You are currently browsing the PENGEMBANGAN FITOFARMAKA category
Displaying 1 entry.

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Analisis Jamu

  • Posted on August 14, 2013 at 3:51 pm

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Analisis Jamu

Bismillah

Assalamu’alaykum wr.wb.

Sebelumnya selamat Hari PRAMUKA Sedunia. Mari kita jadikan gerakan pramuka sebagai gerakan yang membentuk generasi-generasi Indonesia yang  berkarakter Indonesia, Berjiwa Pancasila, dan menjunjung tinggi nilai dan budaya menuju kemandirian bangsa. Jadi ingat dulu saya paling senang dengan ekstrakurikuler ini karena didalamnya kita belajar banyak hal, mulai dari bertahan hidup di alam, tali-temali, kesehatan, berbagi informasi dengan sandi, mengenal alam dan orang lain, berlatih jiwa kepemimpinan. Aku cinta PRAMUKA. Hehehe..Cukup tentang PRAMUKA.

Jadi, hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah mata kuliah yang akan dipelajari oleh anak-anak FBA UGM di semester 7 nanti. Aku tetap saja berusaha mempertahankan apa yang kuyakini seharusnya dilakukan untuk jamu, OHT, dan Fitofarmaka. Aku, dalam masa-masaku ini hanya masih sulit menemukan jalan yang tepat untuk membawa konsep ini. Dan untuk mulai mengembangkan fitofarmaka, kita harus memulainya dari jamu. Kenapa harus jamu? Karena dialah yang pertama kali berkembang di Indonesia sejak jaman nenek moyang dulu. Karena kebiasaanku untuk mengotak-atik isi dari buku, aku pun membuka buku panduan akademik farmasi UGM, di mana di dalamnya terdapat uraian mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa pada tiap semesternya. Dan aku langsung tertarik pada mata kuliah di minat FBA. Untuk semester 7 nanti, ada 5 mata kuliah wajib minat yang harus ditempuh anak FBA, yaitu Fitoterapi, CPOTB dan UU OT, Jaminan Kualitas Bahan Baku Herbal, Analisis Kimia Tumbuhan Obat, dan Analisis Jamu ditambah 6 sks untuk mata kuliah pilihan. Mata kuliah semester 7 ini FBA banget. Sebenarnya aku merasa hampir sama atau setidaknya ada hubungan antara mata kuliah Analisis Jamu dan Jaminan Kualitas Bahan Baku Herbal. Kenapa? Nanti aku jelasin di belakang, ini dari sudut pandangku.

Karena rasa penasaranku dan keingintahuanku akan gambaran kuliah besok, aku pun mencoba mencari tahu apa yang akan dibahas dalam kuliah. Aku fokuskan pada analisis jamu, karena aku merasa ini ada hubungannya dengan saintifikasi jamu yang sedang dilakukan pemerintah saat ini guna menghadapi Harmonisasi ASEAN 2015. Mau tidak mau kita harus menghadapi ini, dan pertanyaannya sekarang apakah jamu, OHT, dan Fitofarmaka kita sudah siap menghadapinya?

Dari hasil tanya sana sini, akhirnya mendapatkan informasi bahwa salah satu dosen pengampu mata kuliah ini adalah bu Didik atau Ibu Dra. Sri Mulyani, SU, Apt. Dan saya pun langsung mencoba berdiskusi dengan beliau mengenai mata kuliah Analisis Jamu. Mungkin ada baiknya jika kita berkenalan dengan mata kuliah ini sesuai yang dipaparkan buku panduan akademik.hehehe

FAB 4202 Analisis Jamu 2(1) SKS

Mata kuliah ini memberi pengetahuan tentang analisis sediaan obat tradisional (jamu) dalam berbagai bentuk baik dalam bentuk rajangan, serbuk, dan modifikasinya (tapel, pil, pilis, parem, dan lain-lain) dan jamu ekstrak. Analisis dilakukan secara makroskopik, mikroskopik, maupun secara kimiawi. Mata praktikum analisis jamu berisi pokok-pokok bahasan mengenai analiis jamu, berisi pokok bahasan tentang analisis sediaan obat tradisional (jamu) dalam berbagai bentuk baik dalam bentuk rajangan, bentuk serbuk, dan modifikasinya (tapel, pil, pilis, parem, dll) dan jamu ekstrak. Analisis dilakukan secara makroskopik, mikroskopik, dan kimiawi ditujukan untuk mengetahui kebenaran kandungan sediaan serta adanya cemaran baik dari bahan alam lain maupun dari bahan kimia obat (BKO).

Buku acuan: Materia Medika, Trease and Evans Pharmacognosy, Ilmu Obat Alami (Farmakognosi), Drugs of Natural Origins, A Textbook of Pharmacognosy, American Herbal Pharmacopoeia Botanical Pharmacognosy.

Berikut hasil wawancara saya dengan beliau.

Mata kuliah analisis jamu ini diampu oleh ibu Didik, Ibu Andayana, dan Bapak Wahyono. Mata kuliah analisis jamu atau yang biasa disingkat oleh mahasiswa menjadi AnJam ini diberikan sebagai gambaran kepada mahasiswa bahwa analisis jamu merupakan hal yang penting dilakukan. Analisis jamu  dilakukan untuk mengecek dan control kualitas dari jamu. Kontrol kualitas yang dilakukan pun ada 2, yaitu dari segi kualitatif dan kuantitatif. Dalam kuliah ini, analisis jamu dibagi menjadi 3, analisis mikroskopik (Bu Didik), analisis makroskopik (Bu Andayana), dan analisis kimiawi (yang diampu oleh pak Wahyono). Metode analisis Jamu yang dipilih tergantung pada bentuk sediaan jamu. Untuk jamu yang berupa rajangan kecil, analisis yang dilakukan adalah analisis mikroskopik. Kita belajar melihat bentuk-bentuk sel tanaman dari rajangan untuk memastikan kebenaran bahan jamu. Untuk sediaan serbuk, analisis yang dilakukan berupa analisis organoleptis, mikroskopik, dan kimiawi. Sementara itu, untuk jamu yang sudah dalam bentuk ekstrak, analisis yang dilakukan hanya analisis kimiawi.

Dan saya pun menanyakan tentang control kualitas dari tanaman obat, apakah bisa dilakukan dalam analisis jamu karena menurut saya ini juga hal yang penting. Beliau menjelaskan bahwa untuk tanaman obat, kita perlu melibatkan bidang ilmu yang lain, misalnya untuk kebenaran profil tanaman/determinasinya, kita butuh ilmu Biologi. Lalu untuk penanaman tanaman obat (karena ini ada hubungannya dengan control kualitas), kita butuh ilmu pertanian tentang bagaimana pengolahan lahan yang baik. Sementara itu, bidang Farmasi lebih menekankan pada teknologi pasca panen dari tanaman obat tersebut hingga diolah menjadi sediaan obat tradisional yang siap dan layak dikonsumsi masyarakat.

Sempat kutanyakan pada beliau tentang pendapat beliau terkait saintifikasi jamu. Dan beliau tidak begitu mengetahui perihal ini. Kalian tahu apa yang kupikirkan setelah diskusi ini? Aku sempat mengusulkan pada beliau mengapa kita tidak membuat praktikum Analisis Jamu ini menjadi semacam proyek anak FBA selama semester 7 nanti, dimana dalam praktikum ini anak FBA akan benar-benar turun ke lapangan untuk mencari tahu profil jamu di kota yogyakarta seperti apa. Bagaimana selama ini jamu dikelola oleh para produsen kecil-kecilan. Aku berpikir sebagai calon apoteker herbal, anak-anak FBA harus lebih banyak terjun ke masyarakat penjual jamu. Kita harus tahu dulu apa yang selama ini dipahami tentang jamu dari sudut pandang produsen sebagai pelaku pasar obat tradisional. Proyek ini nanti selain melakukan analisis makroskopik, mikroskopik, dan kimiawi dengan sample mengambil langsung dari pasar, kita juga melakukan pendataan profil penjual jamu dan cara pengolahan jamu mereka selama ini. Misalnya mulai dari kebenaran bahan, komposisi jamu yang dibuat, proses produksinya seperti apa, dan pendapatannya. Kalian tahu kenapa aku berpikir seperti ini?

Aku pernah menanyai seorang penjual jamu yang berkeliling di kos ku, darimana ibu biasa mengolah jamu ini. Beliau menjawab bahwa bahan-bahan yang dipakai jamu beras kencur dan kunir asem dibuat sendiri, komposisi buat sendiri, dan untuk jamu hitam tinggal seduh jamu racikan dari pasar. Ada daun sambiloto campur macem-macem gitu katanya. Nah, waktu aku icip, rasanya sangat tidak enak kawan. Dari produsen saja belum memahami control kualitas jamu,  bukankah ini jadi ladang kerja/peluang kerja apoteker untuk turun kesana? Sebelum kita turun, kita cari tahu dulu apa yang salah selama ini dari pengolahan jamu di masyarakat, setelah tahu, kita sebagai anak FBA yang lebih tahu memiliki kewajiban untuk mengajak para produsen jamu untuk mengolah jamu menjadi produk jamu tradisional yang berkualitas. Aku sempat berpikir mungkin suatu saat nanti, apoteker herbal ini , setiap individunya memiliki kelompok binaan pedagang jamu, dimana disana mereka mendidik dan mengayomi para pedagang jamu untuk meningkatkan dan menjaga kualitas jamu yang dijual. Kelompok binaan ini nantinya akan berada dalam satu wadah koperasi jamu. Selain ada apoteker, didalamnya juga akan ada ahli biologi dan ahli pertanian yang mendidik masyarakat terutama petani tanaman obat untuk melakukan teknologi penanaman dan pemanenan yang dapat menghasilkan simplisia dengan kandungan kimia yang tinggi. Selain menguntungkan, hal ini akan memberi kepastian produk yang berkualitas. Bahan baku berkualitas, jamu berkualitas dengan harga yang terjangkau. Adanya koperasi jamu ini akan menjamin penghasilan para pedagang jamu dan petani tanaman obat karena adanya system sisa hasil usaha (SHU) disana. Koperasi jamu ini nantinya dapat menjual jamu dalam bentuk bahan baku baik simplisia maupun ekstrak sesuai kemampuan warga disitu ataupun menjual produk jamu olahan (misalnya jamu seduhan/rebusan seperti jamu beras kencur dan kunir asem yang siap minum). Apoteker disitu nanti akan melakukan penelitian tentang stabilitas jamu produk buatan binaannya (waktu kadaluarsanya), cara penyimpanan jamu olahan yang baik dan benar seperti hingga nanti sampai apoteker dapat  mengarahkan para anggota binaannya untuk memproduksi jamu yang berkhasiat. Darimana bisa dikatakan berkhasiat? Berkhasiat ini nantinya dilihat dari hasil saintifikasi jamu yang berorientasi untuk pengembangan fitofarmaka. Berbicara tentang khasiat, kita berbicara tentang dosis dari zat aktif yang bereaksi/berinteraksi dengan reseptor dalam tubuh hingga menimbulkan outcome terapi. Sebagai apoteker, apoteker bisa memperkirakan jumlah rimpang yang akan dipakai binaanya sehingga mendapatkan jamu dengan kandungan zat aktif yang memiliki efek terapi. Sehingga jamu yang dihasilkan pun berkhasiat, walau tidak dibuktikan secara ilmiah. Saintifikasi jamu ini seharusnya lebih diarahkan pada pencarian dosis yang memiliki efek minimal bagi terapi suatu penyakit. Inilah standardisasi yang sebenarnya.

Jika dihubungkan dengan harmonisasi ASEAN 2015, saya rasa selama 2 tahun ke depan adalah langkah yang lebih bijak jika kita lebih memfokuskan pada perbaikan kualitas jamu yang selama ini beredar di masyarakat. Sambil memperbaiki dan mendidik para pelaku pasar tradisional untuk meningkatkan kualiats jamu (tentunya apoteker herbal turun kesana), program saintifikasi jamu tetap dipersiapkan. Saintifikasi jamu/standardisasi jamu memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga ada baiknya kita kumpulkan dulu modal untuk dana riset sembari mempersiapkan masterplan fitofarmaka apa yang akan menjadi produk unggulan Indonesia nanti. Aku melihat dalam Permenkes no PERMENKES RI NOMOR 760/MENKES/PER/IX/1992 tentang Fitofarmaka disebutkan ada 19 daftar obat tradisional yang harus dikembangkan menjadi fitofarmaka, yaitu:

  1. ANTELMINTIK
  2. ANTI ANXIETAS
  3. ANTI ASMA
  4. ANTI DIABETES (HIPOGLIKEMIK)
  5. ANTI DIARE
  6. ANTI HEPATITIS KRONIK
  7. ANTI HERPES GENITALIS
  8. ANTI HIPERLIPIDEMIA
  9. ANTI HIPERTENSI
  10. ANTI HIPERTIROIDISMA
  11. ANTI HISTAMIN
  12. ANTI INFLAMASI (ANTI REMATIK)
  13. ANTI KANKER
  14. ANTI MALARIA
  15. ANTI TBC
  16. ANTITUSIF (MUKOLITIF)
  17. DISENTRI
  18. DISPEPSIA
  19. DIURETIK

Aku memang tidak tahu atau belum tahu kebijakan saintifikasi jamu yang dilakukan saat ini apakah telah sesuai dengan yang diharapkan pemerintah lalu atau tidak. Mungkin karena jamannya sudah brbeda, ada beberapa daftar yang harus dirubah. Dari hasil catatanku, aku menemukan setidaknya ada 7 peluang daftar obat tradisional yang bisa dikembangkan menjadi fitofarmaka buatan farmasi UGM, salah satunya sediaan antiflu yang aku ingin kembangkan.

Kembali ke daftar obat tradisional yang harus dikembangkan menjadi fitofarmaka, aku merasa ada yang kurang. Justru ini yang paling penting, tanaman apa yang berkhasiat untuk penyakit-penyakit itu? Harusnya ini juga disampaikan dalam kebijakan itu. Atau akupun berpikir. Jamu kan berasal dari kearifan local masyarakat Indonesia. Masyarakat mengonsumsi jamu tertentu untuk mengobati penyakit tertentu karena pengalamannya. Bukankah saintifikasi jamu bertujuan untuk membuktikan apa yang biasa dipakai oleh masyarakat itu berkhasiat? Dengan pendekatan purifarmakologi (yeyyy, promosi lagi. Padahal belum dikembangin.hehehe-red), kita bisa melakukan penelitian ini. Kita lihat profil tanamannya, lihat profil penyakit dan tata laksana terapinya seperti apa, kita lakukan pendekatan penelitian yang paling logis untuk dijadikan landasan dalam riset pengembangan fitofarmaka. Ketika standard (dalam pengertian saya, standard disini adalah dosis), sudah ditemukan, simplisia manapun nantinya bisa digunakan untuk membuat sediaan yang memiliki khasiat sebagai obat penyakit tertentu. Perbedaan nanti hanya terlihat dari kualitasnya gitu.

So, this is about my opinion.  Jikalau ideku ini benar-benar terwujud dimana praktikum analisis jamu dan jaminan kualitas bahan baku herbal seperti apa (aku sempat berpikir untuk menggabungkan jumlah jam mata kedua praktikum ini), kalian tahu harus menyalahkan siapa.whahahaha..#devil_laugh.

Sekilas lagi cuplikan proposal PIMFI ku yang lalu. Ini skema standardisasi menurut Nishaa.

 

 

Untuk skema yang kiri itu aku dapatkan dari paper professor Robert Bauer, yang berjudul Quality Criteria and Standardization of Phytopharmaceuticals : Can Acceptable Drug Standards be Achieved?”.

Mungkin aku dibilang nekat berani menentang professor Jerman, akan tetapi aku tetap merasa ada yang salah dengan konsep ini. Meskipun ada beberapa yang aku sepakati, misalnya macam-macam marker dan aplikasinya, normalisasi ekstrak, dan parameter serta faktor yang memengaruhi kualitas ekstrak, aku menyepakati hal itu. Namun, aku tetap melihat ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu pembuktian efikasi dan zat aktif yang terkandung di dalamnya serta mekanisme aksi farmakologisnya dalam terapi seperti apa. Ini yang lebih dibutuhkan para tenaga kesehatan jikalau jamu, OHT, dan Fitofarmaka benar-benar ingin digunakan dalam system pelayanan  kesehatan bangsa Indonesia. Jamu tetap eksis, Fitofarmaka go International (jadi komoditas ekspor) dimana fitofarmaka jadi ciri khas Indonesia dan hanya dokter-apoteker Indonesia yang boleh memasarkannya. Dimana ada Fitofarmaka, di sana ada dokter dan apoteker Indonesia yang siap memberikan Pharmaceutical Care yang sesuai karakter pribadi orang Indonesia yang ramah. Ini impianku. Can we make it real, this dream, TOGETHER?

 Masih ada skema lanjutan dari konsep standardisasi yang aku ajukan ini. Tunggu KCAB selanjutnya yaa..:)