Displaying 11 - 20 of 42 entries.

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Hukum

  • Posted on August 16, 2013 at 6:51 am

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Hukum

Bismillah.

Ada baiknya kita mengawali pagi ini dengan

ALQUR’AN HARI INI:

“Sungguh, al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang Mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar (Q. S. Al-Isra : 9)

Berbicara huku, aku jadi teringat pada diskusiku menjelang PPSMB ini dengan partnerku dan narasumber yang kupercaya (hehehe). Dan ini salah satu hasil diskusinya. Jengjengjeng. Menghasilkan sebuah teori yang kami sebut Teori Kepribadian-Kapabilitas untuk menjabarkan karakter prophetic yaitu amanah (Dapat Dipercaya).

TEORI KEPRIBADIAN-KAPABILITAS yang kupahami dari konsep Prophetic Skill dalam PPSMB (Terima kasih pada mas Taufik R. buat penjelasannya. Namamu masuk blogku lagi mas. Emang dulu pernah, Nis?hahaha#plak.)

TEORI KEPRIBADIAN-KAPABILITAS

Aku pernah mendengar, entah itu hadits atau apa (Wallahu a’lam), bahwa ada 3 cara yang bisa kita lakukan ketika kita melihat suatu kejahatan atau kezaliman terjadi pada seseorang. Jika dihubungkan dengan teori kepribadian-kapabilitas, 3 cara itu adalah sebagai berikut.

Cara yang pertama adalah kita menghukumnya atau memberikan tindakan langsung kepadanya. Siapa orang yang bisa melakukannya?

Dalam teori kepribadian-kapabilitas, orang-orang yang bisa melakukan aksi ini adalah orang berilmu yang memiliki wewenang, dalam hal ini berarti ketika kejahatan itu terjadi, beliau-beliaulah yang bertanggung jawab menindaknya. Karena Negara kita adalah Negara hukum, makanya ada pengadilan yang mengadili orang-orang yang berbuat jahat dan zalim tadi. Sekarang yang jadi permasalahan adalah bagaimana dengan hukumnya sendiri? Di sinilah kita butuh orang-orang yang berilmu, yang memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang hukum dan teori hukum yang berhubungan, sehingga dalam membuta peraturan mereka ada dasarnya dan bisa mengembangkannya sesuai dengan kondisi di masyarakat saat itu. Orang-orang hukum itu makanya harus kritis dan kreatif. Hukum yang dibuat harus adil. Dan mungkin untuk anak-anak hukum, kita harus lebih memahami teorinya seperti apa ya. Ketika hukum sudah sip dan siap dijalankan, sekarang kita masuk ke pelaksaan system hukum yang diambil tadi. Di sini kita membutuhkan para pelaku penegak hukum yang tegas dan tidak pandang bulu. Artinya, ketika hukum sudah benar dan sudah ada peraturan yang harus dipatuhi, siapapun baik pejabat ataupun masyarakat biasa yang melanggar, ya harus ditindak. Dihukum sesuai kejahatannya. Nah, kita perlu perhatikan lagi terkait pemberian sanksi. Sanksi yang diberikan memang harus bersifat jera bagi pelaku kejahatan, namun mereka juga manusia yang diberi akal oleh Tuhan. Mengapa mereka tidak kita manfaatkan akalnya untuk berpikir dan melakukan sesuatu yang membaikkan kehidupan mereka setelah mereka bebas nanti? Lebih baik kita memberikan hukuman yang konstruktif, daripada hukum yang destruktif. Apalagi orang yang jahat kan biasanya mereka itu kreatif dan ahli strategi dalam melakukan aksi kejahatannya. Nah, adanya sanksi ini harus bisa mengarahkan pola pikir mereka dan potensi mereka kea rah pembuatan strategi aksi kebaikan. Setidaknya setelah lulus, mereka dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Kalo dipikir-pikir, target/pelaku kejahatan ini dalam teori kepribadian-kapabilitas adalah orang kuadran III dan kuadran IV ya.hehehehe

Itu cara yang pertama.

Cara yang kedua, adalah dengan menegur atau menasehatinya. Siapa orang yang melakukan ini? Orang ini tentunya memahami betul bahwa apa yang penjahat/orang yang zalim lakukan itu adalah belum benar. Hanya saja dia tidak memiliki wewenang untuk menindak langsung orang itu, mungkin karena ya dia memang tidak punya wewenang menghakimi  orang lain, pokoknya terkait dengan kapabilitasnya. Sehingga yang bisa dia lakukan hanyalah menasehatinya atau mungkin bisa jadi dia sudah melakukan aksi dengan melapor tindakan kejahatan/kezaliman itu kepada pihak yang berwajib. Sehingga cara I pun dapat dijalankan oleh pihak kuadran I. Makanya ada posko pengaduan masyarakat/kanalKPK. Setidaknya disini, orang sudah melakukan suatu upaya agar kejahatan itu tidak terjadi. Bukan begitu, KPK?Hehehehe

Cara yang ketiga adalah dengan mendoakannya. Yaaa, mungkin inilah yang menjadi alternative orang banyak. Ketika tidak ada yang bisa dilakukannya, sebenarnya dia harus menyadari bahwa masih ada 1 hal yang mungkin, yaitu mendoakan agar kejahatan itu segera diatasi. Seperti ada orang yang ketika melihat masalah orang lain, dia mungkin tidak bisa membantu. Dan dia hanya bisa mendoakan. Bukan berarti apatis, hanya saja dia merasa dia juga memiliki masalah yang sama banyaknya dengan orang itu yang harus dia selesaikan sendiri. Bukankah kita harus memulainya dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil, dan dimulai dari sekarang? Ketika kita sudah baik, orang juga akan baik kepada kita. Siapa orang-orang yang seperti ini? Mungkin tidak termasuk dalam kuadran itu, atau bisa jadi juga masuk kuadran II. Semoga.

Apakah ini yang sedang terjadi dan harus kita lakukan untuk Mesir? Which one do you choose? Mari kita melihatnya tidak hanya dari sudut pandang kita sendiri. Karena bisa jadi ada bahaya yang lebih besar mengancam ketika kita melakukan tindakan yang sembrono, meskipun itu adalah hal yang benar. Bukan begitu, Pak Presidenku, Pak SBY? Entah kenapa aku merasa Bapak sedang mengemban amanah yang begitu besar pertanggungjawaban dan pengorbanan yang Bapak lakukan demi eksistensi bangsa ini. Terima kasih, Bapak. Aku tidak tahu apakah intuisiku kali ini benar atau tidak, dari semua yang terjadi, aku merasa memang ada yang Bapak sembunyikan akan tetapi tidak bisa diberitahukan karena ini akan mengancam eksistensi bangsa kita. I don’t know why I think this way. Wallahu a’lam.

 

 

NB: Barusan buka twitter dan menemukan bahwa kita bisa baca Qunut Nazilah dan Doa khusus untuk Mesir. Ini aku lansir dari websitenya dakwatuna.:)

“Kita wajib memberikan dukungan, sekurang-kurangnya melalui doa. Kekuatan doa itu sangat dahsyat,” kata Said di jakarta, Kamis (15/8).

“Saya menhimbau kepada umat Islam agar membacakan qunut nazilah disetiap shalat fardhu, bahkan di dalam khutbah Jumat. Doa untuk Mesir bisa dibacakan dalam doa khutbah kedua,” sambungnya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/08/16/38001/ketua-pbnu-umat-islam-baca-qunut-nazilah-dan-doa-khusus-untuk-mesir/#ixzz2c5Cia2oU
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

#PRAY_FOR__MESIR

Inilah kicauan pagiku hari ini. Mengawali pagi dengan memahami HUKUM dari sudut pandangku sendiri. Mungkin banyak orang yang meragukannya. Aku tidak peduli, walaupun aku tidak menuliskan daftar pustaka sumber penulisannya. Karena ini bukan tulisan ilmiah, hanya sebuah kicauan dan coretan seseorang yang berusaha memaksimalkan potensi yang dia miliki demi sebuah perbaikan aksi dan perjalanan. Itu saja.

Semoga bermanfaat. JUMAT PAGI INI, JUMAT BAROKAH. AGUSTUS KEMENANGAN.

16 Agustus 2013, satu peristiwa penting terjadi hari ini. Peristiwa Rengasdengklok. Apa yang bisa kita ambil dari momen itu? Ayo beli JAS MERAH lagi. JAS MERAH yang paling tua, lalu dimodifikasi biar modis.whehehehe

 

PAPERPLANE : SEBUAH HARAPAN

  • Posted on August 15, 2013 at 10:59 pm

Bismillahirrahmanirrahim. 🙂

“Allah telah membeli jiwa-jiwa kalian dengan syurga-Nya”

(Q.S. 7 : 111)

 

Laa yukallifullaha nafsan illa wus’aha (Allah tidak membebani hamba-Nya melebihi batas kemampuannya). |Jadi, yakinlah mampu. Bismillah. 🙂

 

Dimulai dari pendidikan karakter dengan konsep prophetic learning, dirangkai dengan penjagaan lembaga sebagai wahana belajar mahasiswa, dilanjutkan dengan kegiatan perkuliahan berbasis pendekatan 7C terbalik dan MAF (Madani Asisten Forum) dengan menjaga budaya intelektual (baca, tulis, dan sampaikan/diskusikan). Perlu diperhatikan tentang makna baca dan tulis yang sebenarnya dalam memahami ilmu (ilmu ada 3, ilmu profesi, ilmu pengembangan diri, dan ilmu humaniora). Adanya MAF akan menghidupkan kolaborasi dosen-mahasiswa dalam riset pengembangan obat untuk pelayanan kesehatan di Indonesia. Kegiatan perkuliahan didukung kurikulum dengan pendekatan 7C terbalik dan peminatan farmasi dibagi 2, farmasi klinik (FKK) dan farmasi sains (dengan 3 ranah bidang, FST, FBA, dan FI) dimulai sejak semester 3, dengan penanaman karakter profetik (4 sifat kenabian dan akhlak terpuji lainnya) disertai kemampuan intelektualitas yang kritis dan kreatif pada diri mahasiswa untuk bersemangat mencari ilmu guna menciptakan kebermanfaatan bagi masyarakat, Farmasi Madani akan dapat terwujud. Ketika itu terjadi, Innovative Driven Era 2020 akan terwujud melalui Pengembangan Fitofarmaka sebagai ujung tombak sistem pengobatan dan pelayanan kesehatan di mana Pharmaceutical Care dengan karakter asli budaya ketimuran Indonesia diterapkan , yakinlah Indonesia Emas 2045 akan tercapai.

Dengan semangat membangun kepedulian, kembali kepada budaya membaca dan menulis, berpikir kritis-kreatif dalam menyelesaikan permasalahan di masyarakat, menjaga apa yang telah diajarkan oleh agama dan kepercayaan kita masing-masing,

AKU BERHARAP

AKU PERCAYA

bahwa

1 LANGKAH INI

Adalah SATU LANGKAH PANJANG

DALAM MENCAPAI RIDLO-NYA.

Tidakkah kau ingin mewujudkannya bersamaku?

DALAM SEBUAH HARAPAN

AKU PERCAYA

KINI,

TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN

JIKA ITU MEMANG APA YANG MENJADI KEHENDAK-NYA.

:’)

 

Karena kita , mahasiswa

adalah

INTELEKTUAL yang berusaha menciptakan sebuah cita

MASYARAKAT MADANI

karena itulah

kita harus memahami posisi kita

sebagai

INTELEKTUAL MADANI UNIVERSITAS GADJAH MADA (IM UGM)

dalam satu cita

“Dari Ilmu, Oleh Intelektual, Untuk Indonesia”

 

Do I Dream High?

Yes, I Do. Because this is what I’ve chosen for my life and my ever after life.

Lillahi ta’ala.

PAPER PLAN : Benar dan Salah

  • Posted on August 14, 2013 at 4:38 pm

adalah salah

menganggap REALITA adalah IDEALITA

adalah salah

menganggap ILMU sebagai OBYEK, bukan SUBYEK.

Kita adalah SARANA.

adalah salah

menganggap kualitas sebagai STANDAR, bukan PROSES.

Dia adalah SARANA.

adalah salah

menganggap PANCASILA sebagai PILAR, bukan PONDASI.

Pancasila adalah DASAR NEGARA.

Adalah benar

menjadikan IDEALITA sebagai REALITA

Adalah masanya

yang bukan pada tempatnya dikembalikan sesuai fungsinya,

Kebenaran adalah benar, Kebatilan adalah batil.

Semua perlu dibuktikan.

Benar dan Salah adalah bentuk relativitas akal manusia,

karena

KEBENARAN HANYA DATANG DARI ALLAH.

Menuju UGM “World Class Research University 2

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Analisis Jamu

  • Posted on August 14, 2013 at 3:51 pm

Ketika (calon) Apoteker Berbicara tentang Analisis Jamu

Bismillah

Assalamu’alaykum wr.wb.

Sebelumnya selamat Hari PRAMUKA Sedunia. Mari kita jadikan gerakan pramuka sebagai gerakan yang membentuk generasi-generasi Indonesia yang  berkarakter Indonesia, Berjiwa Pancasila, dan menjunjung tinggi nilai dan budaya menuju kemandirian bangsa. Jadi ingat dulu saya paling senang dengan ekstrakurikuler ini karena didalamnya kita belajar banyak hal, mulai dari bertahan hidup di alam, tali-temali, kesehatan, berbagi informasi dengan sandi, mengenal alam dan orang lain, berlatih jiwa kepemimpinan. Aku cinta PRAMUKA. Hehehe..Cukup tentang PRAMUKA.

Jadi, hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah mata kuliah yang akan dipelajari oleh anak-anak FBA UGM di semester 7 nanti. Aku tetap saja berusaha mempertahankan apa yang kuyakini seharusnya dilakukan untuk jamu, OHT, dan Fitofarmaka. Aku, dalam masa-masaku ini hanya masih sulit menemukan jalan yang tepat untuk membawa konsep ini. Dan untuk mulai mengembangkan fitofarmaka, kita harus memulainya dari jamu. Kenapa harus jamu? Karena dialah yang pertama kali berkembang di Indonesia sejak jaman nenek moyang dulu. Karena kebiasaanku untuk mengotak-atik isi dari buku, aku pun membuka buku panduan akademik farmasi UGM, di mana di dalamnya terdapat uraian mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa pada tiap semesternya. Dan aku langsung tertarik pada mata kuliah di minat FBA. Untuk semester 7 nanti, ada 5 mata kuliah wajib minat yang harus ditempuh anak FBA, yaitu Fitoterapi, CPOTB dan UU OT, Jaminan Kualitas Bahan Baku Herbal, Analisis Kimia Tumbuhan Obat, dan Analisis Jamu ditambah 6 sks untuk mata kuliah pilihan. Mata kuliah semester 7 ini FBA banget. Sebenarnya aku merasa hampir sama atau setidaknya ada hubungan antara mata kuliah Analisis Jamu dan Jaminan Kualitas Bahan Baku Herbal. Kenapa? Nanti aku jelasin di belakang, ini dari sudut pandangku.

Karena rasa penasaranku dan keingintahuanku akan gambaran kuliah besok, aku pun mencoba mencari tahu apa yang akan dibahas dalam kuliah. Aku fokuskan pada analisis jamu, karena aku merasa ini ada hubungannya dengan saintifikasi jamu yang sedang dilakukan pemerintah saat ini guna menghadapi Harmonisasi ASEAN 2015. Mau tidak mau kita harus menghadapi ini, dan pertanyaannya sekarang apakah jamu, OHT, dan Fitofarmaka kita sudah siap menghadapinya?

Dari hasil tanya sana sini, akhirnya mendapatkan informasi bahwa salah satu dosen pengampu mata kuliah ini adalah bu Didik atau Ibu Dra. Sri Mulyani, SU, Apt. Dan saya pun langsung mencoba berdiskusi dengan beliau mengenai mata kuliah Analisis Jamu. Mungkin ada baiknya jika kita berkenalan dengan mata kuliah ini sesuai yang dipaparkan buku panduan akademik.hehehe

FAB 4202 Analisis Jamu 2(1) SKS

Mata kuliah ini memberi pengetahuan tentang analisis sediaan obat tradisional (jamu) dalam berbagai bentuk baik dalam bentuk rajangan, serbuk, dan modifikasinya (tapel, pil, pilis, parem, dan lain-lain) dan jamu ekstrak. Analisis dilakukan secara makroskopik, mikroskopik, maupun secara kimiawi. Mata praktikum analisis jamu berisi pokok-pokok bahasan mengenai analiis jamu, berisi pokok bahasan tentang analisis sediaan obat tradisional (jamu) dalam berbagai bentuk baik dalam bentuk rajangan, bentuk serbuk, dan modifikasinya (tapel, pil, pilis, parem, dll) dan jamu ekstrak. Analisis dilakukan secara makroskopik, mikroskopik, dan kimiawi ditujukan untuk mengetahui kebenaran kandungan sediaan serta adanya cemaran baik dari bahan alam lain maupun dari bahan kimia obat (BKO).

Buku acuan: Materia Medika, Trease and Evans Pharmacognosy, Ilmu Obat Alami (Farmakognosi), Drugs of Natural Origins, A Textbook of Pharmacognosy, American Herbal Pharmacopoeia Botanical Pharmacognosy.

Berikut hasil wawancara saya dengan beliau.

Mata kuliah analisis jamu ini diampu oleh ibu Didik, Ibu Andayana, dan Bapak Wahyono. Mata kuliah analisis jamu atau yang biasa disingkat oleh mahasiswa menjadi AnJam ini diberikan sebagai gambaran kepada mahasiswa bahwa analisis jamu merupakan hal yang penting dilakukan. Analisis jamu  dilakukan untuk mengecek dan control kualitas dari jamu. Kontrol kualitas yang dilakukan pun ada 2, yaitu dari segi kualitatif dan kuantitatif. Dalam kuliah ini, analisis jamu dibagi menjadi 3, analisis mikroskopik (Bu Didik), analisis makroskopik (Bu Andayana), dan analisis kimiawi (yang diampu oleh pak Wahyono). Metode analisis Jamu yang dipilih tergantung pada bentuk sediaan jamu. Untuk jamu yang berupa rajangan kecil, analisis yang dilakukan adalah analisis mikroskopik. Kita belajar melihat bentuk-bentuk sel tanaman dari rajangan untuk memastikan kebenaran bahan jamu. Untuk sediaan serbuk, analisis yang dilakukan berupa analisis organoleptis, mikroskopik, dan kimiawi. Sementara itu, untuk jamu yang sudah dalam bentuk ekstrak, analisis yang dilakukan hanya analisis kimiawi.

Dan saya pun menanyakan tentang control kualitas dari tanaman obat, apakah bisa dilakukan dalam analisis jamu karena menurut saya ini juga hal yang penting. Beliau menjelaskan bahwa untuk tanaman obat, kita perlu melibatkan bidang ilmu yang lain, misalnya untuk kebenaran profil tanaman/determinasinya, kita butuh ilmu Biologi. Lalu untuk penanaman tanaman obat (karena ini ada hubungannya dengan control kualitas), kita butuh ilmu pertanian tentang bagaimana pengolahan lahan yang baik. Sementara itu, bidang Farmasi lebih menekankan pada teknologi pasca panen dari tanaman obat tersebut hingga diolah menjadi sediaan obat tradisional yang siap dan layak dikonsumsi masyarakat.

Sempat kutanyakan pada beliau tentang pendapat beliau terkait saintifikasi jamu. Dan beliau tidak begitu mengetahui perihal ini. Kalian tahu apa yang kupikirkan setelah diskusi ini? Aku sempat mengusulkan pada beliau mengapa kita tidak membuat praktikum Analisis Jamu ini menjadi semacam proyek anak FBA selama semester 7 nanti, dimana dalam praktikum ini anak FBA akan benar-benar turun ke lapangan untuk mencari tahu profil jamu di kota yogyakarta seperti apa. Bagaimana selama ini jamu dikelola oleh para produsen kecil-kecilan. Aku berpikir sebagai calon apoteker herbal, anak-anak FBA harus lebih banyak terjun ke masyarakat penjual jamu. Kita harus tahu dulu apa yang selama ini dipahami tentang jamu dari sudut pandang produsen sebagai pelaku pasar obat tradisional. Proyek ini nanti selain melakukan analisis makroskopik, mikroskopik, dan kimiawi dengan sample mengambil langsung dari pasar, kita juga melakukan pendataan profil penjual jamu dan cara pengolahan jamu mereka selama ini. Misalnya mulai dari kebenaran bahan, komposisi jamu yang dibuat, proses produksinya seperti apa, dan pendapatannya. Kalian tahu kenapa aku berpikir seperti ini?

Aku pernah menanyai seorang penjual jamu yang berkeliling di kos ku, darimana ibu biasa mengolah jamu ini. Beliau menjawab bahwa bahan-bahan yang dipakai jamu beras kencur dan kunir asem dibuat sendiri, komposisi buat sendiri, dan untuk jamu hitam tinggal seduh jamu racikan dari pasar. Ada daun sambiloto campur macem-macem gitu katanya. Nah, waktu aku icip, rasanya sangat tidak enak kawan. Dari produsen saja belum memahami control kualitas jamu,  bukankah ini jadi ladang kerja/peluang kerja apoteker untuk turun kesana? Sebelum kita turun, kita cari tahu dulu apa yang salah selama ini dari pengolahan jamu di masyarakat, setelah tahu, kita sebagai anak FBA yang lebih tahu memiliki kewajiban untuk mengajak para produsen jamu untuk mengolah jamu menjadi produk jamu tradisional yang berkualitas. Aku sempat berpikir mungkin suatu saat nanti, apoteker herbal ini , setiap individunya memiliki kelompok binaan pedagang jamu, dimana disana mereka mendidik dan mengayomi para pedagang jamu untuk meningkatkan dan menjaga kualitas jamu yang dijual. Kelompok binaan ini nantinya akan berada dalam satu wadah koperasi jamu. Selain ada apoteker, didalamnya juga akan ada ahli biologi dan ahli pertanian yang mendidik masyarakat terutama petani tanaman obat untuk melakukan teknologi penanaman dan pemanenan yang dapat menghasilkan simplisia dengan kandungan kimia yang tinggi. Selain menguntungkan, hal ini akan memberi kepastian produk yang berkualitas. Bahan baku berkualitas, jamu berkualitas dengan harga yang terjangkau. Adanya koperasi jamu ini akan menjamin penghasilan para pedagang jamu dan petani tanaman obat karena adanya system sisa hasil usaha (SHU) disana. Koperasi jamu ini nantinya dapat menjual jamu dalam bentuk bahan baku baik simplisia maupun ekstrak sesuai kemampuan warga disitu ataupun menjual produk jamu olahan (misalnya jamu seduhan/rebusan seperti jamu beras kencur dan kunir asem yang siap minum). Apoteker disitu nanti akan melakukan penelitian tentang stabilitas jamu produk buatan binaannya (waktu kadaluarsanya), cara penyimpanan jamu olahan yang baik dan benar seperti hingga nanti sampai apoteker dapat  mengarahkan para anggota binaannya untuk memproduksi jamu yang berkhasiat. Darimana bisa dikatakan berkhasiat? Berkhasiat ini nantinya dilihat dari hasil saintifikasi jamu yang berorientasi untuk pengembangan fitofarmaka. Berbicara tentang khasiat, kita berbicara tentang dosis dari zat aktif yang bereaksi/berinteraksi dengan reseptor dalam tubuh hingga menimbulkan outcome terapi. Sebagai apoteker, apoteker bisa memperkirakan jumlah rimpang yang akan dipakai binaanya sehingga mendapatkan jamu dengan kandungan zat aktif yang memiliki efek terapi. Sehingga jamu yang dihasilkan pun berkhasiat, walau tidak dibuktikan secara ilmiah. Saintifikasi jamu ini seharusnya lebih diarahkan pada pencarian dosis yang memiliki efek minimal bagi terapi suatu penyakit. Inilah standardisasi yang sebenarnya.

Jika dihubungkan dengan harmonisasi ASEAN 2015, saya rasa selama 2 tahun ke depan adalah langkah yang lebih bijak jika kita lebih memfokuskan pada perbaikan kualitas jamu yang selama ini beredar di masyarakat. Sambil memperbaiki dan mendidik para pelaku pasar tradisional untuk meningkatkan kualiats jamu (tentunya apoteker herbal turun kesana), program saintifikasi jamu tetap dipersiapkan. Saintifikasi jamu/standardisasi jamu memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga ada baiknya kita kumpulkan dulu modal untuk dana riset sembari mempersiapkan masterplan fitofarmaka apa yang akan menjadi produk unggulan Indonesia nanti. Aku melihat dalam Permenkes no PERMENKES RI NOMOR 760/MENKES/PER/IX/1992 tentang Fitofarmaka disebutkan ada 19 daftar obat tradisional yang harus dikembangkan menjadi fitofarmaka, yaitu:

  1. ANTELMINTIK
  2. ANTI ANXIETAS
  3. ANTI ASMA
  4. ANTI DIABETES (HIPOGLIKEMIK)
  5. ANTI DIARE
  6. ANTI HEPATITIS KRONIK
  7. ANTI HERPES GENITALIS
  8. ANTI HIPERLIPIDEMIA
  9. ANTI HIPERTENSI
  10. ANTI HIPERTIROIDISMA
  11. ANTI HISTAMIN
  12. ANTI INFLAMASI (ANTI REMATIK)
  13. ANTI KANKER
  14. ANTI MALARIA
  15. ANTI TBC
  16. ANTITUSIF (MUKOLITIF)
  17. DISENTRI
  18. DISPEPSIA
  19. DIURETIK

Aku memang tidak tahu atau belum tahu kebijakan saintifikasi jamu yang dilakukan saat ini apakah telah sesuai dengan yang diharapkan pemerintah lalu atau tidak. Mungkin karena jamannya sudah brbeda, ada beberapa daftar yang harus dirubah. Dari hasil catatanku, aku menemukan setidaknya ada 7 peluang daftar obat tradisional yang bisa dikembangkan menjadi fitofarmaka buatan farmasi UGM, salah satunya sediaan antiflu yang aku ingin kembangkan.

Kembali ke daftar obat tradisional yang harus dikembangkan menjadi fitofarmaka, aku merasa ada yang kurang. Justru ini yang paling penting, tanaman apa yang berkhasiat untuk penyakit-penyakit itu? Harusnya ini juga disampaikan dalam kebijakan itu. Atau akupun berpikir. Jamu kan berasal dari kearifan local masyarakat Indonesia. Masyarakat mengonsumsi jamu tertentu untuk mengobati penyakit tertentu karena pengalamannya. Bukankah saintifikasi jamu bertujuan untuk membuktikan apa yang biasa dipakai oleh masyarakat itu berkhasiat? Dengan pendekatan purifarmakologi (yeyyy, promosi lagi. Padahal belum dikembangin.hehehe-red), kita bisa melakukan penelitian ini. Kita lihat profil tanamannya, lihat profil penyakit dan tata laksana terapinya seperti apa, kita lakukan pendekatan penelitian yang paling logis untuk dijadikan landasan dalam riset pengembangan fitofarmaka. Ketika standard (dalam pengertian saya, standard disini adalah dosis), sudah ditemukan, simplisia manapun nantinya bisa digunakan untuk membuat sediaan yang memiliki khasiat sebagai obat penyakit tertentu. Perbedaan nanti hanya terlihat dari kualitasnya gitu.

So, this is about my opinion.  Jikalau ideku ini benar-benar terwujud dimana praktikum analisis jamu dan jaminan kualitas bahan baku herbal seperti apa (aku sempat berpikir untuk menggabungkan jumlah jam mata kedua praktikum ini), kalian tahu harus menyalahkan siapa.whahahaha..#devil_laugh.

Sekilas lagi cuplikan proposal PIMFI ku yang lalu. Ini skema standardisasi menurut Nishaa.

 

 

Untuk skema yang kiri itu aku dapatkan dari paper professor Robert Bauer, yang berjudul Quality Criteria and Standardization of Phytopharmaceuticals : Can Acceptable Drug Standards be Achieved?”.

Mungkin aku dibilang nekat berani menentang professor Jerman, akan tetapi aku tetap merasa ada yang salah dengan konsep ini. Meskipun ada beberapa yang aku sepakati, misalnya macam-macam marker dan aplikasinya, normalisasi ekstrak, dan parameter serta faktor yang memengaruhi kualitas ekstrak, aku menyepakati hal itu. Namun, aku tetap melihat ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu pembuktian efikasi dan zat aktif yang terkandung di dalamnya serta mekanisme aksi farmakologisnya dalam terapi seperti apa. Ini yang lebih dibutuhkan para tenaga kesehatan jikalau jamu, OHT, dan Fitofarmaka benar-benar ingin digunakan dalam system pelayanan  kesehatan bangsa Indonesia. Jamu tetap eksis, Fitofarmaka go International (jadi komoditas ekspor) dimana fitofarmaka jadi ciri khas Indonesia dan hanya dokter-apoteker Indonesia yang boleh memasarkannya. Dimana ada Fitofarmaka, di sana ada dokter dan apoteker Indonesia yang siap memberikan Pharmaceutical Care yang sesuai karakter pribadi orang Indonesia yang ramah. Ini impianku. Can we make it real, this dream, TOGETHER?

 Masih ada skema lanjutan dari konsep standardisasi yang aku ajukan ini. Tunggu KCAB selanjutnya yaa..:)

SEBUAH PREJUDGING: Apa Kabar

  • Posted on August 7, 2013 at 6:35 am

SEBUAH PREJUDGING: Apa Kabar

Apa kabar, bangsa yang katanya menjunjung tinggi hukum dalam pemerintahannya? Mengapa hukum sekarang yang diperintah, bukan pemerintah yang dihukum?

Apa kabar, bangsa yang janjinya mencerdaskan kehidupan bangsa? Mengapa yang terjadi saat ini adalah pengkarakteran pendidikan sesuai kehendak dan budget Negara, bukan pendidikan yang menghasilkan generasi yang berkarakter?

Apa kabar, bangsa yang katanya pererkonomian disusun berdasarkan atas asas kekeluargaan? Mengapa bisnis dan ekonomi saat ini hanya dikuasai oleh oknum-oknum tertentu, bukan ekonomi yang menguasai oknum itu hingga mereka bertekuk lutut menyerah dan menyerahkan semua kemakmuran untuk rakyat?

Apa kabar, banga yang katanya bumi, air, dan kekayaan alam lainnya yang dikelola untuk sebenar-benarnya kemakmuran rakyat? Mengapa kita menjadi ladang bagi tuan kita, bukan tuan bagi ladang kita sendiri? Bukankah kita bangsa yang besar dan kaya? Untuk apa semua pulau, tanah, air, udara, cahaya matahari, ikan-ikan di laut, ragam tanaman di dalamnya?

Apa kabar, bangsa yang katanya ikut menciptakan perdamaian dunia? Mengapa ingin mendamaikan dunia jika diri sendiri saja belum bisa berdamai?

Apa kabar, bangsa yang menjamin kesehatan rakyatnya? Apakah kesehatan sudah terbagi merata ke seluruh pelosok desa, pedalaman hingga ke sudut batas-batas terakhir bangsa ini?

Apa kabar, bangsa yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat? Mengapa semakin banyak orang yang berbicara/berpendapat tanpa disertai dasar? Kemana ilmu-ilmu mereka selama ini?

Apa kabar, bangsa yang menjunjung tinggi keamanan dan ketertiban? Mengapa kulihat budaya antre disalahgunakan oleh orang-orang yang punya kedudukan, harta, dan kekuasaan yang tinggi. Bukankah mereka juga warga Negara? Di mana letak keadilannya?

Rakyat sudah letih, bahkan mungkin tidak peduli. Ada tidak adanya bangsa ini, mungkin sama saja.

Apakah bangsa ini akan tetap ada tahun depan? Untuk apa pesta demokrasi 2014 ada jika hanya untuk bersaing menduduki kekuasaan? Belang-belang itu sudah tampak, rakyat sudah cerdas karena adanya teknologi, mengapa dosa masih ditutupi? Pencitraan. Haahhhh, aku bosan dengan kata itu. Aku memang tidak mengenal kalian,

Aku hanyalah mahasiswa yang sok idealis,

Aku hanya mengamati, karena aku hanya mengamati.

Tapi setidaknya aku menuliskannya. Aku membagikannya. Entah orang setuju atau tidak.

Apakah bangsa ini akan tetap ada pada tahun 2014? Who knows? Semoga ALLAH mengembalikan hati kita kembali fitri.

Ketika (calon) Apoteker Berbicara Terorisme

  • Posted on August 6, 2013 at 6:13 am

Bismillah, selamat pagi rekan-rekan pelanggan setia rubrik KCAB (Ketika Cinta [akan] Bertasbih.wkwkwkwk)

Assalamu’alaykum wr.wb.

Sudah membaca judul di atas? Hayooo, yang belum coba dibaca lagi ya..Jadi, hari ini ceritanya saya ingin berbicara mengenai terorisme. Wooooo, judulnya serem. Apa alasan saya memilih judul ini? Hmmmmm…karena sudah lama tidak nonton tipi, akhirnya bisa nonton tipi lagi dan langsung dikejutkan adanya ledakan bom di Wihara Ekayana, tempat peribadatan umat Budha di Jakarta. Bulan Ramadlan yang seharusnya bulan yang damai dan penuh kasih sayang ini harus ‘ternodai’ (duh bahasanya,hahaha) oleh berita ini. Berkah ramadlan nya hilang lho nanti. Dari berita (entah benar atau tidak sumbernya, berita tidak ada yang bisa dipercaya 100% sekarang. Pre-Judging.-red), Ledakan di wihara ini terjadi 3 kali. Untungnya ledakan terjadi ketika tidak sedang dilaksanakan kegiatan ibadah di sana. Bisa dibayangkan kan jikalau orang lagi beribadah lalu ada bom meledak, sungguh jalan kematian yang tidak diinginkan. Berbicara tentang kematian, semua orang ingin mati yang baik kan? Jalankan saja perintah agama dan jauhi larangan yang sudah ditetapkan agama. It’s a simple thing, right? Hanya saja, termasuk saya karena saya juga hanya manusia biasa yang tak sempurna dan kadang ada salah (Upppsss…Yovie and Friends keluar deh.-red), kita masih tergoda dengan indahnya bersuka cita di dunia ini, yang tanpa kita sadari telah membutakan mata kita pada dunia yang lebih indah nanti. Do you believe that? I believe…I believe…I believe…in You (Sekarang malah Il Divo, maklum mantan personil PSM FARMASI UGM.hehehehe)

Tuh kan, kebiasaan ngelantur ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, sak tenane aku ora ngapusi.. Ngomongin apa tadi? Terorisme ya? Eh kematian ding? Hmmmm..kenapa sih ada terorisme? Apa sih terorisme itu?

Sebelum melangkah jauh kesana, aku ingin bercerita mundur sedikit ke masa-masa SD dan SMP saya dulu. Satu mata pelajaran yang amat saya senangi adalah PKN, PPKN, Kewarganegaraan deh dulu namanya. Kurikulum yang berubah-ubah harus mengakibatkan nama pelajarannya berubah. Yang penting esensinya nggak sih Nis, ilmunya, bukan namanya.| Tapi kan nama memengaruhi maknanya. #plak.

Aku jadi ingat dulu aku suka menghafal pasal-pasal dan pembukaan UUD 1945, nggak tahu kenapa bagus aja gitu. Pasal-pasal yang membahas tentang Kepribadian dan Budi Pekerti Luhur (Jadi ingat dulu pas SMP jadi anggota OSIS Sie ini dan hanya aktif di awal. Huhuhuhu), HAM, Pemerintahan, dan Perubahan Konstitusi Negara (Hayooo, inget nggak pasal berapa yang membahas tentang ini?). karena temanya tentang terorisme, aku rasa ini ada hubungannya dengan kehidupan beragama kita yang mana sudah diatur dalam undang-undang dimana tiap warga Negara sudah diberi kebebasan untuk memeluk dan menjalankan peribadatannya sesuai agama dan keyakinannya masing-masing (saya lupa redaksinya, tapi aku ingat ini pasal 29 ayat 1 UUD 1945). Negara sudah menjamin tiap agama boleh berkembang di Indonesia, selama memenuhi koridor Pancasila yang mengakui adanya Tuhan. Lalu, kenapa sampai saat ini kita masih melihat adanya konflik antar umat beragama atau bahkan intern umat beragama itu sendiri?

Kalo kubilang sih, orang kayak Sadam nggak usah dilawan (Malah Petualangan Sherina lagi). Masih ingat nggak kawan dengan Tri Kerukunan Hidup Beragama?  Yang sudah lupa atau mulai lupa, mari saya ingatkan lagi.

Tri Kerukunan Hidup Beragama

  1. Kerukunan Intern Umat Beragama
  2. Kerukunan Antar Umat Beragama
  3. Kerukunan Antara Umat Beragama dengan Pemerintah, Masyarakat, dan Umat Beragama Lainnya. (Bener nggak ya? Aaaa..aku lupa…pokoknya dulu nomor 2 dan 3 sering kebalik, antar dan antara. Mohon diluruskan ya pembaca.:) )

Kerukunan bermula dari lingkungan intern agama itu sendiri. Apalagi ini bulan Ramadlan, mari hidup rukun dalam menuju kemenangan. Karena itulah mengapa kita disuruh mencintai diri kita sendiri, sebelum mencintai orang lain. Hal ini menunjukkan ketika kita mencintai diri kita sendiri dulu, kita sudah berdamai dengan diri kita sendiri, sehingga orang lain akan nyaman dengan kita. Bagaimana denganmu Nis? Aaa, itu ranah topik yang berbeda. Biar saya dan Allah saja yang tahu ya.hihihihi

Setelah antar umat beragama rukun, selanjutnya kita harus rukun dengan pemerintah. Kenapa? Karena mau tidak mau pemerintah adalah pemimpin kita yang sudah menjamin kebebasan kita dalam beragama. Di sini kita bisa melihat adanya interaksi yang bersifat timbal balik antara masyarakat dengan pemerintah. Ketika pemerintah membuat kebijakan yang dirasa tidak adil untuk satu agama tertentu, masyarakat boleh langsung tindak tegas ke pemerintah dengan mengkritisinya. Justru pemerintah akan senang mengingat politik di Negara kita kan Politik Bebas Aktif. Nah, bebasnya udah sekarang tinggal aktifnya. Aktif gimana maksudnya? Ketika seseorang mengkritisi sesuatu, mereka harus punya dasarnya dan juga bisa memberikan solusi dari apa yang dia kritisi tadi. Di sinilah kita butuh pemikiran yang kreatif. Siapa yang merasa dirinya kreatif? Woooo…banyak..aku tantang ya. Jawab dalam 5 detik. Apa yang ada di dalam benak Anda ketika Anda membaca kataaaaa…..UANG? Jengjeng..kalo yang ada di bayangan Anda muncul 1000, 2000, 10000, itu normative. Tapi jika Anda sudah membayangkan buku baru, bisnis yang sukses, atau cara mencari uang, Anda sudah masuk kategori kreatif.yeeeyyyy..Tepuk tangan..hihihihi

Berpikir Kritis dan Kreatif. Kritis dalam mencari akar permasalahannya dan kreatif dalam mencari solusi permasalahannya. Jangan sampai yang terjadi adalah Lempar Batu Sembunyi Tangan, yang ada nanti Sudah Jatuh Tertimpa Tangga pula.

Kembali ke topic awal. Terorisme. Dari kata teror dan akhiran -isme. Teror adalah tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk menakut-nakuti, menganiaya, atau membuat kondisi yang mengancam dan -isme berarti paham/aliran. Jadi, secara terminologi, dia berarti aliran/paham yang ingin membuat lingkungan atau kondisi yang mengancam kehidupan orang lain. Setahu saya, membuat orang lain merasa terancam itu ada banyak bentuknya. Ada yang disebut dengan istilah teror fisik. Tapi, tahu nggak sih kawan ada bentuk terror yang lebih kejam dibandingkan terror fisik? Yaitu Teror Mental (Judul buku yang kubaca waktu SMP dulu karya Putu Wijaya kalo nggak salah. Covernya hitam dengan sketsa berwarna ungu yang menggambarkan seseorang sedang membaca puisi. Bacaanku emang serem serem waktu kecil. Sampai sekarang juga masih bersentuhan dengan psikologi. Besok aku ceritain deh 1 topik tentang psikologis dan prospek kerja yang mereka miliki)

Teror mental berarti upaya untuk membuat seseorang merasa terancam ‘jiwanya’. Jiwa dalam artian mental/psikisnya. Ini justru lebih berbahaya, bukan? Ketika mental seseorang terancam, dia tidak akan bisa melakukan apapun. Ingat prinsip Men Sana in Corpore Sano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula. Pertanyaan terakhir lomba dokter kecil dulu dan aku juara 2 karena kuat secara teori praktik dokternya. That’s why Long time ago, I wanted to be a doctor like Patch Adam.

Lalu, bagaimana teror mental dapat terjadi? Jadi ingat juga kemarin malam nonton tipi dan mendengar ucapan Kepala BNN bahwa Terorisme memang bahaya, Narkoba lebih berbahaya. Are you serious, Sir?

Hmmmm..dari sudut kacamata saya sebagai (calon) apoteker, memang benar jika narkoba justru yang menjadi teror yang paling berbahaya. Kenapa? Karena itu tadi, teror mental. Narkoba itu ketika digunakan secara terus-menerus akan mengakibatkan seseorang mengalami kondisi sakau dan ketergantungan. Ketika mereka tidak mengonsumsi barang 1 tablet aja, mereka akan langsung histeris. Karena dalam narkoba itu ada kenikmatan semu akibat kandungan zat aktif yang ada di dalamnya. Padahal, obat-obatan dengan kandungan zat aktif ini boleh digunakan di bawah pengawasan dokter dan apoteker. Hal ini dibuktikan dengan adanya aturan bahwa obat-obatan psikotropika dan narkoba hanya boleh dilayani apoteker dengan resep dokter. Dan ini pun masih harus dikonfirmasi ulang ke dokter, apakah memang meresepkan penggunaan psikotropika dan narkoba pada pasien yang bersangkutan. Ini saya bicara idealnya, karena saya orangnya idealis. Tapi realita berbicara lain sih. Yaaa, kita sedang dalam proses menuju kesana, yakini itu. 🙂

Lalu, Kepala BNN berkata bahwa saat ini pecandu narkoba di Indonesia sudah mencapai 4 juta orang/tahun. Sementara sarana rehabilitasi yang dimiliki hanya mampu menampung 18.000 orang/hari. Aku jadi berpikir ini bakal jadi peluang kerja apoteker yang baru nih, bisa pada ranah deteksi narkoba dan simplisianya, bisa pada ranah layanan konseling pecandu narkobanya juga.hohohoho). Beliau menyampaikan upaya untuk mengurangi penggunaan narkoba seharusnya tidak hanya dari pemerintah dalam hal ini BNN ya. Perlu peran aktif semua elemen untuk menanggulangi narkoba ini. Beliau memberikan contoh, seharusnya bisa dari pabrik-pabrik obat juga membangun panti rehabilitasi para pecandu narkoba. Aku setuju dengan pernyataan beliau yang ini. Mengapa? Pabrik obat karena kita bicara narkoba/narkotika/psikotropika, berarti kita menyorot 1 pabrik, yaitu PT. Kimia Farma yang ditunjuk oleh pemerintah menjadi regulator utama dalam persebaran narkotika di Indonesia. Adanya panti rehabilitasi ini bisa menjadi salah satu bentuk pertanggungjawaban pihak industry atas peredaran obat yang mereka lakukan. Dan disana nanti yang bekerja adalah apoteker karena bicara obat, bicara apoteker. Saya belum masuk kriteria, karena masih calon.hehehehe

Sebenarnya tidak hanya PT. Kimia Farma, alangkah lebih baiknya jika setiap pabrik obat yang ada di Indonesia memiliki 1 panti rehabilitasi ataupun panti pelayanan kesehatan dan obat untuk masyarakat. Sebagai bentuk pertanggungjawaban tadi. Apalagi, saat ini masyarakat Indonesia makin cerdas dan kreatif, apa-apa saja bisa lho dijadikan narkoba. Dari obat batuk kodein misalnya. Kok bisa ya bikin fly? Kalo apoteker yang bicara, tentu bisa. Karena kodein adalah turunan dari morfin. Morfin atau opium ya? Aduh, tulisan ini tidak layak dipercaya, berarti aku belum memenuhi kriteria output yang ingin dihasilkan dalam PPSMB nanti, dapat dipercaya.huhuhuhuhu..Ya sudah, mari belajar.

Sekian celotehan saya untuk pagi ini, semoga bermanfaat. Akhirul kalam,

Wassalamu’alaykum wr.wb.

 Annyeong, 🙂

-Tahukah Kamu? #2-

  • Posted on August 3, 2013 at 5:38 am

-Tahukah Kamu-

31 Juli 2013 kemarin KPK bersama 12 kementerian berkumpul untuk menandatangani Implementasi Nota Kesepakatan Bersama tentang Percepatan Pengukuhan Kawasan Hutan. Menurut KPK, ada 4 sektor yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pembangunan bangsa, yaitu sector hutan, pangan, migas, dan pendapatan Negara. Bagaimana dengan politik? Hal yang sudah disepakati adalah Harmonisasi Regulasi Hutan, Penyelarasan Teknis dan Prosedur serta resolusi konflik berupa rencana aksi, alat monitoring dan evaluasi yang bisa digunakan masing-masing kementerian. Sumber : @KPK_RI
Kementerian apa ya yang terkait? Seperti ilmu pohon, buah yang dihasilkan tergantung dari akarnya. Ketika akarnya kokoh, batang dan daun yang tumbuh akan kokoh dan lebat dan buah yang dihasilkan juga lebih enak. Dan perlu diingat juga, pohon tumbuh di tanah, dia butuh unsur hara dan air, juga matahari sebagai sumber energi. Ada siklus dalam kehidupannya mulai dari tumbuh hingga berbuah. Pohon yang tumbuh pun bermacam-macam, tergantung iklim dan kawasannya, seperti Indonesia yang kaya akan hutan hujan tropis. Atau kini tinggal hujan tropis aja ya?? Who Knows? #SaveForestIndonesia

-Dunia Taru the Series, Episode Tatar Belajar Bahasa-

  • Posted on August 2, 2013 at 6:49 am

Episode Tatar Belajar Bahasa

Sore itu Tatar dan Bapak baru saja pulang dari kegiatan rutinitasnya, bersepeda. Dan begitu sampai di rumah, Tatar langsung mencari mamanya.

“Mamaaaaaaaaaaaaaaaaaa”

“Heeeeee, pulang-pulang kok langsung teriak gitu? Yang benernya gimana hayoo Tatar?”

“Hehehe..Assalamu’alaykum, Bunda cantik.”
“Wa’alaykumsalam warohmatullah. Siapa yang ngajarin Tatar mulai ngegombal gitu.”

“Itu, yang baru markirin sepeda di luar.”

Dan Bapak masuk ke dalam, “Hei…Kok Bapak dipanggil itu. Kan bapak punya nama” Bapak mencubit halus hidung Tatar. Dan hidung Tatar pun memerah.

“Duh, sakit Bapak. Ma, tahu nggak?”

“Ya engga, kan Tatar belum cerita.”

“Hehehehehe..Iya juga ya..Ada kejadian lucu Ma tadi. Kan Tatar sama Bapak sepedaan keliling desa, nah tadi tuh ada kucing di pinggir jalan, kayaknya kakinya terkilir gitu. Tatar turun duluan dan langsung nolongin kucing tadi. Bapak pas mau turun malah ketemu bule-bule ganteng banget, terus malah ngobrol. Nah, pas aku mau ngedeketin kucing, kucingnya malah manjat ke pohon. Aku ikutin kucingnya, jadinya aku manjat. Tapi aku jatuh, nih lukanya..” Tatar menunjukkan luka di lututnya.

“Ooohh, sakit ya Tatar. Nanti diobati dulu ya. Terus kucingnya gimana? Dah bisa turun?”

“Nah, lucunya itu mah. Aku dah jatuh, bapak sama bulenya datang lari-lari gitu. Waktu bapak ngelihat Tatar, bulenya langsung gendong Tatar gitu di punggungnya.. Kan Tatar Cuma lecet, dan kucingnya malah jatuh. Langsung dibawa bapak pulang. Tuh kucingnya.”

“Kucingnya dimana Pak? Kok bisa sih bulenya gitu?”

“Dia masih di luar kok. Tenang Ma. Kayaknya Bapak salah ucap bahasa Inggrisnya deh. Waktu Tatar jatuh, Bapak ngajak bule itu buat pergi bareng ke tempat Tatar, Let’s go together. Eh, pas di lokasi, malah langsung gendong Tatar. Apa kedengerannya let’s go to get her ya?”

“Oalah, bapak ini..hahahaha”

“Mama kok ketawa? Bapak bicara bahasa Inggris kan keren Ma. Malah mama ketawain, Mama jahat.”

“Engga Tatar, Mama nggak jahat. Tapi lucu aja gitu kalo itu benar-benar terjadi”.

“Terjadi gimana maksudnya, Ma?”
“Tatar, Bahasa itu kita bicara kata, kata akan menyusun frase-frase yang pada akhirnya membentuk kalimat yang bermakna. Kata itu juga memiliki fungsi yang berbeda-beda, tergantung situasi, kondisi, dan lokasi di mana dia berada…”

“kayak air dong ma, fleksibel” Bapak menyela seperti biasa.

“Iya, kayak air yang memberi kehidupan. Nah, selain dilihat dari makna kata itu sendiri, kata juga berbeda maknanya ketika diucapkan dengan nada yang berbeda. Kayak yang dialami Bapak tadi, penekanan ucapannya dimana akan memengaruhi makna dari suatu kalimat”.

“Wah, Mama keren. Kok Mama tahu sih tentang bahasa sampai segitunya gitu lho?”

 “Istri siapa dulu, Bapak…”

“Ya udah, sekarang Tatar mandi dulu. Terus iap-siap sholat Maghrib ya.”

“Oke, Mama..Bapak, kucingnya mandi bareng Tatar aja. Biar bareng sekalian.”

“Engga boleh, belum mahrom. Kucingnya jantan Tatar”

”Bapak, jangan bawa kucing masuk.” Mama mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi yang tersirat.

17 Ramadlan 1434 H

  • Posted on July 26, 2013 at 12:12 am

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarokatuh..

malam ini saya ingin mengucapkan jazakallah khairon katsiron untuk rekan-rekan RDK UGM 1434 H untuk acara malam ini yang sungguh menginspirasi. Insya ALLAH. Semoga menjadi satu amalan yang mengantarkan kita dan kalian semua menuju jannah-Nya.

Menjadi satu awal untuk optimisme bahwa kita bisa berubah, sesuai tema yang diangkat “Semangat untuk Perubahan”.

Jadi ingat pertanyaan 1 kenalanku malam ini,
“Apakah dengan ideologi kita saat ini (Pancasila) sudah mampu mendukung dalam menciptakan kemandirian bangsa?”

Hmmmmm..aku rasa aku ingin menjawabnya dengan gagasan yang aku ajukan dalam PIMFI UNTAN 2013 yang lalu di mana tema utama yang kuangkat adalah bagaimana kita merealisasikan gagasan/cita-cita yang dikandung Pancasila. Karena kita tahu, Pancasila itu abstrak dan terealisasikan menurut apa yang kamu pahami darinya. Itu.

Semangat malam dan belajar, calon intelektual bangsa.:)

Obrolan (Berat) di Pagi Hari

  • Posted on July 21, 2013 at 6:41 am

A: “Indonesia itu ibaratnya sedang ada di zaman jahilliyah dulu, hukumnya bisa dibeli, ekonomi pada korupsi, moral nggak karuan, blablablabla…”
B: “Dari tarawih semalem dapat info lho kalo Al Qur’an itu memang petunjuk yang paling lengkap. Semua permasalahan ada solusinya disana. Cuma sekarang tuh kudu diurutin berdasarkan waktu turunnya.”
B: ” Iya ya, kenapa dulu penyusunan AlQur’an nggak berdasarkan urutan turunnya aja?”
A: “Karena kan waktu itu turunnya disesuaikan apa yang dihadapi Rasullulah SAW waktu itu, di masa jahilliyah dulu. Nggak tahu juga sih dulu pertimbangan penyusunannya kayak sekarang kenapa seperti itu”
B: “Apa kita urutin aja ya biar kita tahu posisi kita sekarang di masa yang mana,hohoho.”
A: “Emang apa yang pertama turun?”
B: “Membaca”.
A: “Membaca apa”?
B: “Seperti kata bang Tere, bacalah tidak hanya buku, ilmu tidak hanya dari buku,
atau buka aja blognya khairu nishaa, ada serial kakek dan aku di sana.hehehehehe”

Semangat pagi, MARI PELAJARI ALQUR’AN..
(Duh, bata-bata masih dalam penyusunan membentuk puzzle)