otak (Brain Blood Barier). Gen-gen penyandinya bahkan sudah ditemukan dan dinamai, contohnya GeneName SLC22A7 untuk penyandi protein OAT2.

Dan hubungannya sama interaksi obat?

Mengingatkan lagi ke topic awal, hehehehe. Transporter ini kan sudah kita ketahui bahwa dia sangat berperan dalam proses ADME obat. Dari sini kita akan tahu bahwa adanya transporter ini akan memengaruhi jumlah obat yang beredar dalam tubuh, atau dikatakan bahwa transporter akan memengaruhi profil farmakokinetika suatu obat. Kita juga sudah tahu kan, bahwa dengan kita tahu profil farmakokinetika obat, kita bisa memperkirakan kapan obat itu akan diabsorpsi maksimal dalam tubuh, kapan dia akan diekskresikan dalam tubuh, dan bagaimana pengaruh obat lain terhadap kinetikanya. Hanya saja, dalam farmakokinetika, kita tidak bisa menjelaskan kenapa bisa sampai terjadi seperti ini, kurvanya yang monofasik atau bifasik. Melalui ilmu transporter inilah kita bisa menjawab tanda tanya ini. (Aku bingung nama cabang ilmu ini apa.

Ada 1 contoh interaksi obat yang sangat sering dibahas sama Dosenku. Interaksi Antibiotik golongan beta lactam dan Probenesid. Oh iya, ada 1 info lagi. Bahwa interaksi obat ini melibatkan transporter dalam 2 mekanisme, bisa melalui inhibisi (penghambatan) atau pengangkutan (uptake) atau persaingan.

Memang bagaimana interaksi beta lactam dengan Probenesid ini? Huwaaaa, ternyata di catatanku nggak ada mekanismenya. Di sana hanya tertulis bahwa Terjadi penurunan ekskresi beta lactam oleh Probenesid. Mungkin ini ada hubungannya dengan transporter yang terlibat, yaitu OAT1. Aku tulis contoh yang lain aja ya. #curang.

Salah satu interaksi obat tadi kan dikatakan juga terjadi akibat inhibisi atau penghambatan. Inilah yang akan terjadi bila Rifampin dan Digoksin jalan bersama. Yang 1 akan menghambat yang lain. Eaaaa…hahahha

Maksudnya, Rifampin apabila diberikan pada waktu yang bersamaan dengan digoksin, ditemukan akan menurunkan kadar digoksin dalam darah. Interaksi ini terutama terjadi bila obat diberikan secara p.o. (per oral alias lewat mulutàsaluran cerna). Fakta ini sudah ada secara klinis dan ingin dibuktikan secara molekuler. Jadi, seperti yang aku katakan tadi, ilmu baru ini menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Farmakokinetika. Apa yang sebenarnya terjadi pada Digoksin, apakah dia benci pada Rifampin lalu dia pergi? Apakah dia tidak suka dengan tingkah Rifampin yang nyebelin gara-gara ngerebut P-Glycoprotein lalu dia keluar? Kenapa? (Kok kayak sinetron ya jadinya, Digoksinku yang Hilang.)

Penyebab dari menurunnya kadar digoksin dalam tubuh tidak lain dan tidak bukan adalah karena adanya Rifampin. Rifampin ini ternyata akan menginduksi si P-Glycoprotein untuk mengikat digoksin dan membawanya keluar dari sel. Emang P-Glycoprotein itu transporter ya Nis? P-Glycoprotein juga merupakan salah satu anggota family transporter. Dia punya nama lain ABCB1 (The ATP binding Cassette B1àNomor kromosom) atau MDR1 (Multi Drug Resistance 1). Kayaknya tulisan dalam blog-ku yang ini harus banyak ditanyakan kebenaranya, kawan. Kalian masih harus melihat kembali ke handout ya. J

Banyak banget hal-hal baru yang kudapat pada kuliah ini. Dan kalimat terakhir dari dosenku adalah berupa suatu kesimpulan bahwa

“…transporter itu penting untuk transport senyawa endogen dan eksogen. Pengembangan obat baru ini lebih dikaji lagi pada bagaimana obat baru itu dapat menghambat spesifik pada 1 transporter…”

Yaa, seperti yang Bapak katakan tadi; 1 obat, 1 transporter, 1 judul thesis.

Kawan, Sebenarnya ada 1 pertanyaan yang pengen banget aku tanyakan ke Beliau. Sebuah pertanyaan klimaks yang sebenarnya aku juga sudah tahu jawabannya dari kuliah ini. Tapi, tujuanku bukanlah untuk cari sensasi, tapi hanya esensi. Hanya saja, lagi-lagi hanya jadi coretan dalam kertas (Ternyata aku masih belum berani.:’) )

Pak, Sebenarnya apa pentingnya kita mempelajari transporter ini? Lalu, apa hubungannya dengan farmasi? Lalu, Bagaimanakah ilmu yang kita pelajari ini kita pakai dalam praktik klinik nanti?

Kawan, aku ingin berbagi esensi aja ya, yang mungkin kadang kita lupakan. Kenapa sih kita perlu belajar ini? Dan terkadang dosen-dosen pun (walau tidak semua memang) juga tidak menekankan pada apa pentingnya ilmu ini dalam praktik kita nanti di masyarakat. Apakah kita lalu mau ngobrolin interaksi obat ini sampai tingkat molekulernya ke masyarakat. Mereka tidak akan paham, kawan. Dan ini akan membuat kita semakin jauh dari mereka. Katanya Pharmacist di mana ada 8 bintang dan salah satunya Communicator. Kalo gini, kita nggak akan bisa dekat dengan masyarakat dong. Dari pemikiran ini, aku mencoba merangkul semua minat. Ah bingung lagi, gini deh gampangannya.

Kita berhak mengembangkan apa yang kita sukai/minati, misalnya nih (langsung ke minat aja ya), anak-anak FST, kita dituntut menjadi ilmuwan (namanya juga science.hehe.). Nah kalo dilihat dari ilmu ini, anak-anak FST tugasnya adalah menemukan mekanisme aksi dari obat baru yang bisa memengaruhi kinerja transporter ini atau bisa juga mencari identitas dari masing-masing transporter terhadap 1 molekul obat (spesifisitasnya dalam Km). Lalu, setelah obat ini ditemukan, tugas anak FI lah yang akan membuat formulasi dan pemasaran terbaik dari produk ini (dengan Segmentasi, Targetting, Positioning, dan Marketing Mix Strategy). Setelah obat ini didistribusikan, obat ini kan akan sampai ke masyarakat dan dikonsumsi. Dalam masyarakat, pertanyaan ini akan sering muncul. Kenapa saya harus minum obat ini? Kenapa harus jam segini? Di sinilah menurutku peranan anak-anak FKK untuk bisa menjelaskannya ke masyarakat. Masa kalian mau menjelaskan misalnya Kenapa Rifampin nggak boleh bareng Digoksin karena akan menurunkan kadar digoksin akibat sifat inducer Rifampin pada P-Glycoprotein. Yang ada pasien kita malah kambuh jantungannya kawan akibat nggak bisa nangkep apa yang kita sampaikan. Kita harus bisa menempatkan posisi di mana kita berada. Memang, kita semua sebagai Scientist boleh menggunakan bahasa ilmiah, akan tetapi sebaiknya kita gunakan bahasa ini dalam forum-forum ilmiah atau ketika kita berinteraksi dengan teman sejawat kita. Bukan berarti untuk menunjukkan ke’sotoy’an kiata lho ya alias Kepandaian kita lho ya. Kita tetep harus kembali ke tujuan kita bekerja, yaitu untuk melayani pasien. Nah, ketika kita berkomunikasi dengan pasien, Hendaknya kita harus bisa membumi dengan mereka. Menurutku, Di sinilah peranan anak-anak FKK sangat diharapkan. Kita lah yang bertugas untuk menerjemahkan bahasa ilmiah yang dibuat oleh anak FST menjadi bahasa keseharian yang mudah dipahami masyarakat. Dan tentunya memang faktor pendidikan menjadi penting di sini. Boleh jadi, Kita mengembangkan tingkatan-tingkatan bahasa medis yang berbeda untuk level pendidikan yang berbeda. Di sinilah farmasi sosial dan farmasi kesehatan masyarakat berperan. Nah, buat temenku yang mau meneliti lebih lanjut tentang ini atau mau berdiskusi masalah ini, Boleh lho dengan senang hati saya akan mendengarkan dan sebisa mungkin menggali dan mengkaji lebih dalam dan mari kita sama-sama menemukan solusi bahasa yang terbaik untuk bisa disampaikan ke masyarakat.

Terus, ada 1 pertanyaan terakhir. Anak FBA ngapain dong Nis?

Hmmmm..Kasih tahu nggak ya? Aku temukan sendiri jawabannya dalam hati saja ya. Yang pasti, kita juga punya peran kok di sini. Memang bukan saat ini, Tunggu tanggal mainnya. 😛

Eh, obat nyamukku. Udah kering belum ya?

Hidup di Farmasi itu Ada 50 Pilihan, Tanya Kenapa?

  • Posted on February 5, 2013 at 1:02 am

Hidup di Farmasi itu Ada 50 Pilihan, Tanya Kenapa?

Sebenarnya agak berlebihan juga bila dikatakan bahwa hidup di farmasi itu ada 50 pilihan karena pilihan yang ada justru lebih dari itu. Mau buktinya? Ada. Datang ke kampus farmasi, terutama ke kantinnya, kita akan dibingungkan dengan pilihan makanan siang (Nggak semua temenku bingung sih, mungkin aku saja.-red). Mau makan siang apa hari ini? Soto, ada. Mie ayam, ada. Nasi goreng, ada. Gado-gado, ada. Nasi sayur, ada terlebih dengan aneka ragam pilihan sayurnya yang InsyaAllah menyehatkan. Itu kan pilihan (Aduh, jadi pengen nampilin foto kantin farmasi nih. Kapan punya kamera??huhuhuhu..:( ). Mau bukti lain? Aku mengenal kampusku ini sebagai kampus dengan pilihan minat studi yang variatif. Mungkin karena adanya kurikulum baru ini. Belum percaya? Bukti lain, fakultasku ini sudah mulai ramai dihuni oleh berbagai macam kendaraan, mulai dari sepeda onthel, sepeda lipat, sepeda kampus, motor (ini paling banyak), mobil (terbanyak kedua), dan kendaraan lain yang biasa digunakan mahasiswa untuk mobilisasi. Tentang transportasi yang banyak dipakai di kampusku akan aku tulis dalam artikelku yang lain, judulnya “Jaga Kami Ya, Belum Terlambat”, entah bakal dirilis kapan. As soon as possible, Insya Allah.:)

Nah, itu juga bukti banyaknya pilihan hidup di farmasi kan? Sudah ada 50 belum ya? Dihitung dan dicari bukti lain aja sendiri ya karena tujuanku menulis artikel ini bukan untuk menghitung banyaknya ‘pilihan’ di farmasi. (Hayooo, hati-hati ya dalam menerjemahkan kata pilihan ini. Bisa jadi lain entar maknanya.-red)

Lalu apa maksud dari 50 ini? Hmmm..Mungkin harus diawali dulu dengan sebuah pengenalan kehidupan kampusku. Minggu ini, tepatnya dari tanggal 4-6 Februari 2013 ini adalah masa-masa krs-an di kampusku. Nah, hal yang paling dipantengin mahasiswa atau menjadi perhatian utama mahasiswa dalam krs-an ini adalah jadwal kuliahnya. FYI!, Pada masa krs-an ini, tidak banyak mahasiswa yang pergi ke kampus dengan alasan masih ingin bersama keluarga (termasuk saya.hehehe), ada strategi khusus yang biasa kita-kita pakai, yaitu krs belakangan. Jadi, krs online dulu, terus yang manual nyusul pas masuk kuliah. Tapi, sebenarnya kita patut berhati-hati lho Guys, gimana kalo DPA kita baru keluar kota, padahal krs itu harus ditandatangani untuk dipakai buat registrasi praktikum #Panik. Yup, termasuk di kelasku. Walau sudah terbagi-bagi dalam peminatan, Insya Allah kelasku tetep kompak ya.

Kembali ke awal paragraf, hal yang menjadi fokus utama wktu krs-an adalah jadwal kuliah. Gimana mendapatkan jadwal kuliah yang nggak tabrakan apalagi ternyata angkatanku (2010) menghadapi situasi yang tidak biasa (seperti biasa-red), jadwal banyak yang tabrakan antara jadwal matkul General Pharmacy dan matkul Wajib Minat. Untuk itu, mari kita sama-sama berdoa semoga pihak akademik segera membuat pengaturan jadwalnya ya, kawan.

Ada yang menarik dengan jadwal kuliah semeter ini, kawan. Coba kalian tengok, papan dan tulis (baca teks ini dengan nada lagu tik-tik hujan.hahaha.-red). Maksudnya papan tulis yang biasa ditempeli kertas berisi jadwal kuliah. Atau di kaca di ruang akademik ya, aku nggak tahu, belum ke kampus.hehehe. Untungnya temanku ada yang nge-share foto ini di grup kelas. Thanks for Dwinita buat fotonya yang sangat menginspirasiku untuk nulis coretan ini (Jangan lupa nraktir aku ya karena namamu ada di blogku.*becanda)

Ini fotonya.

 

Bisakah Anda melihat dengan jelas fotonya dan tulisan yang ada di dalam foto itu?

Kurang jelas?

Ini aku zoom lagi. Sudah jelas kan? 🙂

Terlihat di jadwal itu ada satu baris bertuliskan ISTIRAHAT pada pukul 12.00-12.50. Dah mulai tahu kan darimana angka 50 ini?

Menurutku, itu adalah sesuatu yang baru. Kebijakan yang baru di kampusku. Yeeyyyy..akhirnya ada jam istirahat. Sempet aku bertanya-tanya bisa nggak sih farmasi ada jam istirahatnya kayak di fakultas teknik itu (Pertanyaan ini muncul saat aku datangi fakultas teknik program teknik geodesi, di mana jadwal istirahat ditulis pada pukul 11.00-13.00. Lebih lama memang.)

Dan aku seneng. Akhirnya ada kebijakan ini dari bapak-bapakku yang mengampu amanah. Terima kasih, Bapak. Nah, salah satu wujud ucapan terima kasih dan syukur kita adalah dengan memanfaatkan apa yang telah diberikan tadi dengan sebaik-baiknya manfaat bagi kita, setidaknya diri sendiri, kalo bisa bahkan bagi orang lain.  Mau kamu gunakan untuk apa 50 menit yang diberikan fakultas itu? Banyak pilihan yang sebenarnya bisa temen-temen ambil. Ada yang memilih menggunakan 50 menit itu untuk beristirahat (tidur+makan siang), ada juga yang miih buat rapat di sekre untuk bahas agenda kampus, ada yang milih buat ngerjain laporan/resume praktikum (nggak tau juga kalo ini.hehehe), ada juga yang milih untuk sholat dhuhur, ada yang membaca istilahnya nyicil materi kuliah, ada yang milih ngobrol bareng temen-temennya di taman, ada yang ke laboratorium buat njagain adik tingkat praktikum (kalo ini kayaknya nanggung banget deh.-red), atau ada pula yang sekedar nunggu dalam kelas dengan alasan itung-itung ngadem dalam ruangan kelas daripada kepanasan di luar. Yup, teman-teman. Inilah aktivitas yang biasa kita lakukan di kampus. Tapi, apa pun aktivitas yang kita lakukan itu, pastikan itu pilihan yang terbaik untuk kita karena perlu kita ketahui bahwa pilihan yang kita pilih saat ini akan menentukan jalan selanjutnya dalam kehidupan perkuliahan. Jangan sampai yang terjadi adalah 50 menit yang diberikan itu hanya akan menjadi pembuangan waktu yang sia-sia bagi pihak fakultas. Bijaklah dalam menggunakan waktu ya.

Oke, ini aja deh isnpirasiku pagi ini. Harapanku, Semoga kebijakan yang baik ini dapat kita jalankan dan manfaatkan dengan baik ya , kawan. Selamat KRS-an, Selamat Menyambut Semester Baru, Selamat Memilih..:)

Sumber gambar:

http://www.balairungpress.com/2012/04/menyoroti-pengelolaan-sepeda-kampus/ diakses tanggal 5 Februari 2013 jam 02.00 WITA.

www.sepedakampus.ugm.ac.id, diakses tanggal 5 Februari 2013 jam 02.00 WITA.

Surat yang (belum) terucap

  • Posted on September 3, 2012 at 2:17 pm

Assalamu’alaykum wr.wb.

Satu lagi blog yang terabaikan. (pengen ketawa.hahahaha)..Kapan mulai update lagi???? Jdi, sebelum saya mulai menulis lagi, saya ingin ngucapin

Minal Aidzin Wal Faidzin dulu ya untuk semuanya..^^

Semoga kita bisa bertemu dengan ramadhan selanjutnya ya..Aamiin..

Okeeee, judul blog ini sangat tidak sesuai dengan apa yang aku janjikan di tulisan sebelumnya, di mana rencanaku kan mau membagikan tulisan terkait metode-metode analisis dalam praktikum AOKM tuh, tapi berhubung kendala teknis (baca:males.:D), jadinya tertunda. Gapapa ya..Mungkin di tulisan-tulisan selanjutnya.

Surat yang (belum) terucap. Lho???Kok terucap??Bukannya surat itu untuk dibaca ya???? Ini semua ada hubungannya dengan apa yang aku alami hari ini. Sebenarnya, surat ini adalah suatu bentuk tanda tanyaku kepada para calon dekan fakultasku tercinta yang akan dipilih besok, tapi ya apa daya. Karena keterbatasan waktu (baca:aku telat juga datangnya), jadinya belum sempet tersampaikan deh. Mungkin, aku tulis di sini aja ya sebagai bentuk keplonganku, bukan bermaksud untuk cari sensasi atau apa. Ini hanya sebuah ekspresi dan apresiasiku kepada para bapakku selama 2 tahun ini (Waaaah, aku udah semester 5 ternyata.).

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————-

Assalamu’alaykum wr.wb.

Terimakasih atas kesempatan yang diberikan. Saya Nishaa, dari kelas C angkatan 2010. Saya melihat masalah yang dibahas saat ini adalah terkait kurikulum. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak-bapak sekalian atas kebijakan yang telah dibuat selama 4 tahun ini atau 2 tahun kuliah saya, terutama tentang adanya perubahan kurikulum di tahun 2011 ini yang memang itu harus dilakukan setiap 5 tahun sekali ya Pak (awalnya aku nulis 4 di note)?

Jujur saja, saya merasa sangat bersyukur sekali mendapatkan kurikulum baru ini. Awal kuliah, saya tidak mengetahui banyak tentang kefarmasian, namun dengan adanya kurikulum 2011 ini, saya merasa benar-benar diberi kesempatan untuk memahami farmasi gitu Pak dan saya bener-bener senang sampai saya tetap bertahan untuk kuliah di fakultas tertua ini. Mungkin ada beberapa teman seangkatan saya yang tidak setuju dengan pernyataan saya ini. Saya yaa…karena tiap orang kan punya feel yang berbeda untuk tiap keadaaan.

Nah, angkatan 2010 ini kan akan menjadi angkatan pertama yang akan mengalami 4 peminatan ni Pak.Dari informasi yang saya dengar, peminatan itu didasarkan pada minat mahasiswa yang bersangkutan, tapi dibatasi juga oleh kuota yang mana ujungnya IPK lah yang menentukan peminatannya. Yang ingin saya tanyakan adalah apakah dari pihak fakultas dalam hal ini mungkin bapak-bapak calon pemegang amanah ini, apakah ada semacam rencana..bisa dibilang rencana strategis sih Pak misalnya semacam plotting kuota peminatan ini untuk perencanaan ke depan dari lulusan masing-masing peminatan?

Misalkan, Lulusan minat FBA yang jumlahnya sekian (ex: 50) ini memang ditargetkan menjadi herbalist dan ujung tombak pengembangan fitofarmaka di Indonesia.

Atau, minat FKK, lulusannya ditargetkan mampu merancang metode/sistem pelayanan kefarmasian, baik dari tingkat desa, kabupaten, atau propinsi bahkan bisa nasional di mana nanti memang akan ada plotting yang sangat jelas di mana kita akan ditempatkan untuk mengabdi kepada bangsa ini. Sekian pertanyaan dari sana, Wassalamu’alaykum wr.wb.

—————————————————————————————————————————————————————————————————————————-

 Mungkin ada hal yang lain yang belum sempet aku pikirin saat mengonsep pernyataan/pertanyaan ini. Kalo dari sudut pandang mahasiswa sebagai seseorang yang telah dianggap “dewasa” bebas untuk memikirkan jalan hidupnya sendiri, terlebih setelah dia lulus. Tapi, sebenarnya yang ingin aku tekankan di sini adalah bagaimana semua elemen yang ada baik dari pihak birokrasi fakultas, pemerintah, industri, dan pihak lain mau dan harus mempersiapkan keberlangsungan praktik kefarmasian di Indonesia ini. Maksud saya adalah bagaimana kita diberikan suatu wadah untuk benar-benar menyalurkan minat dan kompetensi kita tapi juga diarahkan untuk pengembangananya dalam skala nasional gitu. Sempet juga tadi dibahas tentang pengembangan kurikulum yang ada saat ini. Menurutku, mungkin dua konsep yang diajukan tadi bisa digabuungkan, di mana kita tetep harus membawa ciri khas negeri kita yang memiliki keanekaragaman budaya dan hayati dan di satu pihak, kita tidak menutup kemungkinan untuk bisa masuk ke kancah internasional.

Ini aja sih yang ingin aku ungkapkan hari ini. Harapanku, siapapun dekan yang terpilih nanti, bisa memang bener-bener mampu mengayomi semua elemen/civitas akademika yang ada, Namun juga bisa memikirkan/merencakan farmasi ke depannya, yang mendukung visi UGM untuk menjadi universitas riset berskala internasional.

FARMASIS…CERDAS

PROFETIK…BERKARAKTER

2010….Be Brave To Be The Best

All about AOKM part #1

  • Posted on June 12, 2012 at 10:52 am

Menindaklanjuti tulisanku yang sebelumnya, Aku mau berbicara salah satu mata kuliah yang baru, AOKM atau Analisis Obat, Kosmetik, dan Makanan. Dibilang baru juga engga sih, hanya saja pada mata kuliah ini semua ditumplek-bleg jadi satu matkul buat semester 4 ini karena pada kurikulum lama, Analisis Obat dan Kosmetik jadi satu di Analisis Farmasi yang hanya didapat anak FSI, sementara untuk Analisis Makanan didapat anak FKK (bener nggak ya??-red). Tapi aku nggak akan menjelaskan apa-apa saja yang dipelajari di AOKM ini, aku cuma pengen buaut suatu ringkasan yang mungkin bakal jadi bermanfaat juga buat temen-temenku semua untuk belajar menghadapi responsi besok selasa, 19 Juni 2012. Tapi, mungkin ini akan butuh banyak sekali perbaikan. Oleh karena itu, butuh benar aku saran dan tulisan dari temen-temen untuk menyempurnakan ringkasan ini. Selamat membaca….

====================================================

MATA KULIAH : ANALISIS OBAT, KOSMETIK, DAN MAKANAN

SKS : 3 SKS (2 TEORI DAN 1 PRAKTIKUM)

MATERI PRAKTIKUM:

A. ANALISIS OBAT

Dari apa yang aku lihat di papan jadwal praktikum, aku mengambil kesimpulan bahwa semua yang kita analisis itu adalah materi kuliah juga, mulai dari obat analgetik-antiinflamasi (Asetosal, Parasetamol, Antalgin), Obat SSP (CTM, Kafein), Vitamin (Vit. B1), Antibiotik (Ampicilin), dan lain-lain (Al(OH)3, Dekstromethropan).

  1. Al(OH)3 –> (tablet)
  2. Asetosal –> (tablet)
  3. Parasetamol –> (tablet)
  4. Antalgin –> (tablet)
  5. Ampicilin –> (Sirup)
  6. Vit. B1 –> (tablet)
  7. CTM –> (tablet)
  8. Kafein –> (tablet)
  9. Dekstromethropan –> (belum tahu)

B. ANALISIS KOSMETIK

  1. ZnO –> (bedak)
  2. SPF –> (bedak)
  3. Antioksidan –> (lotion)
  4. SPF –> (lotion)
  5. Sulfur –> (sampo)
  6. SPF –> (sunblock)
  7. Pemutih
  8. Mg Stearat –> (bedak)
  9. Ca, Mg, Gliserol –> (pasta gigi)
  10. EDTA –> (sampo)
  11. Selenium –> (sampo)

C. ANALISIS MAKANAN

  1. Calsium –> (susu)
  2. Protein –>(biskuit dan susu)
  3. NaCl –> (sarden)
  4. Pengawet  :Asam benzoat–> (makanan)
  5. Nitrit –> (sarden)
  6. Pemanis : Cyclamate –> (minuman)

nb : warna ini berarti yang kelompokku (nishaa, karin, febri, n lia) analisis.

Hmmmm….part 1 sampai sini dulu ya..Semoga bisa membantu temen-temen dalam belajar,jadi kita fokusin untuk belajar dan mengenal senyawa-senyawa tersebut di atas lebih jauh, karena mereka akan menjadi sahabat-sahabat kita di dunia kefarmasian kelak, seperti kata pepatah:

“Tak kenal maka ta’aruf.”..#uupsss…Insya Allah menuju tafahum.:D


-to be continued for method of analysis in part #2-

Farmasis–>Analisis

  • Posted on June 8, 2012 at 9:20 pm

Alhamdulillah akhirnya menulis juga untuk kedua kalinya.

masih bingung juga dengan tulisan apa yang ingin ditulis diblog ini, terutama tentang dunia kefarmasian.Dunia di mana aku masuk sekarang dan sedang mempelajari serta memahami secara perlahan tentang apa itu farmasi.

Masih teringat betul aku dengan cerita kakakku tentang tanggapan tetanggaku terkait studiku ini. Aku yang belajar di farmasi, mereka bilang setelah aku lulus aku akan menjadi guru kimia. Aku hanya terdiam aja dengan tanggapan itu. Tidak pernah ada sebersit pun keinginanku untuk menjadi guru. tidak ada kata guru dalam kamusku meski aku tahu profesi guru adlah profesi yang sangat mulia. tapi, aku merasa tidak ada profesi yang mulia kecuali jika kita menjadikan profesi kita itu sesuatu yang mulia. Termasuk farmasis.

Lalu, apa hubungannya dengan judul tulisan ini?

Apa sih yang kalian ketahui tentang farmasis? Tentang menjadi seorang farmasis. Mengingat di fakultasku yang tercinta ini, aku benar-benar merasa ‘agak’ senang dengan masuk ke peralihan kurikulum. Kalian pasti tanya, Kenapa????

Di kurikulum yang baru ini, aku merasa aku semakin banyak mendapat kesempatan untuk mengenal dunia kefarmasian secara lebih menyeluruh, di mana ilmu-ilmu itu semua bisa aku dapet, mulai dari farmasi sosialnya, bagaimana memformulasi obat, mempelajari aktivitas obat, mempelajari semua sumber di mana obat itu berasal, dan analisis obat.

Tentang analisis obat,

Dosenku bilang, analisis ini menjadi hal pokok yang harus dilakukan seorang farmasis, karena kitalah yang nantinya harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita buat, apa yang ada dan akan dikonsumsi masyarakat dan ini hanya bisa dijamin dengan analisis. Analisis obat itu seperti teka-teki, kita harus mencari metode yang tepat, akurat, spesifik, sensitif, dan valid untuk suatu molekul obat…(istilahnya bejibun eiiiyyy..hehehe)

Hmmm…besok, mungkin akan aku ceritakan sedikit banyak suka duka praktikum semester ini yang sangat erat dengan analisis ini, yaitu Analisis Obat Makanan dan Kosmetik atau AOKM yang merupakan mata kuliah baru di kurikulum 2012 di fakultas ku ini. *korban kurikulum baru*